Pawai Ta’aruf MTQ XXXI NTT di Mbay, Perpaduan Syiar Islam dan Budaya Nagekeo

EXPONTT.COM, MBAY – Suasana Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, tampak berbeda pada Senin, 22 Juni 2026.

Ribuan masyarakat tumpah ke sejumlah ruas jalan utama Kota Mbay untuk menyaksikan pawai ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi NTT ke-XXXI tahun 2026.

Pawai ta’aruf menjadi rangkaian awal pelaksanaan MTQ yang mempertemukan kafilah dari 22 kabupaten/kota se-NTT.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni penyambutan peserta, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang budaya, agama, dan tradisi yang hidup di bumi Flobamora.

Sebanyak 22 kafilah berjalan mengikuti rute yang dimulai dari Gereja St. Maria Dolorosa Penginanga, Kelurahan Lape, menuju Masjid Agung Baiturrahman Mbay, Kelurahan Mbay 1.

Dengan jarak tempuh kurang lebih 5 kilometer, para peserta melintasi jalan-jalan utama Kota Mbay sambil menampilkan berbagai ciri khas daerah masing-masing.

Beragam pakaian adat, atribut daerah, turut mewarnai perjalanan pawai. Masyarakat yang berada di sepanjang jalur tampak antusias menyambut rombongan kafilah yang datang dari seluruh penjuru NTT.

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam pawai tersebut adalah kehadiran pasukan berkuda yang mengiringi perjalanan.

Nuansa kavaleri tradisional itu menjadi simbol penghormatan bagi para tamu sekaligus menegaskan identitas budaya masyarakat Nagekeo.

Sejumlah tokoh daerah tampak ikut menunggang kuda, di antaranya Ketua DPRD Nagekeo Shafar Laga Rema, anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan Marselinus F. Ajo Bupu, serta anggota DPRD Nagekeo lainnya dari Fraksi PAN Adimat Mane Tima.

Tradisi penyambutan menggunakan kuda bukan sekadar atraksi budaya, melainkan bagian dari warisan masyarakat Nagekeo, khususnya di wilayah Mbay. Kuda dalam tradisi lokal memiliki nilai simbolik sebagai bentuk penghormatan, kewibawaan, dan penyambutan terhadap tamu yang datang.

Shafar Laga Rema ketua DPRD Nagekeo menyebutkan, tradisi serupa pernah dilakukan ketika masyarakat Mbay menyambut tamu penting negara. Salah satunya saat Wakil Presiden pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta berkunjung ke wilayah pembangunan Bendungan Sutami di Mbay pada tahun 1952.

Kehadiran pasukan kavaleri dalam pawai ta’aruf MTQ XXXI NTT ini memperlihatkan bagaimana budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan kegiatan keagamaan.

Perpaduan antara syiar Islam, adat istiadat, dan semangat kebersamaan menjadi gambaran keberagaman masyarakat NTT.

Pawai ta’aruf dilepas secara resmi oleh Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Muga Sada. Sebelum pemberangkatan, perwakilan Kevikepan Mbay, Romo Paulus Bongu, menyampaikan pesan penting tentang makna pelaksanaan MTQ.

Menurutnya, MTQ bukan hanya perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana memperdalam nilai-nilai keagamaan serta mempererat hubungan antarsesama.

“MTQ adalah wadah pendalaman Kitab Suci Al-Qur’an dan pendalaman iman Islam yang merujuk pada penyatuan perbedaan. Membaca Al-Qur’an merupakan sebuah keindahan, bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi memiliki makna yang lebih luas,” ujar Romo Paulus.

Ia menilai, kegiatan keagamaan seperti MTQ memiliki peran penting dalam membangun persaudaraan dan memperkuat kehidupan bersama di tengah masyarakat yang majemuk.

Setelah menempuh perjalanan pawai, seluruh kafilah tiba di Masjid Agung Baiturrahman Mbay dan diterima langsung oleh Bupati Nagekeo Simplisius Donatus sebagai tuan rumah pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi NTT ke-XXXI.

Dalam kesempatan itu, Bupati Simplisius menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan rombongan dari 22 kabupaten/kota. Ia berharap para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat serta menjunjung tinggi nilai sportivitas.

“Selamat datang para peserta MTQ tingkat Provinsi NTT ke-XXXI. Selamat berjuang dengan menjunjung tinggi sportivitas dan nilai-nilai iman. Inilah Kabupaten Nagekeo, inilah Kota Mbay. Semoga seluruh peserta merasa aman dan tenteram selama berada di sini,” kata Bupati.

Pelaksanaan MTQ XXXI NTT di Mbay tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Kabupaten Nagekeo untuk menunjukkan keramahan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada seluruh peserta.

Lebih dari sekadar perlombaan, MTQ ini diharapkan menjadi ruang memperkuat toleransi, membangun persaudaraan, serta menjaga semangat persatuan masyarakat NTT dalam bingkai keberagaman. (***)