STIPAS St. Sirilus Ruteng Dukung Sinode IV Lewat Aksi Bersama SLBN Borong

EXPONTT.COM, BORONG – Semangat persaudaraan, kepedulian dan kasih menjadi warna utama dalam kegiatan bertajuk “Semangat 25-4 STIPAS St. Sirilus Ruteng dalam Mewujudkan Sinode IV Keuskupan Ruteng: Berjalan dan Berjumpa Ria Bersama Keluarga Besar SLBN Borong” yang dilaksanakan pada Minggu, 7 Juni 2026.

Kegiatan ini menghadirkan suasana penuh sukacita melalui perjumpaan antara mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng dengan keluarga besar Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Borong.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk nyata penghayatan semangat Sinode IV Keuskupan Ruteng yang mengajak seluruh umat untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, membangun kepedulian, dan menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari

Melalui kunjungan sosial ini, mahasiswa tidak hanya datang untuk berbagi bantuan, tetapi juga untuk membangun relasi, mempererat persaudaraan, serta belajar dari pengalaman hidup para peserta didik berkebutuhan khusus.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan sudah terasa sejak awal kegiatan. Para mahasiswa disambut dengan penuh kegembiraan oleh para siswa, guru, tenaga kependidikan, dan pengelola SLBN Borong. Berbagai interaksi sederhana, seperti sapaan, percakapan, permainan bersama, hingga kegiatan berbagi kasih, menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan banyak hati dalam semangat persaudaraan.

Dalam sambutannya, Bapak Martinus Elus atau yang akrab disapa Bapak Marten, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh keluarga besar STIPAS St. Sirilus Ruteng kepada SLBN Borong. Menurutnya, kehadiran para mahasiswa bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi seluruh keluarga besar sekolah.

Ia menjelaskan bahwa SLBN Borong telah berdiri sejak tahun 2009 dan hingga saat ini terus berupaya memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Saat ini, SLBN Borong melayani 58 peserta didik yang berasal dari berbagai latar belakang disabilitas, antara lain tunagrahita, tunarungu, tunanetra, tunadaksa, autisme, serta beberapa kategori kebutuhan khusus lainnya.

Pendidikan di SLBN Borong mencakup jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari ketiga jenjang tersebut, jumlah peserta didik terbanyak berada pada tingkat Sekolah Dasar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak keluarga yang mulai memberikan perhatian terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus sejak usia dini.

Dalam menjalankan tugas dan pelayanan pendidikan, SLBN Borong didukung oleh 28 tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk 9 orang tenaga kependidikan yang membantu berbagai kebutuhan administrasi, pendampingan, serta pelayanan sekolah. Kehadiran para guru dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik agar mampu berkembang sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

Bapak Marten juga menjelaskan bahwa para peserta didik di SLBN Borong memiliki kemampuan sosial yang baik. Mereka aktif berinteraksi dengan teman-teman, guru, maupun masyarakat di sekitar lingkungan sekolah. Berbagai kegiatan pembelajaran dan pendampingan terus dilakukan untuk membantu mereka mengembangkan kemampuan akademik, sosial, emosional, dan keterampilan hidup.

“Kami selalu berupaya agar anak-anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Mereka memiliki banyak potensi yang perlu didukung bersama,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, dosen STIPAS St. Sirilus Ruteng, Bpk Irfan Anse, turut memberikan refleksi mendalam mengenai makna kegiatan tersebut.

Menurutnya, perjumpaan dengan keluarga besar SLBN Borong merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi seluruh mahasiswa.

“Momen ini adalah momen yang sangat luar biasa. Kita dipertemukan karena kasih,”ungkapnya di hadapan peserta kegiatan.

Lebih lanjut, Irfan Anse menjelaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan membentuk mahasiswa yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kematangan spiritual. Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, aspek sosial, spiritual, dan emosional perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan aspek akademik. Mahasiswa perlu belajar hadir bagi sesama, mendengarkan pengalaman hidup orang lain, serta membangun sikap empati dan solidaritas.

“Mahasiswa tidak cukup hanya berkembang dalam pengetahuan. Mereka juga harus memiliki kepedulian sosial, kedewasaan emosional, dan spiritualitas yang kuat. Melalui perjumpaan seperti ini, kita belajar bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dan layak untuk dihargai,” jelasnya.

Penulis: Dolfi Lejo