Siapakah Sesamaku Manusia?

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Pertanyaan siapakah sesamaku manusia terlihat sederhana, namun sangat mendalam maknanya, karena bukan hanya soal NARASI, tetapi soal AKSI nyata.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 10: 25 – 37, yakni orang Samaria yang murah hati. Para saudaraku, Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat bukan dengan definisi, melainkan dengan kisah nyata: seorang Samaria yang berhenti, menolong, dan merawat orang yang terkapar di jalan. Pertanyaan awalnya adalah “Siapa sesamaku?” tetapi Yesus menggeser menjadi “Siapa yang menjadi sesama?” bukan soal objek KASIH, melainkan subjek KASIH. Sesama bukanlah siapa yang kebetulan dekat, melainkan siapa yang kita dekati dengan KASIH. Imam dan Lewi tahu hukum, tetapi tidak bertindak. Samaria, yang dianggap musuh, justru hadir dengan belas KASIH. Di zaman ini, egoisme, narsisme, dan individualisme sering membuat kita sibuk dengan diri sendiri. Dunia digital pun ironis: yang jauh terasa dekat, tetapi yang dekat justru terasa jauh. Kita mudah mengabaikan orang di sekitar tetangga, rekan kerja, bahkan keluarga karena sibuk dengan layar dan dunia maya. Menjadi sesama berarti berani keluar dari zona nyaman, menaruh perhatian pada mereka yang terluka secara fisik maupun batin: yang kesepian, kecewa, tersisih, atau putus asa. Sesama bukan TEORI, melainkan AKSI nyata.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, hari ini, jangan berhenti pada hafalan hukum KASIH. Wujudkan dengan tindakan sederhana: menyapa, mendengar, menolong, mendoakan. Jadilah sesama bagi orang yang Tuhan hadirkan di sekitar kita. Karena Yesus tidak berkata, “Ketahuilah siapa sesamamu.” Ia berkata:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku selama ini membatasi kasih hanya pada orang yang menyenangkan atau sejalan denganku, dan menutup mata terhadap mereka yang berbeda atau pernah melukai aku?
2. Di tengah dunia digital yang membuat yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh, apakah aku masih peka terhadap orang di sekitarku yang terluka, kesepian, atau tersisih?
3. Siapa orang yang Tuhan hadirkan hari ini untuk aku dekati dengan KASIH, bukan sekadar aku ketahui sebagai “sesama”?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Ajari aku untuk tidak hanya tahu hukum KASIH, tetapi sungguh menjadi sesama bagi mereka yang terluka. Di tengah dunia yang egois dan sibuk, buatlah aku peka, berani berhenti, dan bertindak nyata. Jadikan hidupku pantulan belas kasih-Mu. Amin.