Belajar Dari Seorang Anak Kecil

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk.dalam Kristus. Dalam kehidupan sehari-hari, di masyarakat, kita umumnya selalu meremehkan atau tidak pernah menganggap anak kecil, karena dianggap tidak berpengalaman, tidak berpengetahuan, tidak tahu apa-apa, atau anak ingusan anai kemarin sore. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan pesta Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Pujangga Gereja.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 18: 1 – 5, yakni siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Para saudaraku, para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar. Yesus tidak menjawab dengan teori, melainkan menghadirkan seorang anak kecil. Anak yang dianggap tidak berpengetahuan, tidak berpengalaman, bahkan tidak dianggap, justru dijadikan teladan Kerajaan Surga. Mengapa? Karena anak kecil jujur tentang kelemahannya, tidak berpura-pura, dan tahu bahwa ia bergantung pada orang lain. Ia menangis tanpa malu, tertawa tanpa topeng, dan menggenggam tangan ayahnya tanpa ragu. Inilah sikap yang Yesus kehendaki: HATI yang rendah, polos, dan percaya.Kita, orang dewasa modern, sering sebaliknya. Kita sibuk membangun citra, menutupi kelemahan, mengejar pengakuan, dan merasa cukup kuat tanpa Tuhan. Anak kecil dipandang remeh, padahal justru mereka mengajarkan kerendahan hati yang memalukan orang besar. Dunia berkata: “Jadilah kuat, jadilah nomor satu.” Yesus berkata: “Jadilah kecil, jadilah rendah, jadilah seperti anak ini.”

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, mari kita renungkan: sudahkah kita sungguh belajar dari seorang anak kecil?Dunia mengajarkan untuk naik, Tuhan mengajarkan untuk turun. Dunia mengajarkan untuk berkuasa, Tuhan mengajarkan untuk melayani. Dunia mengajarkan untuk menuntut, Tuhan mengajarkan untuk menyambut. Jika hari ini kita lelah berpura-pura kuat, datanglah seperti anak kecil kepada Bapa. Karena ketika kita menyambut yang kecil, yang lemah, yang dianggap tidak berarti, sesungguhnya kita sedang menyambut Kristus sendiri. Kerendahan HATI anak kecil adalah jalan menuju kebesaran sejati di Kerajaan Surga. Maka pulanglah dengan tekad sederhana: aku mau belajar menjadi kecil, supaya Tuhan menjadi besar dalam hidupku. Amin.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya berani jujur tentang kelemahan dan luka saya di hadapan Tuhan, atau masih sibuk menutupi dengan topeng agar terlihat kuat?
2. Bagaimana selama ini saya memperlakukan anak-anak atau orang yang dianggap “tidak penting”? Apakah saya sungguh melihat Kristus di dalam diri mereka?
3. Apakah saya hidup dengan kesadaran bahwa tanpa Tuhan saya tidak bisa apa-apa, atau justru terjebak dalam ilusi kemandirian yang membuat saya menjauh dari-Nya?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk belajar dari seorang anak kecil: jujur tanpa topeng, rendah HATI tanpa pamrih, dan bergantung penuh pada-Mu. Bebaskan kami dari kesombongan dunia yang mengejar kuasa dan pengakuan, supaya kami sungguh menyambut yang kecil, yang lemah, dan yang terlupakan karena di dalam mereka, kami menyambut Engkau sendiri. Amin.