Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Wanita Kanaan dalam bacaan Injil hari ini, menginspirasi kita, untuk tidak putus asa atau tidak menyerah atau pantang menyerah saat doa kita mungkin tidak dikabulkan oleh Tuhan. Bisa jadi Tuhan mau menguji iman kita, seperti wanita Kanaan dalam bacaan Injil hari ini.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 15: 21 – 28, yakni perempuan Kanaan yang percaya. Para saudaraku, seorang ibu Kanaan datang kepada Yesus demi anaknya yang kerasukan. Ia ditolak tiga kali: dengan diam, dengan batasan misi, bahkan dengan kata yang menghina. Namun ia tidak mundur. Ia merendah, tetap percaya, dan berkata: “Benar Tuhan, tetapi anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Imannya membuat Yesus kagum: “Besar imanmu!” Seketika anaknya sembuh. Bagaimana dengan kita? Kita hidup di zaman serba instan. Doa ingin cepat dijawab, masalah ingin segera selesai. Saat Tuhan “diam”, banyak yang kecewa, menyerah, bahkan ada yang memilih jalan tragis: mengakhiri hidup. Perempuan Kanaan mengingatkan: iman sejati diuji lewat penolakan. Diam Tuhan bukan tanda Ia tak peduli, melainkan undangan untuk bertahan. Penolakan bukan akhir, melainkan proses pemurnian. Ada tiga sikap yang membuatnya pantang menyerah: Mengenal Yesus: Ia tahu siapa yang ia minta tolong. Kerendahan HATI: Ia tidak menuntut hak, hanya memohon belas KASIH. Cinta yang berjuang: Ia rela menanggung penolakan demi anaknya.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, Tuhan tidak pernah salah waktu. Ia hanya menguji apakah kita siap menerima BERKAT sebelum kita layak memegangnya. Pantang menyerah bukan soal hasil instan, melainkan keputusan untuk tetap percaya: bahwa Tuhan tetap baik, bahkan saat Ia diam. Maka, jangan berhenti di penolakan kedua. Mukjizat sering hadir tepat setelah kita memilih bertahan satu langkah lagi. Hari ini, beranilah menjadi seperti perempuan Kanaan: meski ditolak tetap berdoa, meski dihina tetap menyembah, meski merasa tak layak tetap berharap. Karena satu remah KASIH karunia Tuhan cukup untuk mengubah segalanya.
Pertanyaan Refleksi
1. Bagaimana saya merespons ketika doa saya seolah tidak dijawab, apakah saya tetap percaya atau justru menyerah?
2. Apakah saya rela merendah dan bertahan dalam iman, meski harus menanggung penolakan, hinaan, atau rasa tidak layak?
3. Untuk siapa saya berjuang dalam doa dan iman saya, apakah cinta saya cukup kuat untuk terus berseru demi orang lain yang saya kasihi?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, di saat Engkau diam, ajarilah aku untuk tetap percaya. Di saat doa terasa ditolak, kuatkan aku untuk tidak menyerah. Berilah aku kerendahan HATI seperti perempuan Kanaan, yang rela menanti remah KASIH karunia-Mu.Teguhkan imanku agar tidak goyah oleh penolakan, dan jadikan aku pribadi yang tahan banting, yang tetap berdoa, tetap berharap, karena satu remah kasih-Mu cukup mengubah segalanya. Amin.




