Jala Seret dan Akhir Zaman

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku, ytk. dalam Kristus Tuhan. Hidup kita ibarat berada di sebuah lautan, dan Allah sedang memasang jala untuk “menangkap” kita. Dan pada saatnya kita akan diseret ke pantai akhir Zaman untuk dipilih dan dipilah oleh Allah melalui malaikat-Nya. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XVII.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 13: 44 – 52, yakni perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga ; perumpamaan tentang pukat. Para saudaraku, hidup kita seperti menyelam di samudra dunia: indah, penuh gemerlap karang dan harta karun bernama karier, cinta, pengakuan, rumah mewah, liburan eksotis. Kita berenang dengan percaya diri, seolah waktu tak bertepi. Namun, tanpa sadar, sebuah jala perlahan diturunkan dari atas. Itulah jala Allah, jala KASIH karunia. Ia hadir lewat nasihat orang tua, teguran sahabat, kegagalan, bahkan kesunyian. Tarikan lembut Sang Nelayan Agung ini bukan untuk menenggelamkan, melainkan menyelamatkan. Ironinya, manusia modern sibuk membangun istana di atas ombak, merasa bebas, padahal kebebasan sejati justru ada di dalam jala itu: aman dari arus yang menjerumuskan. Namun jala itu menampung segala jenis ikan. Ada yang sungguh bertobat, ada yang sekadar ikut arus. Gereja pun bukan galeri orang suci, melainkan rumah sakit bagi yang mau disembuhkan. Tetapi masa jala di laut tidak selamanya. Suatu hari, jala akan diseret ke pantai. Itulah Akhir Zaman: saat pemilahan. Ikan baik ke dalam pasu, ikan buruk ke dalam api. Status sosial, jabatan, popularitas, semua lenyap. Yang tersisa hanyalah: apakah aku ikan baik atau ikan buruk di mata-Nya?Kabar baiknya: kita masih di tengah laut. Jala belum ditarik. Masih ada waktu untuk berubah, bukan dengan kekuatan kita, melainkan dengan membiarkan Roh Kudus mengikis sisik dosa, melembutkan HATI, menjadikan kita layak dikumpulkan. Orang benar bukanlah yang sempurna, melainkan yang sadar betapa ia butuh KASIH karunia. Sedangkan orang jahat bukan hanya pelaku kejahatan besar, tetapi juga yang menolak panggilan dan merasa cukup dengan dirinya sendiri.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, Pantai kekekalan sudah tampak. Jala mulai bergerak. Sang Nelayan menunggu, bukan dengan murka, melainkan dengan rindu. Ia tidak ingin kita sekadar menjadi ikan yang ikut arus, tetapi sungguh menjadi ikan baik yang layak masuk ke dalam pasu-Nya. Karena pada akhirnya, bukan laut dunia yang menjadi rumah kita, melainkan pantai Kerajaan Allah. Dan hanya di sana, dalam pasu kasih-Nya, kita menemukan HIDUP yang benar-benar kekal.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku terlalu sibuk mengejar harta, jabatan, dan pengakuan sehingga tidak peka terhadap jala kasih Tuhan yang sedang melingkupi hidupku?

2. Apakah aku memahami kebebasan sebagai “berenang ke mana saja aku mau”, ataukah sebagai hidup aman dalam jala Tuhan yang menyelamatkan?

3. Jika jala itu ditarik hari ini, apakah aku akan ditemukan sebagai ikan baik yang layak masuk ke dalam pasu-Nya, ataukah ikan yang menolak KASIH karunia?

Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏

 

Doa Singkat

Tuhan Sang Nelayan Agung, di tengah samudra dunia yang memukau, Engkau menurunkan jala kasih-Mu. Jangan biarkan aku terhanyut oleh arus kesibukan dan ambisi, tetapi tariklah aku masuk ke dalam jala keselamatan-Mu. Lembutkan hatiku, kikislah sisik dosa yang melekat, agar aku layak Engkau kumpulkan sebagai ikan baik. Ketika jala itu kelak diseret ke pantai kekekalan, jadikan aku bagian dari pasu kasih-Mu, hidup bersama-Mu selamanya. Amin.