Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam diri kita tanpa kita sadari sering kali antara gandum dan ilalang tumbuh bersamaan. Dan bisa melihat itu, dibutuhkan refleksi atau introspeksi diri.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 13: 36 – 43, yakni penjelasan perumpamaan tentang ilalang di antara gandum. Para saudaraku, bacaan Injil hari ini, mengingatkan kita bahwa HATI kita manusia adalah ladang tempat dua benih tumbuh bersama: gandum dan ilalang. Gandum melambangkan anak-anak Kerajaan yang BERBUAH untuk kehidupan, sedangkan ilalang adalah benih musuh yang BERBUAH untuk kebinasaan. Hari ini, pergulatan itu nyata dalam hidup modern. Dunia sering membalikkan nilai: kesombongan disebut percaya diri, dendam disebut keadilan, keserakahan disebut ambisi. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Media sosial penuh dengan “ilalang” yang tampak indah, tetapi merusak akar HATI. Bahkan dalam gereja, pencitraan bisa menutupi HATI yang kering KASIH. Pertanyaannya bukan apakah kita pernah jatuh, melainkan suara mana yang dominan membentuk hidup kita. Gandum tetap bisa salah, tetapi ia bangkit dengan penyesalan dan terus menuju terang. Ilalang bisa berbuat baik, tetapi demi keuntungan atau pujian. Buahnyalah yang membedakan. Kabar baiknya: kita masih bernapas, panen belum tiba. Itu berarti masih ada kesempatan untuk bertobat. Pertobatan bukan soal menjadi sempurna seketika, melainkan mengubah arah. Berhenti menyirami ilalang, dendam, iri, kebohongan, kesombongan dan mulai menyirami gandum dengan firman, doa, ibadat dan ekaristi, serta KASIH. Gandum tumbuh bukan karena usaha kita semata, tetapi karena sentuhan tangan Tuhan.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, bayangkan jika hari ini adalah hari panen. Dari jenis benih manakah Anda akan dikumpulkan? Jangan biarkan pertanyaan ini menjerumuskan dalam rasa bersalah, tetapi biarkan ia menjadi alarm rohani yang membangunkan. Ingatlah: Bapa yang memanen adalah Bapa yang berlari menyambut anak yang bertobat. Maka, mulailah sekarang. Matikan ilalang dengan tidak memberi makan padanya, dan biarkan gandum bertumbuh subur di bawah sinar KASIH Kristus. Pada akhirnya, yang bersinar seperti matahari bukanlah mereka yang sempurna, melainkan mereka yang setia bertahan dalam kasih-Nya. Jadilah gandum sejati, karena Tuhan mengenal milik-Nya sendiri.
Pertanyaan Refleksi
1. Dalam keseharian saya, suara mana yang lebih sering menguasai HATI, gandum yang mendorong pada KASIH, atau ilalang yang menjerumuskan pada iri, dendam, dan kesombongan?
2. Bagaimana saya menyikapi kenyataan bahwa dunia modern sering membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar? Apakah saya ikut arus, atau tetap berpegang pada kebenaran Injil?
3. Jika hari ini adalah hari panen, apakah saya siap dikumpulkan sebagai gandum? Apa langkah nyata yang bisa saya lakukan mulai sekarang untuk berhenti menyirami ilalang dan menyuburkan gandum dalam hidup saya?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan, di ladang hatiku tumbuh gandum dan ilalang. Ampunilah kelemahanku, hentikanlah aku menyirami ilalang,
dan kuatkanlah aku untuk menumbuhkan gandum KASIH, SYUKUR, dan PENGAMPUNAN. Bila tiba hari panen, biarlah aku ditemukan sebagai milik-Mu. Amin.



