Kunjungi Pabrik La Moringa, Gubernur BI Kagum Kelor NTT Sudah Tembus Pasar Global

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wagub NTT Johni Asadoma saat mengunjungi Pabrik La Moringa di Kupang, Sabtu, 3 Oktober 2026 / foto: Gorby Rumung
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wagub NTT Johni Asadoma saat mengunjungi Pabrik La Moringa di Kupang, Sabtu, 3 Oktober 2026 / foto: Gorby Rumung

EXPONTT.COM, KUPANG – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengunjungi pabrik pengolahan daun marungga atau kelor dan sorgum milik PT La Moringa Indonesia di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 3 Oktober 2026.

Kunjungan tersebut untuk melihat langsung perkembangan La Moringa yang merupakan usaha menengah binaan Kantor Perwakilan BI NTT sekaligus menyaksikan proses pengolahan produk berbahan dasar kelor.

La Moringa yang berdiri sejak 2014 kini berkembang menjadi ekosistem usaha yang terhubung dengan petani lokal. Beragam produk seperti teh, bubuk kelor, biskuit, serta produk setengah jadi telah dipasarkan hingga ke Jepang, Qatar, dan Singapura.

Dalam kunjungan tersebut, Destry didampingi Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma. Keduanya melihat proses pengolahan kelor mulai dari penyortiran hingga pengemasan produk jadi dan setengah jadi.

Destry mengaku terkesan dengan kemampuan La Moringa mengolah potensi lokal sekaligus menyerap hasil pertanian dan tenaga kerja masyarakat.

“Ini luar biasa dan sesuai dengan kebijakan kami di Bank Indonesia, di mana La Moringa ini bisa masuk sampai inklusi, ke masyarakat, ke petani,” kata Destry.

Menurutnya, pengembangan agrobisnis berbasis kelor dapat menjadi salah satu opsi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional karena memiliki nilai gizi tinggi.

“Pemerintah Indonesia sangat willing untuk apa yang kita bisa support. Ini bisa jadi opsi bagi pemerintah mendorong ketahanan pangan Indonesia, karena kelor ini juga sangat bergizi,” ujarnya.

Destry juga mengapresiasi pemilik La Moringa, dr. Andree Hartanto dan dr. Hera, yang dinilai berhasil membawa produk kelor NTT menembus pasar internasional.

“Sekarang terbukti Jepang saja impor kelor dari kita. Sukses untuk La Moringa, mari kita bersama-sama membangun Indonesia dan Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Sementara itu, Owner La Moringa dr. Andree Hartanto menyampaikan apresiasi atas dukungan BI selama ini. Ia mengatakan dukungan pemerintah pusat dan Pemprov NTT sejalan dengan visi perusahaan untuk mengangkat potensi kelor NTT ke pasar nasional dan global.

dr. Andree berharap program “Tanam Sejuta Pohon Kelor” mendapat dukungan Pemprov NTT. La Moringa, kata dia, siap menjadi offtaker hasil kelor petani dengan harga sekitar Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram.

“Kami siap jadi offtaker dengan acuan harga Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilo,” ujarnya.

Menurut dr. Andree, BI juga telah membantu membuka akses pasar internasional melalui dukungan keikutsertaan dalam berbagai kegiatan perdagangan internasional. Saat ini La Moringa tengah menjajaki pasar Korea Selatan, Jerman, dan sejumlah negara Eropa.

Namun, untuk memperluas pasar global, La Moringa masih membutuhkan dukungan dalam pemenuhan sertifikasi keamanan pangan seperti FSSC dan ISO.

“Pembeli dari luar negeri membutuhkan sertifikasi keamanan pangan, contohnya FSSC, ISO dan lainnya, dan itu membutuhkan biaya. Kami berharap pemerintah dan Bank Indonesia selaku stakeholder bisa mendukung kami lewat sertifikasi ini,” pungkas dr. Andree.(*)