Bukan Soal Jabatan, Tetapi Soal Hati

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap manusia siapapun dia, pasti memiliki cita-cita atau pun ambisi. Namun, yang perlu disadari adalah harus selalu rendah HATI.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 9: 46 – 50, yakni siapa yang terbesar di antara para murid. Para saudaraku, para murid berdebat siapa yang terbesar, padahal Yesus baru saja berbicara tentang salib. Ironis: Yesus menuju pengorbanan, mereka sibuk memikirkan takhta. Yesus lalu mengambil seorang anak kecil simbol ketidakberdayaan dan menjadikannya ukuran kebesaran sejati. Bukan kuasa, melainkan kerendahan HATI. Di dunia modern, ukuran kebesaran sering ditentukan oleh jabatan, gelar, jumlah pengikut, atau pengaruh. Bahkan dalam pelayanan, kita bisa terjebak pada ambisi: ingin dihormati, ingin diakui. Namun Yesus membalikkan logika itu: “Siapa yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Kebesaran bukan soal naik ke atas, melainkan turun ke bawah untuk melayani. Yesus memberi teladan nyata. Ia adalah Guru, tetapi membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia adalah Tuhan, tetapi mengambil peran hamba. Ia adalah Raja, tetapi lahir di kandang dan mati di kayu salib. Kepemimpinan sejati bukan soal JABATAN, melainkan soal HATI yang rela memberi diri. Hari ini, kita diajak bercermin: mengapa kita memimpin? Apakah karena AMBISI, atau karena KASIH? Jabatan bisa diberikan manusia, tetapi HATI hanya Tuhan yang menilai. Dunia mengukur kebesaran dari berapa banyak orang melayani kita; Yesus mengukur kebesaran dari berapa banyak kita melayani orang lain.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, menjadi pemimpin adalah amanah. Kursi kepemimpinan bukanlah takhta untuk berkuasa, melainkan meja untuk melayani. Yesus tidak duduk di singgasana duniawi, Ia justru berlutut membasuh kaki murid-murid-Nya, bahkan kaki Yudas yang mengkhianati-Nya. Maka jangan bertanya: “Seberapa tinggi jabatanku?”
Tetapi bertanyalah: “Seberapa dalam hatiku mau melayani?” Jangan mengejar kuasa, kejarlah KASIH.
Jangan mengejar takhta, kejarlah HATI yang berlutut.
Karena menjadi PEMIMPIN sejati bukan soal JABATAN, tetapi soal HATI.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya memimpin karena ingin dihormati, atau karena sungguh ingin melayani dengan hati yang rendah?
2. Sudahkah saya meneladani Yesus yang rela turun membasuh kaki murid-murid-Nya, melayani tanpa pamrih bahkan mereka yang mengkhianati-Nya?
3. Apakah ukuran kebesaran saya masih ditentukan oleh jabatan dan kuasa, atau oleh KASIH dan kerendahan HATI dalam memberi diri bagi sesama?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Engkau datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Ajarlah kami memiliki HATI seorang hamba, yang rela turun, memberi diri, dan melayani dengan KASIH. Lepaskan kami dari ambisi jabatan dan kuasa, agar kami memimpin dengan kerendahan HATI, seperti Engkau yang membasuh kaki murid-murid-Mu. Jadikan HATI kami serupa dengan hati-Mu HATI yang siap melayani, bukan mencari kehormatan. Amin.