Pameran Pembangunan NTT 2026 Putar Ekonomi Rp8,34 Miliar, Omzet Kuliner Melonjak 84 Persen

Suasana Pameran Pembangunan Pemprov NTT di tahun 2025 / foto: istimewa

EXPONTT.COM, KUPANG – Pameran Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026 tak sekadar menjadi ruang hiburan dan promosi pembangunan. Kegiatan yang berlangsung 15-24 Agustus 2026 itu diperkirakan menghasilkan efek multiplier terhadap perekonomian NTT mencapai Rp8,34 miliar.

Angka tersebut terungkap dalam Analisis Hasil Survei Dampak Ekonomi Pameran Pembangunan Provinsi NTT Tahun 2026.

Dalam kajian tersebut, pameran diperkirakan dikunjungi 120.260 orang, dengan total pengeluaran pengunjung mencapai sekitar Rp6,07 miliar.

Dari aktivitas tersebut, sekitar 700 pelaku UMKM yang berjualan di dalam maupun di luar booth memperoleh perputaran omzet yang diperkirakan mencapai Rp5,90 miliar, termasuk usaha parkir.

Secara keseluruhan, total pendapatan usaha yang tercipta selama pameran diperkirakan mencapai Rp6,02 miliar. Rata-rata setiap pengunjung membelanjakan sekitar Rp50 ribu selama berada di lokasi pameran.

Kajian tersebut menyebutkan, dampak ekonomi pameran tidak berhenti pada transaksi langsung. Aktivitas belanja pengunjung dan transaksi UMKM ikut menggerakkan berbagai sektor usaha lainnya sehingga menghasilkan efek multiplier terhadap output perekonomian NTT sebesar Rp8,34 miliar.

Omzet Kuliner Melejit 84 Persen

Sektor kuliner menjadi salah satu penerima dampak paling besar. Rata-rata omzet harian usaha penyediaan makanan dan minuman selama pameran meningkat sekitar 84 persen dibandingkan kondisi di luar masa pameran.

Sektor jasa hiburan juga mengalami peningkatan omzet sekitar 48 persen, sedangkan secara keseluruhan rata-rata perubahan omzet UMKM mencapai sekitar 35 persen.

Lonjakan omzet sektor kuliner tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja. Rata-rata tenaga kerja pada usaha makanan dan minuman naik dari 1,79 orang menjadi 2,48 orang selama pameran atau meningkat sekitar 38 persen.

Namun, tidak semua UMKM menikmati peningkatan omzet.

Usaha industri pengolahan nonmakanan, khususnya kerajinan, justru mengalami penurunan rata-rata omzet sekitar 11 persen dibandingkan hari biasa.

Kajian menyebut sejumlah faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut, antara lain karakteristik produk yang kurang sesuai dengan kebutuhan pengunjung, harga produk yang relatif tinggi, lokasi booth yang kurang strategis, serta kecenderungan pengunjung lebih banyak mengalokasikan belanja untuk makanan, minuman, hiburan dan barang yang dikonsumsi langsung.

Efek Ekonomi Menyebar ke Berbagai Sektor

Dari efek multiplier terhadap output, sektor industri pengolahan menerima dampak terbesar yakni sekitar 23 persen, disusul perdagangan 16 persen dan jasa lainnya, khususnya jasa hiburan, sekitar 14 persen.

Dampak tersebut menunjukkan bahwa transaksi selama pameran tidak hanya menguntungkan pedagang yang berjualan langsung di lokasi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi pada sektor-sektor pendukung lainnya.

Sementara itu, untuk efek multiplier terhadap Nilai Tambah Bruto (NTB), sektor perdagangan dan jasa keuangan masing-masing berada di sekitar 19 persen.

Pada kompensasi tenaga kerja, dampak terbesar tercatat pada sektor perdagangan sebesar 23 persen, jasa keuangan 22 persen, dan jasa lainnya, khususnya jasa hiburan, sebesar 21 persen.

80 Persen Pengunjung Ingin Datang Lagi

Dari sisi pengunjung, survei menunjukkan pameran cukup diminati. Sekitar 80 persen responden menyatakan akan kembali berkunjung jika kegiatan serupa kembali digelar.

Sebanyak 17 persen masih mempertimbangkan untuk datang kembali, sedangkan hanya sekitar 3 persen yang menyatakan tidak akan berkunjung lagi.

Menariknya, tujuan utama pengunjung bukan semata-mata mencari informasi pembangunan. Sekitar 67 persen datang untuk hiburan, sementara 58 persen datang untuk berbelanja, khususnya kuliner.

Sebanyak 36 persen datang untuk mencari informasi, 9 persen untuk networking, dan 1 persen dengan tujuan lainnya.

Dari pola pengeluaran, makanan dan minuman menjadi komponen belanja terbesar dengan porsi sekitar 27 persen, disusul barang kerajinan sekitar 24 persen.

Masih Ada Catatan: Booth, Parkir hingga Kebersihan

Meski berdampak positif terhadap ekonomi, kajian tersebut juga mencatat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi.

Pelaku UMKM paling banyak menyoroti penataan booth dan zonasi, termasuk pembagian lokasi yang lebih merata serta pengelompokan jenis usaha sejenis.

Mereka juga meminta penyesuaian jumlah peserta dengan kapasitas lokasi, peningkatan pengawasan dan keamanan, serta perbaikan kebersihan dan kenyamanan area pameran.

Sementara dari sisi pengunjung, masukan banyak berkaitan dengan keberlanjutan pameran, perbaikan lokasi dan parkir, penambahan UMKM lokal, kebersihan, toilet, tempat sampah, area teduh, serta penambahan hiburan dan atraksi budaya.
Kajian tersebut juga memberikan catatan penting bahwa angka dampak ekonomi Rp8,34 miliar belum menggambarkan keseluruhan manfaat ekonomi pameran secara komprehensif. Analisis hanya menggunakan data pendapatan UMKM peserta dan lima OPD yang memberikan data, sementara responden pengunjung juga belum sepenuhnya representatif.

Meski demikian, hasil kajian menyimpulkan Pameran Pembangunan NTT 2026 telah memberikan manfaat bagi UMKM, masyarakat dan pemerintah daerah, sekaligus menunjukkan potensi pameran sebagai ruang strategis untuk memperkuat ekonomi lokal, mempromosikan produk unggulan dan budaya NTT.(*)