Aku Ini, Jangan Takut

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari berbagai badai atau angin sakal kehidupan. Dan Tuhan tidak pernah terlambat menghampiri kita. Namun, terkadang kita manusia lah yang tidak merasakan kehadiran-Nya. Tuhan selalu hadir, mendekati kita, tetapi justru kitalah yang menjauh dari-Nya dengan keraguan kita.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 14: 22 – 36, yakni Yesus berjalan di atas air. Para saudaraku, malam gelap di Danau Galilea, perahu murid-murid terombang-ambing diterjang badai. Mereka kelelahan, putus asa, dan merasa sendirian. Namun Yesus melihat mereka. Ia menunggu saat ketika manusia sadar bahwa kekuatan sendiri tak cukup, saat iman lebih dibutuhkan daripada sekadar dayung.Yesus datang bukan dengan cara biasa, melainkan berjalan di atas ombak, di atas masalah itu sendiri. Namun para murid justru panik, mengira Dia hantu. Lalu terdengarlah suara yang menembus pekat malam: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Kata “Aku ini” (Ego Eimi) adalah sapaan Allah sendiri: AKU ADA. Yesus hadir bukan sebagai penolong sementara, melainkan Sang Pemilik Waktu. Ia datang tepat di saat tergelap, bukan terlambat, melainkan paling tepat. Petrus sempat berjalan di atas air, tetapi tenggelam ketika matanya beralih dari Yesus ke ombak. Ia jatuh bukan karena badai terlalu besar, melainkan karena ragu lebih kuat daripada percaya. Teguran Yesus, “Mengapa engkau bimbang?” adalah teguran bagi kita semua. Di zaman modern, kita sering menjadi “Petrus digital”: lebih percaya pada data, analisis, dan opini publik daripada pada suara Tuhan. Ketika badai hidup datang: PHK, krisis keluarga, sakit, kita panik, meragukan kehadiran-Nya. Padahal badai bukan untuk menenggelamkan, melainkan untuk menguji di mana kita menambatkan iman.Yesus tidak pernah terlambat. Ia hadir di tengah badai, masuk ke perahu kita, dan memberi damai. Keterlambatan di mata manusia adalah kesempurnaan di mata kekekalan.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, jangan hitung besarnya ombak, hitunglah kedekatan Tuhan. Ia berjalan di atas setiap gelombang kecemasanmu. Saat engkau ragu, tangan-Nya tetap terulur. Percayalah: badai akan reda, dan pelangi keselamatan akan tampak. Iman bukan berarti bebas dari badai, tetapi yakin bahwa di tengah badai, Yesus berkata: “Aku ini. Jangan takut.” Renungan ini bisa menjadi bahan refleksi mendalam bagi kita manusia modern yang serba rasional, agar kembali menyadari bahwa bukti terbesar bukanlah data, melainkan kehadiran Allah yang nyata dalam hidup.

Pertanyaan Refleksi

1. Dalam badai hidup yang saya alami, apakah saya lebih fokus pada besarnya masalah atau pada kehadiran Tuhan yang berjalan di atas masalah itu?
2. Seperti Petrus, kapan saya mulai tenggelam karena lebih melihat ombak daripada memandang Yesus? Apa yang membuat saya mudah bimbang?
3. Di dunia yang menuntut bukti kasat mata, bagaimana saya belajar mengenali tanda kehadiran Tuhan yang sering datang dengan cara tak terduga?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, di tengah badai hidup, Engkau bersabda: “Aku ini, jangan takut.” Ajarilah kami menatap-Mu lebih daripada ombak, percaya lebih daripada ragu. Teguhkan iman kami, agar di setiap gelombang kami menemukan damai bersama-Mu. Amin.