Mengasihi Musuh, Apa Bisa?

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Mengasihi musuh bagi seorang murid Yesus, bukanlah sesuatu yang mustahil. Yesus Sang Guru sejati kita, tidak hanya mengajarkan dan memberi perintah kepada kita, melainkan Dia sendiri telah memberikan contoh ketika Dia tergantung di kayu salib. Dia berdoa dan mengampuni para musuh-Nya: ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk.23: 34). Oleh karena itu, bagi kita mengasihi musuh kita, sekali lagi bukanlah hal yang mustahil, melainkan bisa, asalkan rendah hati, lalu lepaskan ego dan gengsi.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 43 – 48, yakni Yesus dan hukum Taurat. Para saudaraku, Yesus menantang kita dengan firman-Nya: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Naluri manusia berkata: balas kebaikan dengan kebaikan, balas kejahatan dengan kejahatan. Itu adil. Namun Yesus mengajarkan KASIH surgawi yang melampaui keadilan duniawi. Mengasihi musuh bukan mustahil. Kristus sendiri memberi teladan di salib: dicaci, ditikam, diludahi, Ia tetap berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Inilah bukti nyata bahwa KASIH sejati mampu melampaui dan menembus kebencian. Mengasihi musuh berarti mendoakan dan mengampuni. Mendoakan bukan membenarkan kesalahan, melainkan menyerahkan mereka kepada Tuhan. Mengampuni bukan berarti melupakan luka, tetapi melepaskan hak untuk membalas dendam. Kuncinya: kerendahan HATI. Tanpa rendah HATI, ego dan gengsi akan terus menahan kita. Ego merasa paling benar, gengsi takut dianggap lemah. Padahal salib adalah bukti terbesar bahwa Tuhan rela merendahkan diri demi kita.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, ketika dunia bertanya: “Mengasihi musuh, apa bisa?” Kita menjawab dengan hidup kita: “Bisa! Bukan karena kuatnya kita, tetapi karena rendahnya HATI Kristus yang hidup dalam diri kita.” Mulailah dengan langkah kecil: sebutkan nama orang yang paling sulit Anda maafkan, lalu doakan dia agar mengenal KASIH Tuhan. Di situlah kemenangan sejati, bukan saat ego bertahan, melainkan saat HATI rela merendah.Tetaplah rendah HATI. Di sanalah KASIH menjadi nyata, dan di sanalah kita menang bersama Kristus.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya sungguh rela merendahkan diri, melepaskan ego dan gengsi, demi mengasihi orang yang menyakiti saya?
2. Sudahkah saya mendoakan dan mengampuni mereka yang melukai hati saya, bukan untuk membenarkan kesalahan mereka, tetapi menyerahkan mereka kepada Tuhan?
3. Bagaimana salib Kristus menginspirasi saya untuk menjawab tantangan “mengasihi musuh” dalam kehidupan nyata sehari-hari?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk rendah HATI, melepaskan ego dan gengsi yang melekat erat dalam diriku. Berilah aku HATI yang rela mendoakan dan mengampuni, bahkan mereka yang menyakiti dan melukai HATI dan perasaanku, seperti Engkau di salib, yang tetap mengasihi, jadikanlah aku saksi kasih-Mu dalam hidup sehari-hari. Amin.