Dunia Membenci Kita

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dunia membenci kita, karena kita bukan berasal dari dunia. Kita adalah milik Kristus, yang telah terlebih dahulu dibenci dunia. Oleh karena itu, kita dibenci dunia. Tetapi apakah kita, membalas dengan kebencian? Tidak! Yesus tidak pernah mengajarkan kita untuk membalas dengan kebencian. Benci harus dibalas dengan benar-benar cinta, seperti yang diteladankan oleh Yesus, dengan mendoakan para musuh-Nya dari atas salib. Buah dari itu, Ia dimuliakan dan dibangkitkan Allah. Inilah KASIH yang nyata.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 17: 11b – 19, yakni doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Para saudaraku, Yesus berkata: “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka, dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Dibenci dunia bukanlah tanda kita gagal, melainkan bukti kita berbeda. Firman menjadikan kita asing di tengah arus peradaban yang melawan Allah. Seperti TERANG yang mengganggu GELAP, kehadiran kita sering terasa tidak nyaman. Ingatlah, Yesus telah lebih dahulu dibenci. Ia disalibkan, bukan karena Ia bersalah, tetapi karena kebenaran-Nya. Namun Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Dari atas salib, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Kasih-Nya melahirkan kemuliaan dan kebangkitan. Inilah teladan kita: jangan membalas kebencian dengan kebencian, atau kejahatan dengan kejahatan, melainkan balaslah KEBENCIAN dengan CINTA, dan KEJAHATAN dengan KEBAIKAN. Inilah jalan murid Kristus di zaman ini. Dia tidak meminta Bapa menarik kita keluar dari dunia ini, tetapi Ia justru mengutus kita tetap tinggal, untuk menjadi GARAM dan TERANG di tengah arus pusaran budaya sekuler, moral yang cair, dan kebenaran yang direlativisasi. Oleh karena itu, kita jangan sampai hanyut dan tenggelam oleh arus pusaran perubahan. Pertobatan yang terus-menerus adalah jangkar yang menahan kita tetap tegak, memfilter arus dunia, dengan menjaga kualitas hidup rohani kita.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, walau kita ada di dunia, kita bukan milik dunia. Kita adalah milik Kristus. Maka jangan hanyut dan tenggelam oleh arus perubahan dunia, tetapi tingkatkan kualitas hidup rohani kita, untuk memfilter setiap arus pusaran zaman. Jadilah GARAM yang tetap ASIN di tengah KEBUSUKAN. Jadilah TERANG yang tetap MENYALA di tengah GELAP. Jangan takut dibenci, takutlah jika dunia tidak lagi membenci kita, sebab itu tanda kita sudah sama dengan dunia. Sekali lagi, Yesus lebih dulu dibenci, namun Ia dimuliakan dan dibangkitkan Allah. Biarlah teladan-Nya menjadi inspirasi dan spirit kita: membalas KEBENCIAN dengan CINTA, dan KEJAHATAN dengan KEBAIKAN, dan tetap teguh sebagai milik Kristus. Sampai akhirnya dunia yang membenci ini melihat bahwa KASIH lebih kuat daripada KEBENCIAN, dan SALIB lebih kekal daripada TAHTA mana pun. Akhirnya ars longa vitae brevis: tidak ada cukup waktu untuk melawan kebencian dunia. Seni bertahan hidup terlalu panjang, nyawa kita terlalu singkat.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku sudah sungguh membalas kebencian dengan cinta dan kejahatan dengan kebaikan, seperti teladan Yesus di salib?
2. Langkah apa yang perlu aku lakukan untuk menjaga kualitas hidup rohani agar tidak hanyut dan tenggelam oleh arus budaya dan pusaran dunia?
3. Di bagian mana dalam hidup sehari-hari aku bisa lebih nyata menjadi GARAM yang mengawetkan dan TERANG yang menuntun di tengah gelap?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Engkau telah lebih dulu dibenci, namun Engkau membalas dengan KASIH. Ajari kami untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, atau kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan CINTA dan KEBAIKAN. Kuatkan kami agar tidak hanyut dan tenggelam oleh arus dunia, tetapi tetap teguh sebagai milik-Mu. Kuduskan hidup kami dalam firman-Mu, supaya kami menjadi GARAM yang mengawetkan dan TERANG yang menuntun. Dalam kasih-Mu kami percaya, dalam kuasa-Mu kami bertahan. Amin.