EXPONTT.COM – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Berdasarkan data Basarnas hingga pukul 00.30 WITA, Rabu, 19 Agustus 2026, tercatat 70 orang meninggal dunia dan 132 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dari 132 korban luka tersebut, sebanyak 40 orang mengalami luka berat, sementara 92 lainnya mengalami luka ringan. Petugas hingga kini masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak untuk mencari dan mengevakuasi korban.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 40.040 orang mengungsi akibat gempa bumi yang mengguncang NTT. Jumlah pengungsi terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai Timur.
Mengutip detik.com, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan angka tersebut merupakan data sementara dan tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
“Data sementara pengungsi yang sementara ini kami kumpulkan, ada 40.040 jiwa, ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati menerjemahkannya, namun ini karena dampak psikologis yang dirasakan warga,” kata Berton SP Panjaitan, Selasa, 18 Agustus 2026.
Di Kabupaten Manggarai Timur, tercatat 25 orang meninggal dunia. Sementara korban luka terdiri atas 442 orang luka berat dan 513 orang luka ringan.
Kabupaten Manggarai menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak kedua, yakni mencapai 6.487 jiwa. Di wilayah tersebut, tercatat 27 orang meninggal dunia, 31 orang mengalami luka berat dan 88 orang mengalami luka ringan.
BNPB juga mencatat sebanyak 11.925 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rumah rusak sedang, dan 4.493 rumah mengalami rusak ringan.
“Total rumah yang rusak sebanyak 11.925 unit, dengan rincian rusak berat sebanyak 5.516 unit, rusak sedang sebanyak 1.916 unit, rusak ringan 4.493 unit,” kata Berton.
Sementara itu, tiga wilayah yang tercatat mengalami kerusakan rumah paling tinggi berada di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Ngada.
Petugas gabungan masih melakukan penanganan di wilayah terdampak, termasuk pendataan, evakuasi, serta pemantauan kondisi masyarakat yang mengungsi.(*)




