Wali Kota Kupang: Pancasila Harus Hidup dalam Tindakan, Bukan Sekadar Dihafal

Upacara Hari Pancasila

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 / foto: ist

Ia mengibaratkan Kota Kupang seperti kain tenun yang tersusun dari berbagai warna, motif, dan pola yang berbeda, namun menghasilkan keindahan ketika dirangkai secara proporsional.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fondasi utama yang menjaga harmoni tersebut adalah Pancasila. Menurutnya, Pancasila memiliki kedekatan historis dengan Nusa Tenggara Timur karena lahir dari perenungan Bung Karno di Ende.

“Pancasila adalah sumbangan terbaik masyarakat Nusa Tenggara Timur kepada Indonesia. Karena itu, Pancasila tidak boleh hanya dihafal atau diucapkan saat upacara, tetapi harus hidup dalam tindakan dan perilaku kita sehari-hari,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk mensyukuri perjalanan panjang Kota Kupang yang baru saja memperingati usia ke-140 tahun dan 30 tahun sebagai daerah otonom.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, ASN, TNI, Polri, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga keamanan, ketertiban, dan pembangunan Kota Kupang hingga saat ini.

Menurutnya, makna otonomi daerah bukan sekadar soal kewenangan pemerintahan, tetapi bagaimana menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah untuk mempercepat tindak lanjut berbagai surat dan aspirasi masyarakat yang telah didisposisikan agar pelayanan publik dapat berjalan lebih efektif dan responsif.

Wali Kota juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya persoalan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi bagaimana menjaga semangat toleransi, persaudaraan, dan ruang sosial yang damai, terutama bagi generasi muda.

“Bangsa tidak runtuh ketika gedung-gedungnya hancur. Bangsa runtuh ketika rasa persaudaraan di antara rakyatnya hilang,” ungkapnya.

Mengutip pemikiran Henry Ford, Wali Kota menyampaikan bahwa datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap bersama adalah sebuah kemajuan, dan mampu bekerja bersama merupakan sebuah kesuksesan.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan memperkuat persatuan.

“Mari kita buktikan bahwa keberagaman di Kota Kupang bukan alasan untuk terpisah, tetapi alasan untuk semakin kuat sebagai satu keluarga besar. Persatuan bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meski berbeda,” ajaknya.

Ia menambahkan, apabila nilai-nilai Pancasila terus hidup di hati masyarakat, maka Indonesia akan tetap kuat, dan Kota Kupang akan terus menjadi rumah yang nyaman, aman, damai, serta penuh harapan bagi semua orang.(*)