Suara Angin dan Sunyi di Tambolaka

Cerpen: Aster Bili Bora

Tatapan Carolina kosong menembus jendela kamarnya yang sepi. Di tangannya, sebuah telepon genggam tergeletak mati—benda yang dahulu menjadi pusat semestanya, kini terasa seperti bom waktu yang telah hancur.

Tiga tahun sudah ia hidup dalam kesendirian yang mencekam. Sunyi ini begitu menyiksa, kontras dengan masa lalunya yang penuh dengan riuh rendah notifikasi media sosial. Lina, begitu ia biasa dipanggil, menghela napas panjang. Kemarin, laki-laki kesekian yang mencoba mendekatinya pergi begitu saja tanpa pamit. Padahal mereka sudah melangkah jauh, bahkan telah berbagi ranjang yang sama. Namun, tabiat Lina tidak bisa disembunyikan. Sebelum janji suci pernikahan terucap, penyakit lamanya kambuh: ia mulai memfitnah, memicu pertengkaran, dan mencari-cari kesalahan pria itu.

Seperti pria-pria sebelumnya, ia ketakutan dan memilih mundur teratur. Lina tidak pernah berubah. Ia terjebak dalam lingkaran setan yang ia ciptakan sendiri.Pikiran Lina melayang ke masa lalu, ke masa-masa di mana ambisinya membakar habis seluruh warasnya.

Dahulu, Lina adalah perempuan yang haus akan ketenaran. Ambisinya tidak main-main: ia ingin lebih terkenal dari artis-artis dunia. Namun, alih-alih prestasi, Lina memilih jalur kegelapan. Baginya, kritik destruktif, hinaan, dan fitnah adalah komoditas paling cepat untuk mendulang angka followers, like, comment, dan subscribe.Targetnya tidak tanggung-tanggung. Mulai dari Presiden, anggota DPR, Gubernur, hingga Bupati dan Wali Kota menjadi sasarannya. Lina ingat betul salah satu unggahannya yang paling viral—dan paling ia banggakan saat itu. Ia mengedit video pidato Presiden, lalu di tengah-tengah video, ia sengaja berpose mengejek sambil membunyikan kentut dengan keras ke arah kamera.

Di hari lain, demi memburu sensasi, ia mengunggah berita hoaks bahwa seorang Bupati di NTT telah meninggal dunia, lengkap dengan ucapan duka cita buatan. Padahal, bupati tersebut saat itu sedang sehat walafiat memimpin rapat di kantornya.

Hobi beracun ini tidak berhenti saat ia lajang. Bahkan setelah menikah dan dikaruniai seorang anak, jemari Lina makin liar. Jiwanya yang kecanduan validasi dunia maya mulai membutakan nuraninya. Ketika tidak ada lagi isu politik yang bisa digoreng, suaminya sendiri dijadikan korban pembunuhan karakter di media sosial. Ia menuduh suaminya dengan berbagai fitnah keji demi memancing simpati netizen.

Namun, Lina adalah paradoks yang rapuh. Ia begitu gemar menguliti harga diri orang lain, tetapi batinnya sama sekali tidak siap menerima kritik balik. Saat netizen mulai berbalik menyerang dan menghujatnya, Lina akan mengamuk, histeris, dan menolak mengakui kesalahan.Hingga hari naas itu tiba di depan SPBU Tambolaka, Sumba Barat Daya.

Hari itu cuaca panas terik. Lina terlibat cekcok hebat di dunia nyata dengan seorang perempuan bernama Susiana. Perseteruan di media sosial itu tumpah ke jalanan. Di depan ratusan pasang mata yang sedang mengantre bahan bakar, keduanya baku hantam. Lina yang selama ini garang di balik layar kaca ternyata tak berdaya. Sebuah pukulan telak membuatnya tersungkur di atas aspal panas.Susiana yang sudah gelap mata langsung menduduki tubuh Lina. Dengan penuh dendam, Susiana membalas perbuatan Lina kepada Presiden: ia mengarahkan bokongnya dan mengentuti mulut Lina di depan umum. Tidak berhenti di situ, dalam hitungan menit, pakaian Lina ditarik paksa hingga ia telanjang bulat di depan publik.

Karma itu instan dan terekam sempurna. Kamera-kamera ponsel warga bergantian mengambil gambar, lalu mengunggahnya ke media sosial hingga menjadi fenomena yang luar biasa heboh.Kilas balik itu membuat Lina memeluk lututnya erat-erat di atas kasur. Sentakan memori itu selalu berhasil membuatnya sesak napas.

Akibat kejadian memalukan di SPBU Tambolaka tersebut, rumah tangganya hancur total. Sehari sebelum suaminya mengambil keputusan bulat untuk menggugat cerai, pertengkaran hebat pecah di rumah mereka. Dengan ego yang masih setinggi langit meski sudah dipermalukan, Lina mengusir suaminya seperti binatang.

(***)