Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap manusia siapapun dia, pasti tidak ada yang mau hidup miskin. Oleh karena itu, setiap orang bekerja keras agar mendapatkan materi atau harta duniawi atau kekayaan duniawi. Jadi, setiap orang fokus utama adalah mengejar kekayaan atau harta duniawi. Jarang orang fokus mengejar kekayaan atau harta surgawi. Sebab, kecenderungan kita hanya ingin menikmati kebahagiaan yang sementara, kebahagiaan kekal nanti dulu. Dan sabda Yesus hari ini membalikkan logika kita manusia bahwa orang yang miskin dihadapan Allah, justru dialah yang kaya. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 1 – 12a, yakni kotbah di bukit atau ucapan bahagia. Para saudaraku, ketika Yesus memulai khotbah-Nya di atas bukit, kata pertama yang keluar dari mulut-Nya sungguh mengejutkan: “Berbahagialah…” Bukan kepada orang kaya, berkuasa, atau terpandang, melainkan kepada mereka yang “miskin di hadapan Allah.”
Kemiskinan yang dimaksud Yesus bukan pertama-tama soal kekurangan materi, melainkan sikap HATI yang sadar bahwa tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Orang yang miskin di hadapan Allah menyadari keterbatasannya, mengakui kelemahannya, dan menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.
Pesan ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Kita hidup dalam dunia yang terus mendorong manusia untuk memiliki lebih banyak: lebih banyak uang, lebih banyak jabatan, lebih banyak pengaruh, lebih banyak pengakuan. Tanpa disadari, banyak orang bekerja keras mengumpulkan harta duniawi, tetapi lalai memperkaya hidup rohaninya. Mereka sibuk membangun masa depan di bumi, tetapi lupa mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal. Akibatnya, tidak sedikit orang yang kaya secara materi, tetapi miskin secara batin. Rumahnya besar, tetapi hatinya kosong. Jabatan tinggi, tetapi hidupnya penuh kecemasan. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, bahkan serba terbatas, tetapi hatinya damai karena Tuhan menjadi kekayaan sejatinya.
Hari Raya Semua Orang Kudus mengingatkan kita akan hal itu. Orang kudus bukanlah orang yang lahir tanpa dosa atau tidak pernah jatuh dalam kelemahan. Mereka juga manusia seperti kita, yang pernah bergumul dengan dosa, keterbatasan, dan kegagalan. Yang membedakan mereka adalah kerendahan HATI untuk menyadari kelemahannya, keberanian untuk bertobat, dan kesetiaan untuk terus mengandalkan Tuhan.
Karena itu, kekudusan bukanlah soal kesempurnaan tanpa cela, melainkan kesediaan untuk terus kembali kepada Tuhan. Orang yang mengandalkan Tuhan akan semakin rendah HATI, semakin menghargai sesama, dan semakin sadar bahwa segala sesuatu yang dimilikinya hanyalah anugerah.
Maka pertanyaan bagi kita hari ini bukanlah: “Berapa banyak yang sudah aku miliki?” melainkan: “Seberapa besar aku mengandalkan Tuhan dalam hidupku?” Sebab ukuran kebahagiaan menurut Yesus bukanlah banyaknya yang kita miliki, melainkan kedalaman relasi kita dengan Allah.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, entah kita kaya atau miskin dalam hal materi, jangan pernah menjadi miskin dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan. Bila Tuhan mempercayakan harta yang berlimpah, jangan sampai harta itu menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita. Bila hidup kita sederhana dan penuh keterbatasan, jangan kehilangan keyakinan bahwa Tuhan adalah kekayaan yang tidak pernah habis. Sebab pada akhirnya, bukan jumlah harta yang akan menyelamatkan kita, melainkan HATI yang selalu berpaut kepada Tuhan. Tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa. Tanpa Tuhan, kita tidak memiliki apa-apa. Tetapi bersama Tuhan, bahkan di tengah segala keterbatasan, kita memiliki segalanya.
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang paling kaya: kaya akan iman, kaya akan harapan, dan kaya akan Kerajaan Surga.
Amin.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah selama ini saya lebih sibuk mengejar kekayaan duniawi daripada memperkaya iman dan relasi saya dengan Tuhan?
2. Dalam kesulitan dan keterbatasan hidup, apakah saya sungguh mengandalkan Tuhan atau lebih mengandalkan kekuatan diri sendiri?
3. Apa langkah nyata yang dapat saya lakukan minggu ini untuk semakin hidup seperti orang yang “miskin di hadapan Allah”?
Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang baik, ajarlah kami untuk memiliki HATI yang rendah dan sederhana di hadapan-Mu. Semoga kami tidak hanya mengejar harta duniawi, tetapi terutama mencari kehendak-Mu dan Kerajaan Surga. Jadikanlah Engkau kekayaan sejati dalam hidup kami, sehingga kami tetap bersyukur, setia, dan penuh harapan dalam segala keadaan. Amin.




