EXPONTT.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan melaksanakan Program Intervensi Pembangunan Ekonomi Masyarakat di Desa Tunbes, Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), melalui program Dasa Cita.
Program tersebut merupakan bagian dari program Dasa Cita Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam visi “Ayo Bangun NTT”, yang menyasar desa-desa tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Intervensi diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan dan produktivitas masyarakat, khususnya kelompok penenun, petani, pelaku UMKM serta kelompok usaha ekonomi produktif.
Selain sektor ekonomi, program ini juga diharapkan berdampak pada sektor lainnya, termasuk perbaikan gizi dan penanganan stunting yang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah tertinggal.
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Selfi Nange, mengatakan kegiatan yang berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 tersebut diisi dengan sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), coaching clinic tenun ikat khas TTU, lomba tarian Likurai antar-RT serta lomba kreasi pangan lokal.
Sosialisasi KUR melibatkan Bank NTT dan BRI Cabang Kefamenanu. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat mendapat informasi mengenai akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha dengan bunga yang lebih rendah.
Sementara coaching clinic tenun ikat ditujukan untuk meningkatkan keterampilan penenun agar mampu menghasilkan produk dengan motif yang lebih rapi, konsisten dan memiliki daya saing.
Penenun juga didorong mengembangkan kain tenun menjadi berbagai produk kriya, seperti tas, dompet, pakaian modern hingga aksesori.
Di sektor pangan, program ini mendorong pemanfaatan komoditas lokal seperti jagung, ubi, keladi, sorgum dan pisang sebagai pangan alternatif nonberas yang sehat dan bergizi.
Selfi mengatakan, Pemprov NTT menargetkan program tersebut berlanjut pada peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat, penguatan kelembagaan kelompok penerima bantuan serta perluasan akses pemasaran produk lokal.
“Jadi produk yang dihasilkan akan dipasarkan lewat NTT Mart,” ujar Selfi Nange saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa, 7 Oktober 2026.
Dalam jangka menengah, program ini diharapkan mampu mendorong pelaku usaha dan UMKM naik kelas, meningkatkan produktivitas kelompok usaha tenun dan pertanian serta mengembangkan usaha ekonomi produktif masyarakat.
Program tersebut didukung anggaran APBD Provinsi NTT sebesar Rp300 juta pada setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dengan alokasi Rp100 juta untuk setiap desa.
Sebelumnya, pada September 2026, Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan juga melaksanakan program serupa di Desa Noebaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten TTU.
Di Desa Noebaun, Tim Biro Perekonomian menginisiasi pelatihan pembuatan kriya berbahan kain tenun dari sisa jahitan dan kain tidak terpakai atau perca yang dikumpulkan dari para penjahit.
“Jadi kain sisa yang sudah tidak terpakai tidak jadi sampah, kita jadikan produk yang bernilai,” jelas Selfi.
Dalam pelatihan tersebut, Biro Perekonomian Setda NTT menghadirkan instruktur dari Provinsi NTT. Para peserta juga mendapat bantuan delapan unit mesin jahit standar industri.
Selain pelatihan ekonomi produktif, di Desa Noebaun Biro Perekonomian juga melakukan sosialisasi hidup bersih dan sehat, penyaluran bantuan kebutuhan balita serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan pihak swasta, yakni PT Kalbe Farma dan PT Sahyang Perkasa, serta puskesmas setempat.(*)




