Untuk mengatasi keterbatasan jangkauan siaran di NTT selama penyelenggaraan Piala Dunia, TVRI NTT akan menyalurkan bantuan parabola digital kepada masyarakat di daerah blank spot.
“Yang blank spot kami sumbang parabola setiap titik untuk diberikan kepada masyarakat secara gratis supaya masyarakat bisa menggelar nonton bareng Piala Dunia selama satu bulan. Minimal satu daerah satu titik,” ujarnya.
Lanju Jefry, masyarakat yang ingin menggelar nonton bareng secara komunitas dapat mengajukan izin secara gratis melalui mekanisme pemindaian barcode yang disediakan TVRI.
“Bagi masyarakat yang ingin menggelar nobar silakan datang ke kami untuk scan barcode secara gratis. Kalau yang mau komersial itu berbayar, tetapi yang komunitas atau masyarakat itu gratis. Setiap titik itu kami dorong melibatkan UMKM lokal sehingga ada perputaran ekonomi,” katanya.
Selain itu, TVRI NTT juga terus memperkuat konten lokal. Bahkan, menurut Jefry, target konten lokal yang ditetapkan telah terlampaui.
“TVRI NTT membuat berbagai paket program lokal yang dikirim ke TVRI Pusat untuk ditayangkan. TVRI NTT juga menyiapkan paket lokal yang disiarkan di tingkat provinsi,” bebernya.
Ia menambahkan, saat ini TVRI NTT menayangkan siaran lokal setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WITA.
Sementara itu, Wakil Ketua KPID NTT, Kekson Salukh, memberikan apresiasi atas keberhasilan TVRI memperoleh hak siar Piala Dunia 2026. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
“Kami sangat mengapresiasi TVRI yang berjuang sampai memperoleh hak siar untuk Piala Dunia tahun 2026. Ini tentunya hal yang sangat baik sesuai amanat undang-undang bahwa tidak hanya menghadirkan tayangan yang edukatif, menjalankan fungsi kontrol tetapi juga menghibur masyarakat,” katanya.
Kekson juga mengapresiasi kebijakan TVRI NTT yang membantu masyarakat di wilayah blank spot melalui bantuan parabola digital.
“Sambil kita menunggu pembangunan pemancar baru, kita sangat mengapresiasi TVRI NTT yang hari ini mau hadir dan membantu masyarakat lewat bantuan parabola sehingga masyarakat juga bisa menyaksikan tayangan Piala Dunia,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong TVRI NTT menghadirkan program khusus bertajuk Road to World Cup yang mengangkat kisah inspiratif para pesepak bola asal NTT yang bisa menginspirasi generasi muda NTT untuk mencapai mimpinya sebagai pemain sepak bola nasional bahkan internasional.
“NTT itu banyak legenda sepak bola. Saat ini saja ada beberapa anak muda asal NTT yang berkiprah di dunia sepak bola tanah air. Saya pikir perlu diangkat bahwa anak-anak NTT itu juga bisa, dan mampu menjadi pemain sepak bola asal ada kemauan untuk berlatih dan mau bangkit,” katanya.
Menanggapi usulan tersebut, Jefry mengatakan TVRI NTT telah menggagas program olahraga baru bernama Sporti yang secara khusus mengangkat kisah para pesepak bola asal NTT.
“Kami telah membuat program baru namanya Sporti. Kemarin tim telah melakukan perekaman yang mengangkat kisah pemain sepak bola asal NTT, Alsan Sanda dan akan tayang hari Selasa,” pungkasnya.(*)




