Alumni Brawijaya Golf Peduli Flores, Dorong Penyintas Gempa Bangkit Lewat Ternak Bergulir

EXPONTT.COM, MBAY – Kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa Flores terus berdatangan. Kali ini, Alumni Brawijaya University Golf (ABG) ikut mendorong pemulihan penyintas gempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui bantuan yang tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif.

Melalui program Modal Usaha Ekonomi Produktif, ABG memperkenalkan model bantuan ternak kambing bergulir. Bantuan ini dirancang agar aset yang diberikan dapat berkembang dan manfaatnya diteruskan kepada penyintas lainnya.

Pada tahap awal, ABG menyiapkan dua paket ternak kambing. Masing-masing paket terdiri dari satu ekor kambing jantan dan empat ekor kambing betina.

Ternak tersebut diberikan kepada penyintas untuk dipelihara dan dikembangbiakkan selama dua kali periode beranak atau sekitar 14 hingga 18 bulan. Setelah itu, bibit ternak diarahkan untuk digulirkan kepada penerima manfaat berikutnya.

Dengan pola tersebut, bantuan diharapkan tidak berhenti pada satu keluarga, tetapi berkembang menjadi rantai manfaat ekonomi bagi lebih banyak penyintas.

“Prinsipnya bukan hanya memberikan bantuan untuk hari ini, tetapi memberikan modal yang bisa berkembang dan kemudian diwariskan manfaatnya kepada penyintas yang lain,” ujar perwakilan ABG, Ustadz Asrul Tsani, di Mbay, Rabu, 24 September 2025.

Dua Lokasi Jadi Percontohan

Asrul menjelaskan, dua paket ternak kambing tersebut untuk tahap perdana ditempatkan di Maki Paket, Kelurahan Mbay 2, Kecamatan Aesesa, dan Ndora, Kecamatan Nangaroro.

Kedua lokasi tersebut menjadi proyek percontohan untuk melihat efektivitas mekanisme ternak bergulir sebelum dikembangkan ke wilayah penyintas lainnya.

Selain ternak kambing, ABG juga memberikan satu paket usaha produktif kepada pelaku UMKM cemilan dan kuliner di Mbay.

Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi masyarakat melalui usaha mikro berbasis potensi lokal.

Dengan demikian, ABG mengembangkan dua jalur pemulihan ekonomi, yakni ternak sebagai aset produktif jangka menengah dan UMKM kuliner sebagai usaha yang dapat menggerakkan ekonomi harian.

Dipadukan dengan Layanan Kesehatan dan Sembako

Program ekonomi produktif tersebut merupakan bagian dari rangkaian misi kemanusiaan ABG di wilayah terdampak gempa Flores.

Kegiatan ABG juga mencakup pelayanan kesehatan melalui Mobile Clinic/EMT Tipe-1 berbasis mobil serta distribusi sekitar 200 paket sembako kepada masyarakat terdampak, khususnya di Kabupaten Nagekeo.

Tim kemanusiaan ABG telah mengunjungi sejumlah wilayah, antara lain Makipaket, Nggolonio, Mbay II, Maropokot, Ngaradearo, Waekokak, serta sejumlah kelurahan dan dusun di sekitar Kota Mbay.

“Kunjungan ini dilakukan agar kita bisa melihat secara langsung kondisi masyarakat setelah fase tanggap darurat sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang mulai bergeser dari bantuan darurat menuju pemulihan dan pemberdayaan,” jelas Asrul.

Kegiatan kemanusiaan tersebut dimotori Dr. dr. Lucky Tjahjono, MKes, relawan kemanusiaan sekaligus Alumni FKUB 1980.

Menurut ABG, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan dan pelayanan kesehatan mulai terpenuhi, masyarakat terdampak bencana membutuhkan dukungan untuk kembali membangun kehidupan ekonomi mereka.

Karena itu, bantuan secara bertahap perlu diarahkan dari fase tanggap darurat menuju pemulihan, pemberdayaan hingga kemandirian.

Pendekatan ini menempatkan penyintas bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pihak yang mengelola dan mengembangkan aset produktif.

Bantuan Kecil, Manfaat Diharapkan Bergulir

Asrul menegaskan, dua paket kambing yang diberikan pada tahap awal bukan ditujukan sebagai program besar dari sisi jumlah, melainkan sebagai model percontohan.

“Ini langkah awal. Apabila mekanisme perguliran berjalan baik, program tersebut dapat dikembangkan melalui dukungan masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, alumni maupun para dermawan,” katanya.

Ia menjelaskan, mekanismenya sederhana. Satu paket ternak dikembangkan, kemudian sebagian bibitnya digulirkan kepada penerima baru untuk dikembangkan kembali.

“Model yang diterapkan sederhana, yakni satu paket ternak berkembang, kemudian digulirkan dan diberikan kepada penerima baru untuk dikembangkan kembali,” terang Asrul yang juga pimpinan Panti Asuhan Umar Bin Khattab Mbay.

Dengan mekanisme tersebut, satu bantuan awal diharapkan mampu menciptakan efek pengganda dan memberikan manfaat kepada lebih banyak keluarga penyintas.

ABG juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak yang ingin mendukung pemulihan masyarakat Flores. Dukungan tidak harus selalu dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi dapat diwujudkan melalui penyediaan aset produktif yang berkembang dan kemudian digulirkan kepada penerima manfaat lainnya.

Sebab, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga membangun kembali kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat.

Melalui program tersebut, Alumni Brawijaya Golf membawa pesan: “Dari Kepedulian Menjadi Kemandirian.”(*)