EXPONTT.COM, MBAY — Ketika sebagian besar perhatian tertuju pada pusat-pusat pengungsian dan wilayah yang ramai diberitakan, sekelompok anak muda justru memilih bergerak ke arah sebaliknya.
Mereka menghidupkan mesin sepeda motor, membawa sembako, pakaian dan kebutuhan dasar lainnya, kemudian menyusuri jalan-jalan Flores menuju kampung-kampung yang jauh dari pusat keramaian.
Sejak 17 Agustus 2026, Komunitas Motor Indonesia yang beranggotakan anak-anak muda dari berbagai pelosok Tanah Air turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak gempa bumi Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Perjalanan mereka menyisir sejumlah kabupaten. Mulai dari Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada hingga Manggarai Raya.
Tidak semua perjalanan berlangsung mudah. Mereka harus menembus wilayah pelosok untuk menemukan warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian mandiri.
Di tempat-tempat seperti itu, bantuan terkadang tidak datang sebanyak yang diterima pengungsian besar.
Karena itu, bagi komunitas motor ini, perjalanan tidak berhenti pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan bantuan.
Mereka berusaha masuk lebih jauh, menyapa warga, melihat langsung kondisi pengungsi dan menyerahkan bantuan sesuai kebutuhan.
Sembako dan pakaian menjadi sebagian dari bantuan yang dibawa. Namun bagi warga yang ditemui, kehadiran mereka juga menghadirkan sesuatu yang tidak kalah penting: perhatian.
Ada warga yang mungkin tidak dikenal siapa pun di luar kampungnya. Ada keluarga yang memilih membuat tenda sendiri karena rumah mereka rusak atau karena masih dihantui rasa takut terhadap gempa susulan.
Di tengah kondisi tersebut, deru sepeda motor para relawan menjadi tanda bahwa bantuan masih terus bergerak.
Perwakilan Komunitas Motor Mbay, Adi, mengatakan gerakan tersebut berangkat dari keterpanggilan nurani untuk ikut merasakan apa yang dialami masyarakat Flores.
“Kita bergerak hampir di setiap kabupaten, ke pelosok-pelosok kampung memberikan bantuan sesuai kebutuhan pengungsi di masa tanggap darurat. Alhamdulillah, semua kita sentuh dengan kemampuan yang ada,” ujar Adi, Rabu, 2 September 2206, di Mbay.
Menurut Adi, Kabupaten Nagekeo menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dari komunitas tersebut. Hampir sepekan mereka berada di Nagekeo.
Tujuh kecamatan didatangi untuk menyalurkan bantuan berupa sembako, sandang dan berbagai kebutuhan lainnya.
Nagekeo menjadi wilayah yang mereka prioritaskan karena berada dekat dengan kawasan pusat gempa.
“Kita di Nagekeo paling lama, hampir seminggu sebelum bergeser ke Kabupaten Ngada dan Manggarai Raya. Mengingat di sini pusat gempa, artinya dampak kerusakan dan jumlah pengungsi pasti lebih besar,” terang Adi.
Bagi Adi dan kawan-kawannya, perjalanan tersebut bukan tentang seberapa banyak bantuan yang bisa mereka bawa.
Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa warga yang berada jauh di pelosok juga merasakan kepedulian dari sesama anak bangsa.
Motor-motor itu terus bergerak.
Dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya, dari satu kampung ke kampung berikutnya. Jalan yang panjang, medan yang sulit dan jarak yang jauh tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Di tengah duka akibat bencana, anak-anak muda dari komunitas motor Indonesia memilih memberikan jawaban dengan cara sederhana: datang, menyapa, mendengar dan membantu.
Sebab bagi mereka, solidaritas tidak boleh berhenti di jalan utama.
Ia harus sampai ke tenda terakhir, ke kampung terakhir, dan kepada warga terakhir yang membutuhkan.(***)




