Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Sebagai Murid Yesus, kita dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk pergi, beritakan Injil Kerajaan Allah dan “menyembuhkan” orang, entah sakit, luka.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 10: 1 – 7, yakni Yesus memanggil kedua belas rasul. Para saudaraku, Kekristenan sering terjebak dalam kenyamanan: kita pandai bicara tentang Yesus, tetapi enggan melangkah mengikuti jejak-Nya. Yesus tidak memberi teori, Ia memberi perintah. Tiga kata kerja sederhana yang menjadi denyut kemuridan sejati: pergi, beritakan, sembuhkan. Pergi berarti keluar dari zona aman, dari rutinitas yang membius, dari lingkaran yang hanya menguatkan ego. Pergi bukan soal jarak, melainkan keberanian untuk memulai. Murid sejati adalah mereka yang kakinya gelisah oleh panggilan, yang rela terganggu oleh penderitaan sesama. Beritakan berarti menyampaikan kabar baik bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Bukan ancaman, bukan doktrin yang memberatkan, melainkan kesaksian hidup yang nyata. Dunia lebih percaya pada kehidupan yang berbicara daripada kata-kata yang indah. Tenang di badai, memaafkan tanpa syarat, memberi tanpa pamrih, itulah khotbah yang paling keras terdengar. Sembuhkan berarti memulihkan martabat manusia. Dunia penuh orang yang tampak rapi namun hatinya hancur. Menyembuhkan bukan hanya soal tubuh, tetapi juga jiwa dan relasi: mendengarkan yang terabaikan, memeluk yang merasa najis, melepaskan yang terbelenggu masa lalu. Kita menyembuhkan karena kita sendiri telah disembuhkan oleh kasih karunia. Pergi, beritakan, sembuhkan bukanlah tiga tahap terpisah, melainkan satu gerakan yang utuh. Dan kita tidak melakukannya sendiri, Yesus memberi kuasa, hikmat, dan KASIH. Bayangkan jika setiap hari kita bertanya bukan, “Apa yang bisa aku dapatkan?” melainkan, “Ke mana aku harus pergi? Siapa yang perlu aku sembuhkan?” Maka gereja bukan lagi sekadar gedung, melainkan gerakan. Dunia tidak lagi bertanya, “Di mana Tuhan?” karena mereka melihat-Nya lewat langkah kita, mendengar-Nya lewat kata kita, dan merasakan-Nya lewat tangan kita. Pergi… Beritakan… Sembuhkan. Itulah identitas kita. Itulah ritme hidup kita setiap hari. Semoga
Pertanyaan Refleksi
1. Zona nyaman apa yang masih menahan langkah saya untuk keluar dan menjangkau sesama?
2. Apakah hidup saya sudah menjadi kesaksian yang nyata tentang kasih Allah, lebih kuat daripada kata-kata yang saya ucapkan?
3. Siapa di sekitar saya yang sedang terluka dan membutuhkan sentuhan pemulihan melalui kehadiran, perhatian, atau KASIH saya?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, tuntunlah kami untuk berani pergi, hidup kami menjadi kesaksian yang memberitakan, dan HATI kami rela menyembuhkan sesama. Kami percaya kuasa-Mu yang mengutus, jadikan langkah, kata, dan tangan kami saluran kasih-Mu. Amin.




