EXPONTT.COM, MBAY – Lebih dari sepekan berada di pengungsian membuat anak-anak korban gempa bumi di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, harus menjalani hari-hari yang jauh dari kehidupan normal mereka.
Tidur di tenda pengungsian, jauh dari rumah, serta masih dibayangi pengalaman gempa menjadi bagian dari keseharian yang harus mereka jalani.
Namun, suasana berbeda terlihat di Posko Pengungsian Polri untuk Masyarakat, Lapangan Berdikari Danga, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Selasa, 25 Agustus 2026 malam.
Tawa dan canda anak-anak kembali memenuhi posko. Sekitar 50 anak berusia 5 hingga 12 tahun berkumpul untuk menonton film dan animasi bersama.
Mereka duduk menikmati tayangan dari layar televisi. Sesekali terdengar gelak tawa dan canda di antara mereka.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di tengah situasi pengungsian, kesempatan bermain dan mendapatkan hiburan menjadi ruang penting untuk sejenak melupakan ketakutan akibat bencana.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.00 Wita itu difasilitasi personel Polres Nagekeo yang dipimpin Kasat Binmas IPTU Yohanes Dhai, bersama Kaurbinopsnal Satbinmas, personel Satbinmas dan tim pendamping sosial.
Film dan animasi yang ditayangkan dipilih dengan muatan positif dan edukatif. Selain menghibur, kegiatan tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana nyaman sekaligus membantu proses pemulihan emosional anak-anak.
Polri Hadir Kembalikan Rasa Aman
Kapolres Nagekeo AKBP Rachmat Muchamad Salihi, S.I.K., M.H., melalui Kasat Binmas IPTU Yohanes Dhai, mengatakan perhatian terhadap korban bencana tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan dasar dan keamanan.
Menurutnya, kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak, juga perlu mendapat perhatian.
“Kami ingin anak-anak di pengungsian merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Polri hadir untuk menemani, menghibur dan memberikan rasa aman,” ujar Yohanes, menyampaikan pesan Kapolres Nagekeo.
Ia mengatakan, kegiatan sederhana seperti menonton bersama dapat menjadi salah satu cara membantu anak-anak mengurangi rasa takut setelah mengalami gempa.
“Melalui kegiatan sederhana seperti nonton bersama, kami berharap adik-adik bisa kembali tersenyum, mengurangi rasa takut dan perlahan bangkit dari trauma akibat gempa,” katanya.
Menurut Yohanes, pengalaman bencana dapat meninggalkan rasa takut dan kecemasan pada anak-anak. Karena itu, suasana nyaman, interaksi sosial dan kesempatan melakukan aktivitas menyenangkan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Anak-anak, lanjutnya, merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi pascabencana.
“Semoga adik-adik tetap semangat, ceria dan optimistis. Kita bersama-sama melewati masa sulit ini. Polri akan terus hadir dan peduli kepada masyarakat,” ujarnya.
Posko Berubah Jadi Ruang Bermain
Malam itu, untuk beberapa saat, posko pengungsian tidak hanya menjadi tempat berlindung. Posko berubah menjadi ruang bermain, bercanda dan tempat bagi anak-anak untuk kembali merasakan suasana seperti sebelum bencana.
“Tidak ada pembicaraan tentang kerusakan rumah atau ketakutan saat gempa. Yang terdengar adalah suara anak-anak menikmati tayangan bersama,” terang Yohanes.
Kehadiran personel Polri juga membuat kegiatan tersebut menjadi ruang interaksi antara polisi, anak-anak dan keluarga pengungsi.
Pendekatan yang lebih dekat diharapkan dapat menumbuhkan rasa aman di tengah masyarakat yang masih menghadapi masa sulit akibat gempa.
Polres Nagekeo menyatakan akan terus memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak gempa melalui berbagai kegiatan, mulai dari pelayanan keamanan, bantuan kemanusiaan, pendampingan sosial hingga kegiatan yang mendukung pemulihan psikologis.
Sebab, dalam situasi bencana, kebutuhan masyarakat bukan hanya makanan, air bersih dan tempat tinggal.
Ada kebutuhan lain yang tak kalah penting: rasa aman, perhatian, pendampingan dan harapan.
Dan malam itu, dari sebuah posko pengungsian di Danga, harapan tersebut hadir melalui sesuatu yang sederhana: tawa anak-anak. (***)




