EXPONTT.COM, MBAY – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2026 resmi berakhir. Setelah berlangsung selama beberapa hari di Kabupaten Nagekeo, ajang keagamaan yang mempertemukan para qori, qoriah, hafiz, hafizah, serta peserta dari berbagai cabang lomba itu meninggalkan pesan penting tentang persatuan, toleransi, dan pembangunan manusia.
Penutupan MTQ XXXI NTT berlangsung di podium utama Masjid Baiturrahman Aloorongga, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Minggu, 28 Juni 2026.
Kegiatan tersebut ditutup secara resmi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjenpol (Purn) Johannes Asadoma, di hadapan para peserta, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Johni Asadoma menegaskan bahwa keberadaan MTQ tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan perlombaan untuk menentukan siapa yang terbaik. Menurutnya, MTQ memiliki makna yang jauh lebih luas, yakni menjadi sarana membangun karakter masyarakat melalui nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.
“MTQ bukan hanya tentang kompetisi dan mencari juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, dalam cara berpikir, bersikap, bekerja, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Johni Asadoma.
Ia menyebutkan, nilai kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan semangat saling menghargai merupakan bagian penting yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial. Nilai tersebut, lanjutnya, sangat relevan dengan tantangan pembangunan daerah saat ini.
Menurut Johni, Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang memiliki kekayaan keberagaman. Perbedaan latar belakang masyarakat tidak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun daerah secara bersama-sama.
“MTQ XXXI ini menunjukkan bahwa keberagaman di NTT adalah energi positif. Kita melihat 22 kafilah hadir dari seluruh kabupaten/kota dengan semangat persaudaraan yang sama,” ujarnya.
Ia menilai, pelaksanaan MTQ di Kabupaten Nagekeo menjadi contoh bagaimana sebuah kegiatan besar dapat berjalan dengan baik melalui dukungan semua pihak. Masyarakat Nagekeo dinilai berhasil menunjukkan keramahan serta semangat gotong royong dalam menyambut para tamu dari berbagai daerah.
“Keramahan masyarakat Nagekeo menjadi gambaran bahwa NTT adalah rumah bersama. Rumah yang dibangun dengan rasa saling menghormati, toleransi, dan persaudaraan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Wagub NTT mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai tema MTQ XXXI, yaitu “Menebar Cahaya Al-Qur’an, Ayo Bangun NTT Menuju Masyarakat Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan” sebagai bagian dari gerakan pembangunan bersama.
Ia mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik berupa jalan, gedung, dan berbagai infrastruktur lainnya. Menurutnya, pembangunan yang paling penting adalah pembangunan manusia.
“Infrastruktur adalah bagian dari pembangunan, tetapi manusia yang memiliki karakter dan nilai moral adalah fondasi utama. Karena itu pembangunan harus berjalan seimbang antara fisik dan sumber daya manusia,” jelasnya.
Johni Asadoma berharap nilai-nilai Qurani dapat menjadi inspirasi dalam berbagai bidang kehidupan. Mulai dari lingkungan keluarga, dunia pendidikan, pemerintahan, hingga kehidupan bermasyarakat.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian MTQ XXXI NTT. Kepada para pemenang, ia meminta agar prestasi tersebut menjadi awal untuk terus meningkatkan kemampuan dan membawa nama baik Nusa Tenggara Timur ke tingkat yang lebih tinggi.
Sementara bagi peserta yang belum memperoleh juara, Wagub berpesan agar tidak berkecil hati. Menurutnya, keikutsertaan dalam MTQ merupakan bentuk prestasi dan pengalaman berharga.
“Semua peserta adalah generasi terbaik yang membawa nama daerah masing-masing. Teruslah belajar dan menjaga semangat untuk berkembang,” katanya.
Penutupan MTQ XXXI NTT kemudian ditandai dengan pemukulan beduk oleh Wakil Gubernur Johannes Asadoma.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Nagekeo, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para kafilah dari seluruh kabupaten/kota di NTT.
Dengan berakhirnya MTQ XXXI, masyarakat NTT diharapkan tidak hanya membawa pulang cerita tentang perlombaan, tetapi juga semangat persaudaraan dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar kehidupan bersama.(***)




