Tim Undana Hidupkan Pertanian Baumata Timur, Air Embung Oelanisa Jangkau Lahan Kering

EXPONTT.COM, KUPANG — Sebagian lahan di Desa Baumata Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggata Timur (NTT) masih menyimpan potensi pertanian yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Kondisi tanah yang kering dan keterbatasan akses terhadap air menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat dalam mengembangkan lahan pertanian secara berkelanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, Embung Oelanisa menjadi salah satu sumber air yang memiliki arti penting bagi masyarakat. Embung ini telah dilengkapi dengan pompa air bertenaga surya dan tandon utama, sehingga air dapat dipompa dan kemudian dialirkan menuju sejumlah kawasan di sekitar embung. Sistem tersebut mulai menunjukkan manfaat.

Sejumlah area yang sebelumnya terbatas dalam memperoleh air kini telah dimanfaatkan masyarakat untuk menanam sayuran dan tanaman pertanian lainnya.

Kehadiran tanaman hijau di sebagian lahan menjadi gambaran bahwa ketersediaan air dapat membuka peluang baru bagi pengembangan pertanian masyarakat.

Namun, manfaat tersebut belum menjangkau seluruh kawasan. Masih ada lahan yang belum memperoleh aliran air secara memadai sehingga tetap terlihat kering dan belum produktif.

Persoalan inilah yang mendorong Chornelis J. B. Anin, M.Si., bersama tim Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Optimalisasi Distribusi Air Embung Oelanisa Melalui Penambahan Jaringan Pipa dan Penampungan Air untuk Mendukung Produktivitas Lahan Pertanian di Desa Baumata Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.”

Tim pengabdian ini terdiri atas Chornelis J. B. Anin, M.Si. sebagai ketua, bersama anggota Ardy Yosafat Pandie, S.Sos., M.Si., Jusuf Ariyanto Amheka, M.Ling., dan Vellani Losenni Undra, S.Pd., M.Geo. Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa Tera Olevian Lakabui dan Florensian Antonius Kurniawan Nabut.

Program pengabdian ini dibiayai oleh Universitas Nusa Cendana melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undana.

Menjawab Persoalan Distribusi Air
Menurut tim pengabdian, tantangan utama bukan hanya pada ketersediaan sumber air, tetapi juga bagaimana air tersebut dapat didistribusikan secara efektif menuju lahan yang membutuhkan.

Karena itu, kegiatan ini diarahkan pada penguatan sistem distribusi yang telah ada melalui penambahan jaringan perpipaan dan penampungan air.

Infrastruktur tambahan tersebut diharapkan mampu memperpanjang jangkauan air dari tandon utama sehingga area pertanian yang sebelumnya belum terlayani dapat memperoleh akses air.

Penambahan penampungan air juga diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam memperoleh air untuk kebutuhan budidaya. Dengan adanya titik penampungan yang lebih dekat dengan lahan, masyarakat tidak harus bergantung pada satu titik distribusi saja.

Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mengoptimalkan infrastruktur yang telah tersedia. Pompa tenaga surya, tandon utama, jaringan pipa, dan penampungan tambahan dirancang sebagai bagian dari satu sistem yang saling mendukung dalam mendistribusikan air dari Embung Oelanisa ke lahan pertanian.

Menghidupkan Lahan yang Belum Produktif
Keterbatasan air selama ini membuat sebagian lahan di sekitar Embung Oelanisa belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan diperluasnya jaringan distribusi, lahan-lahan tersebut diharapkan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi area pertanian produktif.

Sayuran menjadi salah satu komoditas yang telah mulai dibudidayakan pada area yang memperoleh akses air. Ke depan, masyarakat dapat menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi lahan, ketersediaan air, serta kebutuhan mereka.

Jika pemanfaatan lahan dapat diperluas, manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian. Kegiatan budidaya juga dapat mendukung kebutuhan pangan keluarga dan membuka peluang ekonomi melalui hasil pertanian yang dapat dipasarkan.

Dengan demikian, penambahan jaringan air diharapkan menjadi pemicu bagi perubahan bertahap—dari lahan yang sebelumnya kering dan tidak produktif menjadi lahan yang mampu menghasilkan.

Memanfaatkan Energi Matahari
Penggunaan pompa tenaga surya menjadi salah satu bagian menarik dari sistem pemanfaatan Embung Oelanisa. Potensi energi matahari dimanfaatkan untuk membantu proses pemompaan air dari embung menuju tandon utama.

Dari tandon tersebut, air kemudian didistribusikan melalui jaringan pipa menuju berbagai area yang menjadi sasaran pemanfaatan.

Pemanfaatan energi terbarukan ini menunjukkan bahwa pengembangan pertanian dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia di wilayah setempat. Teknologi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari solusi terhadap kebutuhan masyarakat.

Dosen dan Mahasiswa Hadir Bersama Masyarakat
Kegiatan PkM ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Undana.

Kehadiran mahasiswa Tera Olevian Lakabui dan Florensian Antonius Kurniawan Nabut memberikan ruang bagi mereka untuk memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan pengabdian dan memahami persoalan pembangunan di tingkat masyarakat.

Sementara itu, tim dosen membawa perspektif keilmuan dan pengalaman untuk membantu merancang pendekatan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Kolaborasi tersebut mencerminkan semangat pengabdian perguruan tinggi yang tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun proses belajar bersama masyarakat.

Dari Infrastruktur Menuju Kemandirian
Kegiatan optimalisasi Embung Oelanisa diharapkan menjadi bagian dari proses jangka panjang dalam meningkatkan pemanfaatan sumber daya air dan lahan di Desa Baumata Timur.

Keberadaan jaringan pipa dan penampungan air hanyalah salah satu bagian dari proses tersebut. Keberlanjutan manfaat sangat bergantung pada bagaimana sarana yang tersedia dapat dimanfaatkan, dirawat, dan dikelola secara bersama oleh masyarakat.

Melalui kegiatan yang didukung pendanaan Universitas Nusa Cendana melalui LPPM Undana, Chornelis J. B. Anin dan tim berupaya menghadirkan solusi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

Embung Oelanisa dengan airnya, pompa tenaga surya dengan energinya, serta jaringan pipa yang menghubungkan sumber air dengan lahan menjadi satu rangkaian yang diharapkan mampu membawa perubahan.

Sebab, bagi masyarakat Baumata Timur, setiap tetes air yang berhasil mencapai lahan bukan hanya berarti kesempatan untuk menanam. Ia adalah kesempatan untuk membuat tanah kembali produktif, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan menumbuhkan harapan baru dari lahan yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.(*)