EXPONTT.COM, KUPANG – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma menjemput jenazah Willi Mbuik, warga asal Rote Ndao yang menjadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Jenazah Willi Mbuik dipulangkan ke Kupang menggunakan pesawat Citilink dan tiba di Terminal Kargo Bandara El Tari Kupang pada Jumat, 11 September 2026.
Willi merupakan salah satu dari tiga korban yang meninggal dunia dalam aksi penembakan tersebut. Dua di antaranya merupakan warga NTT, yakni Willi Mbuik asal Rote Ndao dan Alfonsius Mehan asal Maumere.
Johni Asadoma datang bersama Sekretaris Daerah Provinsi NTT Fransiskus Sales Sodo dan jajaran pimpinan perangkat daerah untuk menyambut kedatangan jenazah.
Setelah tiba di Kupang, rombongan turut mengantar jenazah ke Pelabuhan Bolok untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah dipulangkan ke Rote Ndao menggunakan KMP Lakaan.
Johni Asadoma menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban, baik di Rote Ndao maupun Maumere. Ia mengatakan Pemerintah Provinsi NTT turut merasakan kehilangan atas peristiwa tersebut.
“Kami mengucapkan duka cita yang sangat mendalam kepada keluarga korban penembakan dari KKB. Kami sangat sedih dan kami sangat berduka,” ujar Johni saat penjemputan jenazah.
Johni juga mengecam keras aksi penembakan yang menewaskan warga NTT tersebut. Menurutnya, warga NTT yang berada di Papua datang untuk mengabdi dan melayani masyarakat, bukan untuk terlibat dalam konflik atau peperangan.
“Kami mengutuk keras tindakan keji, tindakan biadab dari KKB terhadap warga NTT yang menjadi korban. Mereka ada di sana untuk mengabdi kepada masyarakat Papua. Mereka di sana untuk melayani masyarakat Papua. Mereka bukan untuk berperang dengan siapa pun, tetapi mengabdi dan melayani dengan ketulusan. Kenapa harus dibunuh?” tegasnya.
Ia menegaskan, setiap pihak memiliki hak untuk memperjuangkan aspirasi. Namun, perjuangan tersebut tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan warga sipil ataupun merusak fasilitas umum yang digunakan masyarakat.
“Kalian boleh memperjuangkan apa yang kalian inginkan, tetapi jangan membunuh, mengorbankan rakyat sipil, merusak fasilitas umum, sekolah, rumah sakit. Itu adalah perbuatan yang tidak manusiawi,” katanya.
Johni berharap kelompok bersenjata menghentikan tindakan kekerasan terhadap warga sipil yang berada di Papua untuk bekerja dan mengabdi. Ia juga menyerukan agar kelompok tersebut kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kami harapkan para KKB untuk tidak mengganggu, tidak melakukan tindakan keji terhadap warga sipil yang mengabdi di Papua. Sadarlah untuk kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Karena NKRI akan membangun Papua dengan luar biasa dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Papua,” ujarnya.
Selain mengecam aksi penembakan, Johni meminta aparat penegak hukum segera melacak dan menangkap para pelaku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Kita harapkan pihak yang berwenang dapat melacak dan melakukan penangkapan terhadap para pelaku, dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku agar mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka,” kata Johni.
Menurutnya, penegakan hukum penting dilakukan untuk memberikan keadilan bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.(*)




