Pernahkah Anda membayangkan sebuah Dunia Dimana semua orang memiliki jumlah harta yang sama, tidak ada diskriminasi antara si kaya yang sombong dan si miskin yang terlunta-lunta di jalanan? Kedengarannya seperti sebuah mimpi yang indah, bukan? Sebuah firdaus di bumi dimana keadilan menjadi panglima. Namun, bayangkan jika dibalik meja makan yang penuh dengan makanan yang dibagi rata itu, ada satu aturan yang tak kasat mata namun mencekik : Anda dilarang membisikan doa syukur sebelum menyantapnya. Anda dilarang percaya bahwa makanan itu adalah berkat dari Tuhan.
Inilah yang saya sebut sebagai dilemma “ Satu meja dengan Ateisme .” Sebuah kondisi dimana system politik dimana Demokrasi Komunis mencoba mengurus perut kita, namun disaat yang sama, mereka berusaha mengosongkan jiwa kita.
Dalam Perjalanan sejarah, Demokrasi komunis atau sering disebut Demokrasi Rakyat, lahir dari niat untuk menghapuskan penindasan kelas. Mereka ingin semua orang berdiri di garis yang sama. Secara social, hal ini sangat menggoda. Siapa yang tidak ingin melihat dunia tanpa kesenjangan? Namun, ada lubang hitam besar di tengah ideologi ini : Ateisme sebagai fondasi Negara.
Karl Marx bapak ideologi ini , pernah berkata bahwa agama adalah “ candu masyarakat .” Baginya, agama hanyalah pelarian bagi orang-orang kalah agar mereka tidak memberontak pada ketidakadilan. Maka dalam system demokrasi komunis, Negara mencoba mengambil alih peran Tuhan. Negara menjadi pemberi rezeki, Negara menjadi penentu moral, dan Negara menjadi satu-satunya otoritas yang harus disembah melalui loyalitas mutlak kepada partai.
Disinilah dilema spiritual itu bermula. Saya sering merenung, apakah mungkin manusia bisa benar-benar bahagia jika kebutuhan fisiknya terpenuhi namun hak paling dasarnya untuk berhubungan dengan Sang Pencipta dibatasi, atau bahkan dilarang? Kita bukan sekedar kumpulan daging yang hanya butuh makan dan minum. Kita adalah makhluk spiritual.
Saya teringat sebuah kisah nyata yang menyentuh hati dari era tirai besi. Ada seorang kakek yang setiap hari bekerja keras di lading kolektif milik Negara. Di depan rekan-rekannya, dia adalah warga Negara yang patuh pada ideologi ateis. Namun, didalam kantong bajunya, dia selalu menggengam sebuah tasbih kecil yang sudah usang. Setiap kali ada dia duduk di meja makan umum yang penuh dengan symbol-simbol partai, hatinya terus berzikir.
Suatu hari, cucunya bertanya, “ Kek, kenapa kita tidak boleh berdoa dengan keras?” Sang kakek menjawab dengan mata berkaca-kaca, “ Karena di sini, Negara takut pada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, yaitu iman kita.”
Kisah ini bagi saya bukan sekedar cerita lama. Ini adalah bukti bahwa system yang mencoba membuang Tuhan akan selalu berbenturan dengan Fitrah Manusia. Moralitas yang dibangun diatas ateisme adalah moralitas yang kering. Jika tidak ada Tuhan, maka tidak ada pertanggungjawaban akhirat. Kebaikan hanya dilakukan karena takut pada polisi atau pengawas partai, bukan karena ketulusan hati untuk berbuatnya.
Secara social dan budaya, hidup dalam system demokrasi komunis seperti hidup dalam sebuah ruangan yang dindingnya kaca semua : Anda selalu diawasi. Kebersamaan dan gotong royong yang mereka tawarkan seringkali terasa mekanis. Kita dipaksa untuk berbagi, bukan diajak untuk memberi.
Bagi kita yang hidup dengan napas religius, memberi adalah tangan diatas sebuah bentuk kasih saying yang mendatangkan pahala. Tapi dibawah system komunis, memberi adalah kewajiban administratif. Tidak ada ruang bagi “ Keiklasan “Karena semuanya sudah diatur oleh distribusi Negara. Akibatnya, hubungan antara manusia menjadi hambar. Kita tidak melihat lagi tetangga sebagai sesama makhluk Tuhan, melainkan sebagai “ Unit Produksi “ yang sama-sama bekerja untuk Negara.
Budaya yang biasanya kaya dengan ritual spiritual– seperti upacara kelahiran, pernikahan,hingga kematian-dipreteli menjadi sekadar seremoni sipil yang kaku. Bayangkan betapa sedihnya ketika momen paling sacral dalam hidup kita tidak boleh melibatkan nama Tuhan hanya karena dianggap sebagai Takhayul yang menghambat kemajuan.
Jika kita bawa perdebatan ini kedalam konteks kita hari ini, saya merasa sangat bersyukur. Kita beruntung tinggal di negeri yang menempatkan “ KETUHANAN YANG MAHA ESA “ sebagai sila pertama. Kita sadar bahwa keadilan sosial tidak boleh dibeli dengan cara menukar iman.
Dilema moral yang muncul dalam system demokrasi komunis adalah pilihan yang mustahil: pilih roti tapi buang Tuhan, atau pilih Tuhan tapi siap hidup dalam tekanan. Ini adalah paksaan yang tidak manusiawi. Sebagai manusia, kita butuh keduannya. Kita butuh system yang memastikan tidak ada orang yang mati kelaparam, tetapi kita juga butuh system yang menjamin kita bersujud dengan tenang.
Sebagai penutup opini ini, saya ingin menegaskan bahwa kesejahteraan materi memang penting, namun itu bukan segalanya. Satu meja dengan ateisme mungkin bisa memberi kita makan sampai kenyang, tapi ia tak akan pernah bisa memberi kita ketenangan saat malam tiba dan maut menjemput.
Keadilan yang sejati adalah yang memanusiakan manusia seutuhnya-baik fisiknya maupun rohnnya. Jangan sampai karena ambisi menciptakan kesetaraan ekonomi, kita malah menciptakan penjara spiritual. Karena pada akhirnya, setinggi apapun gedung yang dibangun Negara, dan selengkap apapun makanan di meja makan kolektif, manusia akan selalu merindukan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar materi. Kita akan selalu merindukan Tuhan.
Dan saya, lebih memilih meja yang sederhana namun penuh dengan doa syukur, dari pada meja mewah yang sunyi dari asma Allah. Sebab, tanpa Tuhan kita hanyalah debu yang berjalan tanpa tujuan ditengah dinginnya system yang tak punya hati.




