Membiarkan Orang Mati Menguburkan Orang Mati

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Bacaan Injil hari ini: Biarkan orang mati menguburkan orang mati terkesan sangat radikal, dan itu benar karena memang panggilan Tuhan itu bersifat mendesak dan tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, panggilan untuk mengikut Yesus merupakan prioritas utama seorang murid Yesus. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja. Para saudaraku, Yesus tidak mencari pengikut yang sekadar bersemangat sesaat. Ia menuntut komitmen penuh. Ketika seorang berkata ingin mengikut Dia, Yesus menjawab: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Mengikut Yesus berarti siap meninggalkan kenyamanan dan jaminan duniawi, sebab jaminan sejati hanyalah Dia sendiri. Ketika seorang lain meminta izin untuk menguburkan ayahnya, Yesus berkata: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Perkataan ini bukanlah penolakan terhadap KASIH keluarga, melainkan penegasan bahwa panggilan Allah bersifat mendesak. Orang mati yang dimaksud bukan hanya mereka yang meninggal secara fisik, tetapi juga mereka yang mati secara rohani, sibuk dengan urusan fana, tanpa pengharapan, tanpa arah menuju kehidupan kekal. Biarlah mereka yang terikat pada hal-hal yang mati mengurus urusan yang mati. Tetapi engkau yang dipanggil untuk hidup, jangan terjebak di sana. Yesus menutup dengan peringatan tajam: “Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Hidup yang terbagi, satu kaki di dunia dan satu kaki di Kerajaan Allah, tidak akan pernah menghasilkan BUAH yang lurus. Dalam kehidupan modern, perkataan ini sangat relevan. “Orang mati” bisa berarti kesibukan duniawi yang menyita energi tetapi tidak memberi kehidupan sejati; keterikatan pada harta, status, dan popularitas yang tampak hidup padahal kosong; atau penundaan rohani dengan alasan “nanti saja” untuk berdoa, melayani, atau bertobat. Dunia modern penuh dengan notifikasi, media sosial, dan kesibukan yang membuat kita gagal fokus. Kita sibuk dengan hal-hal yang fana, tetapi lupa pada panggilan yang kekal.Yesus mengingatkan bahwa panggilan-Nya tidak bisa dijadwalkan ulang. Ia bukan undangan yang bisa ditunda sampai kita merasa siap. Ia adalah panggilan hidup yang mendesak, yang menuntut jawaban hari ini. Menunda berarti kehilangan kesempatan. Penundaan adalah bentuk penolakan yang paling halus. Maka marilah kita jujur di hadapan Tuhan: apa yang selama ini menjadi alasan kita menunda panggilan-Nya? Apakah karier, keluarga, keuangan, atau bahkan pelayanan yang tampak mulia? Jangan biarkan hal-hal yang baik sekalipun menggantikan tempat yang seharusnya hanya untuk Yesus. Ketika Dia menjadi yang utama, semua yang lain akan menemukan tempatnya yang tepat.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, Yesus memanggil kita bukan untuk nanti, melainkan untuk sekarang. Jawablah dengan langkah, bukan alasan. Dengan ketaatan, bukan penundaan. Kerajaan Allah bergerak maju, dan Yesus mengundang kita untuk bergerak bersama-Nya. Hari ini, jangan biarkan hidup kita sibuk dengan yang mati, sementara Sang Hidup menanti jawaban kita. Ikutlah Dia, sekarang juga. Biarlah hidup kita menjadi bukti bahwa panggilan-Nya tidak pernah kita tunda. Amin.

Pertanyaan Refleksi

1. Apa hal-hal duniawi yang selama ini saya jadikan alasan untuk menunda panggilan Tuhan, dan bagaimana saya bisa menempatkan Yesus sebagai prioritas utama di atas semuanya?Makna orang mati rohani
2. Dalam kehidupan modern, apa saja bentuk “orang mati” yang sering menyita perhatian saya, kesibukan, materi, atau penundaan rohani dan bagaimana saya bisa melepaskan diri darinya?Langkah iman sekarang
3. Apa satu langkah konkret yang bisa saya lakukan hari ini untuk menjawab panggilan Yesus tanpa menunda lagi?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, sering kali kami menunda panggilan-Mu. Hari ini ajarilah kami untuk taat tanpa alasan, melepaskan hal-hal fana, dan melangkah maju bersama-Mu. Amin.