Pax Vobiscum Para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kali menolak undangan dengan berbagai alasan, termasuk undangan dari Tuhan untuk menghadiri perayaan ekaristi atau kebaktian di Gereja.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 14: 15 – 24, yakni perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih. Para saudaraku, ada sesuatu yang aneh dalam diri manusia. Ketika sesuatu sangat berharga tetapi diberikan secara cuma-cuma, kita justru cenderung menganggapnya biasa. Kita rela meluangkan waktu untuk banyak hal yang dianggap penting, tetapi sering tidak punya waktu untuk menerima pemberian terbesar yang datang dari Tuhan. Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan seorang tuan yang mengadakan perjamuan besar. Segala sesuatu telah disiapkan. Para tamu tidak perlu membawa apa pun. Mereka hanya diminta datang. Namun satu per satu menolak undangan itu. Mereka tidak menolaknya karena membenci tuan rumah, melainkan karena merasa ada urusan lain yang lebih penting. Ada yang sibuk dengan ladangnya. Ada yang sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang sibuk dengan urusan keluarganya.
Menariknya, tidak satu pun alasan itu terdengar buruk. Semuanya adalah hal-hal baik. Namun justru di situlah letak persoalannya. Sering kali yang menjauhkan kita dari Tuhan bukanlah kejahatan, melainkan berbagai kesibukan dan urusan yang perlahan mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita. Bukankah ini juga wajah manusia modern? Hari-hari kita dipenuhi pekerjaan, target, rapat, gawai, media sosial, hiburan, dan berbagai agenda yang seakan tidak pernah selesai. Kita selalu memiliki alasan untuk menunda. Ketika Tuhan mengundang melalui Ekaristi, ibadat, doa, atau saat teduh bersama-Nya, kita sering berkata, “Nanti saja, masih banyak urusan.” Padahal setiap perayaan Ekaristi dan kebaktian merupakan gambaran dari perjamuan abadi dalam Kerajaan Surga. Di sana Tuhan tidak menawarkan sekadar makanan, tetapi diri-Nya sendiri. Kristus telah mempersiapkan semuanya melalui pengorbanan-Nya di salib. Kita tidak diminta membayar apa pun, hanya datang dengan hati yang terbuka. Sayangnya, banyak orang hadir untuk hampir segala hal, tetapi enggan hadir ketika Tuhan mengundang. Kita hadir untuk acara hiburan, pertemuan bisnis, pesta keluarga, atau kegiatan komunitas. Namun ketika lonceng Gereja berbunyi atau jadwal ibadat tiba, tiba-tiba alasan bermunculan. Kita lupa bahwa undangan Tuhan bukan sekadar kewajiban agama, melainkan ungkapan KASIH yang mengantar kita kepada hidup kekal.
Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk menerima undangan Tuhan tidak boleh dianggap remeh. Sebab Kerajaan Allah adalah anugerah, tetapi anugerah itu menuntut jawaban. Tuhan selalu menyediakan tempat di meja-Nya, tetapi kita tetap harus memutuskan untuk datang.
Pesan Untuk Kita:
Para saudaraku, Hari ini, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apa “ladang” dan “lembu” dalam hidupku? Kesibukan apa yang membuatku semakin jarang menyediakan waktu bagi Tuhan? Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus kehidupan, sampai lupa memelihara sumber kehidupan itu sendiri. Tuhan masih terus mengundang. Meja perjamuan-Nya masih terbuka. Kursi kita masih tersedia. Dalam setiap Ekaristi dan ibadat, Ia berkata, “Mari, sebab segala sesuatu sudah siap.”
Semoga ketika undangan itu datang, kita tidak menjawab dengan alasan, melainkan dengan kesiapsediaan HATI:
“Ya Tuhan, aku datang. Bukan nanti jika sempat, tetapi sekarang, karena Engkau lebih berharga daripada segala kesibukanku.”
“Mari, sebab segala sesuatu sudah siap.” (Luk. 14:17)
Pertanyaan Refleksi
1. Apa kesibukan atau prioritas dalam hidupku yang sering membuatku menunda atau mengabaikan undangan Tuhan?
2. Seberapa besar kerinduanku untuk berjumpa dengan Tuhan dalam Ekaristi, ibadat, dan doa setiap hari?
3. Jika hari ini Tuhan mengundangku ke perjamuan-Nya, apakah aku siap datang tanpa alasan dan penundaan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang baik, terima kasih atas undangan kasih-Mu yang selalu terbuka bagi kami. Ampunilah kami yang sering lebih mengutamakan kesibukan dan urusan dunia daripada hadir di hadapan-Mu. Bukalah hati kami agar semakin rindu berjumpa dengan-Mu dalam Ekaristi, ibadat, dan doa. Semoga kami selalu siap menjawab undangan-Mu dengan gembira dan setia. Amin.




