EXPONTT.COM, KUPANG – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mengungkapkan, pihaknya membidik Pulau Timor sebagai pusat observasi riset nasional terutama dalam pengembangan energi dan bahan bakar.
Hal itu disampaikan Prof. Arif Satria saat pemaparan materi dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggin se-Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurutnya masa depan ekonomi Indonesia, khususnya NTT tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam mentah saja, melainkan pada kekuatan inovasi dan kualitas pendidikan.
Untuk itu, BRIN berkomitmen menjadi penghelai utama dalam memperkuat ekosistem riset yang berdaya saing global demi mencapai visi Indonesia Emas 2045.
“Ekonomi ke depan bergantung pada inovasi dan pendidikan. Itu adalah jembatannya. BRIN berkomitmen memanfaatkan teknologi untuk mengidentifikasi potensi lokal NTT yang selama ini melimpah, mulai dari garam, rumput laut, hingga kakao,” ujar Prof. Arif.
Terkait hal tersebut, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dalam sambutannya meminta dunia perguruan tinggi NTT bisa membuat langkah konkret untuk membangunkan potensi NTT yang selama ini dianggap masih tidur.
“Saya berharap Perguruan Tinggi menghasilkan langkah-langkah nyata. NTT harus mulai mempertajam arah risetnya. Ayo bangun Indonesia, ayo bangun NTT secara bersama-sama,” tegas Melki.
Gubernur Melki juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI Prof. Arif Satria yang dinilainya sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah pusat terhadap penguatan riset dan inovasi di NTT.
“Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Kepala BRIN Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan memberikan perhatian serta dukungan bagi penguatan sinergi pembangunan di Nusa Tenggara Timur,” katanya.
Ia menilai kehadiran Kepala BRIN menjadi sumber inspirasi sekaligus penguat semangat bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT dalam mempercepat pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan Kemendikti sebagai institusi yang paling banyak mengeksekusi program di lapangan.
Menurutnya, transisi menuju Teaching University yang mendorong riset kuat, penyediaan laboratorium modern, serta peningkatan kualitas periset adalah harga mati bagi kemajuan daerah.(*)




