Jangan Lupa Diri: Anugerah Dari Allah

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kali kita bangga dengan dengan pencapaian yang kita peroleh. Itulah pula yang dialami oleh para rasul. Dan kebanyakan dari kita termasuk para rasul, merasa itu adalah karena prestasi kita, itu karena usaha, kerja keras, kemampuan atau kompetensi kita, sehingga kita bangga. Namun, kita lupa diri, kalau semua pencapaian itu karena kuasa dan anugerah dari Tuhan. Jadi, harusnya tahu diri.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 10: 17 – 24, yakni kembalinya ketujuh puluh murid dan ucapan syukur dan bahagia. Para saudaraku, tujuh puluh murid kembali dengan penuh euforia: roh jahat takluk, orang sakit sembuh, Kerajaan Allah diberitakan. Mereka merasa berhasil. Namun Yesus mengingatkan: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.” Pesan ini menembus HATI manusia modern. Kita hidup di zaman yang memuja prestasi: nilai, gelar, jabatan, karir, penghasilan. Ketika berhasil, kita mudah berkata, “Ini hasil kerja kerasku, aku pantas mendapatkannya.” Padahal, kesehatan, kecerdasan, kesempatan, bahkan napas hidup adalah anugerah dari Tuhan. Tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa. Tanpa kuasa-Nya, semua pencapaian hanyalah debu. Bahaya terbesar bukan kegagalan, melainkan lupa diri. Lupa bahwa keberhasilan bukan milik kita, melainkan pemberian-Nya. Lupa bahwa tangan Tuhanlah yang menopang. Karena itu, sukacita sejati bukanlah euforia sesaat atas pencapaian, melainkan kesadaran bahwa nama kita terukir di surga bukan karena kita hebat, melainkan karena KASIH Allah yang menebus.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, hidup ini bukan tentang seberapa tinggi kita terbang, tetapi seberapa dalam kita sadar bahwa sayap itu adalah pemberian Tuhan. Jangan berhenti pada keberhasilan duniawi yang fana. Rendahkan HATI, bersyukurlah, sebab semua adalah anugerah dari Tuhan. Dan bersukacitalah, sebab nama kita tertulis di surga jaminan yang tak tergoyahkan. Bangga boleh, tetapi jangan lupa diri. Rendah HATI dan SYUKUR adalah tanda sejati anak-anak Allah.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku sungguh menyadari bahwa setiap pencapaian dalam hidupku bukan semata hasil kerja keras, melainkan anugerah dari Tuhan?
2. Dalam hal apa saja aku cenderung merasa “berhak” atas keberhasilan, sehingga lupa bahwa semua itu hanyalah titipan dan kuasa dari Allah?
3. Apakah sukacitaku lebih bergantung pada prestasi duniawi, atau pada keyakinan bahwa namaku terukir di sorga sebagai anak Allah?

Selamat berefleksi… & Selamat berakhir pekan🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang penuh kasih, ingatkanlah kami bahwa segala keberhasilan bukanlah milik kami, melainkan anugerah dari-Mu.
Jauhkan kami dari kesombongan yang membuat kami lupa diri, dan tanamkanlah HATI yang rendah serta selalu bersyukur.
Biarlah sukacita kami berakar bukan pada prestasi duniawi, melainkan pada kepastian bahwa nama kami tertulis di sorga. Amin.