Dari Takjub Ke Takabur

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita menilai seseorang atau sesuatu hanya dari apa yang tampak. Itulah yang terjadi dengan orang-orang Nazaret tempat Yesus di besarkan.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 4: 16 – 30, yakni Yesus ditolak di Nazaret. Para saudaraku,Yesus di Nazaret membuat orang takjub dengan firman-Nya. Namun kekaguman itu cepat berubah menjadi kemarahan ketika Ia menyingkap isi HATI mereka. Mereka hanya melihat Yesus sebagai “anak tukang kayu,” bukan sebagai Allah yang hadir di tengah mereka. Pengetahuan dangkal membuat mereka merasa paling tahu, paling benar, hingga berani menolak Sang Firman. Kisah ini adalah cermin bagi kita. Di zaman modern, kita sering menilai orang hanya dari tampilan luar: status, gelar, atau citra media sosial. Kita merasa cukup tahu, padahal hanya mengenal permukaan. Sama seperti orang Nazaret, kita bisa kagum pada firman, tetapi marah ketika firman menegur ego kita. Kita ingin mujizat, tetapi enggan bertobat. Kita ingin BERKAT, tetapi hanya untuk diri sendiri. Firman mengingatkan: semakin dekat dengan Tuhan, semakin kita sadar betapa kecil diri kita. Kerendahan HATI membuka pintu anugerah, sementara kesombongan menutupinya. Paulus berkata, “Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mengetahui sesuatu, maka ia belum mengetahui apa-apa” (1 Kor 8:2).

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, jangan biarkan kekaguman kita berhenti di permukaan. Takjub harus menuntun pada kerendahan HATI, bukan pada kesombongan. Dunia modern mudah membuat kita merasa “paling tahu,” tetapi hanya HATI yang rendah yang mampu mengenal Yesus sungguh-sungguh. Ingatlah: “Allah menentang orang yang sombong, tetapi mengasihi orang yang rendah HATI” (Yak 4:6). Mari belajar melihat lebih dalam, bukan sekadar apa yang tampak, tetapi siapa yang sungguh hadir: Kristus yang hidup.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku sungguh mengenal Yesus, atau hanya sebatas tahu tentang Dia dari pengetahuan dangkal dan kebiasaan rohani?
2. Bagaimana sikapku ketika Firman menegur ego dan kesombongan dalam diriku, apakah aku rendah HATI menerima, atau justru menolak?
3. Apakah aku menilai orang lain hanya dari tampak luar, seperti orang Nazaret menilai Yesus, ataukah aku berusaha melihat dengan mata iman dan KASIH?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ampunilah kami yang sering hanya kagum di permukaan, tetapi menolak ketika Firman-Mu menegur HATI kami. Ajari kami untuk rendah HATI, tidak menilai hanya dari apa yang tampak, melainkan melihat dengan mata iman. Singkirkan kesombongan kami, dan jadikan kami semakin takjub pada kasih-Mu yang nyata. Amin.