Wamen Diktisaintek Lepas 2.319 Mahasiswa KKN GENTASKIN ke 100 Desa di NTT

Pelepasan mahasiswa KKN Gentaskin Batch II oleh Wamen Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Fauzan di Kantor Bupati Kupang, Kamis, 9 Juli 2026 / foto: istimewa

EXPONTT.COM, KUPANG – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Mahasiswa Berdampak Gerakan NTT Sehat, Kuat dan Inklusif (GENTASKIN) yang merupakan program kolaborasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV dan perguruan tinggi se-Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali dilaksanakan di tahun 2026.

Di tahun ini sebanyak 2.319 mahasiswa dari 41 perguruan tinggi di NTT dilepas ke 100 desa di 13 kabupaten yang merupakan kantong-kantong kemiskinan ekstrem dan stunting atau tengkes di NTT.

Pelepasan secara simbolis dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Fauzan; Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI, Reinhard Abdul Haris; Gubernur NTT, Melki Laka Lena; Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki; Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka serta para pimpinan perguruan tinggi.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, melaporkan bahwa KKN Tematik GENTASKIN Batch 2 akan berlangsung selama 9 Juli hingga 31 Agustus 2026.

Dirinya memaparkan program ini melibatkan 41 perguruan tinggi, 2.319 mahasiswa dari berbagai program studi, serta 100 dosen pembimbing lapangan.

Amheka menjelaskan, para peserta akan melaksanakan pengabdian di 100 desa yang tersebar di 13 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari upaya mempercepat penurunan stunting, pengentasan kemiskinan, serta mendorong pembangunan desa yang lebih sehat, kuat dan inklusif.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan, menegaskan bahwa perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan bagian dari masyarakat sehingga harus mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ia menilai banyaknya perguruan tinggi tidak akan berarti apabila belum mampu memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian masalah di daerah.

“Jadilah problem solver. Belajarlah menjadi orang yang mampu menyelesaikan masalah, bukan justru menambah masalah. Kehadiran saudara membawa nama baik perguruan tinggi masing-masing, sehingga tanggung jawab itu harus dijaga,” ujarnya.

Fauzan juga mendorong seluruh perguruan tinggi di NTT untuk memperkuat kolaborasi melalui konsorsium perguruan tinggi guna meningkatkan mutu pendidikan sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan pembangunan di daerah.

Sementara itu, Gubernur Melki Laka Lena mengakui bahwa NTT masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang kompleks.

Kondisi geografis, iklim dan berbagai persoalan struktural menyebabkan tingginya angka stunting serta masih banyaknya masyarakat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, terutama di wilayah pedesaan.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk perguruan tinggi, agar ilmu pengetahuan dapat hadir secara nyata di tengah masyarakat.

“Kampus selama ini sering dipandang sebagai menara gading. Hari ini paradigma itu berubah. Kampus harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat,” ujar Melki.

Ia berharap kehadiran 2.319 mahasiswa di desa-desa mampu menghadirkan pendekatan yang lebih ilmiah dalam memetakan sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di NTT.

Melki Laka Lena juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pembangunan desa dan menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan data pembangunan.

Gubernur Melki optimistis kehadiran mahasiswa akan memberikan dampak nyata sebagaimana keberhasilan pelaksanaan GENTASKIN Batch 1.

“Kami berharap GENTASKIN Batch 2 membawa perubahan yang signifikan di desa-desa sasaran. Kehadiran mahasiswa harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.(*)