Tidak Berpakaian Pesta

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap hari Tuhan selalu mengundang kita untuk menghadiri perjamuan dengan puncaknya perayaan ekaristi pada hari Minggu. Namun, banyak kali kita dengan berbagai alasan untuk tidak hadir undangan dari Tuhan. Atau kalau pun hadir, terkadang kita asal hadir secara fisik, sebab hati kita ada di tempat lain. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XXVIII.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 22: 1 – 14, yakni perumpamaan tentang perjamuan kawin. Para saudaraku, undangan pesta pernikahan Anak Raja adalah gambaran undangan Tuhan kepada kita. Semua dipanggil, semua disediakan: meja perjamuan, hidangan, bahkan pakaian pesta. Namun, banyak yang menolak dengan alasan sibuk, lelah, atau tidak peduli. Ada pula yang datang, tetapi tanpa mengenakan pakaian pesta hadir secara fisik, namun HATI jauh dari Tuhan. Pakaian pesta bukanlah kain, melainkan simbol pertobatan dan manusia baru. Menolaknya berarti tetap mengenakan manusia lama: kesombongan, rutinitas kosong, atau HATI yang sibuk dengan dunia. Kita bisa duduk di bangku Gereja, menyanyi, bahkan menerima komuni, tetapi jika HATI tidak siap, kita sesungguhnya hadir tanpa busana pesta. Fenomena ini nyata dalam hidup modern. Kita sering berkata: “Saya sibuk, Tuhan.” Atau, “Saya hadir, kok asal hadir.” Kita duduk di Gereja, tetapi pikiran melayang ke pekerjaan, belanja, atau notifikasi di ponsel. Kita hadir, tetapi tidak sungguh hadir. Inilah wajah tamu modern yang tidak berpakaian pesta. Namun kabar baiknya: jubah pesta sudah tersedia. Tuhan sendiri menyiapkannya melalui pengampunan dan kasih-Nya. Yang Ia minta hanyalah kerendahan HATI untuk mengenakannya menanggalkan manusia lama, membuka HATI, dan datang dengan kesiapan batin.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, undangan Tuhan selalu terbuka. Ia tidak pernah berhenti memanggil, tetapi Ia juga tidak memaksa. Yang menentukan adalah respons kita: apakah kita mau mengenakan pakaian pesta atau tetap bertahan dengan pakaian lama?Jangan sampai kita menjadi orang yang seumur hidup hadir di pesta, tetapi tidak pernah masuk ke dalam sukacita-Nya. Jangan sampai kita duduk di meja perjamuan, tetapi HATI kita tertinggal di luar pintu. Hari Minggu, setiap Ekaristi, adalah kesempatan mengenakan jubah baru: jubah pertobatan, kerinduan, dan KASIH. Mari kita hadir bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan HATI yang sungguh siap. Karena yang membuat kita layak tinggal di ruang perjamuan bukanlah pakaian lama kita yang kusut, melainkan jubah Kristus yang kita kenakan dengan iman. Undangan sudah diberikan. Meja sudah tertata. Raja sudah menanti. Tinggal satu hal: apakah kita mau datang dengan berpakaian pesta?

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya sungguh hadir dalam perayaan Ekaristi dengan hati yang siap, atau sekadar hadir secara fisik tanpa keterlibatan batin?
2. Pakaian lama apa yang masih saya kenakan dosa, kesombongan, rutinitas kosong yang menghalangi saya mengenakan jubah pesta pertobatan?
3. Bagaimana saya merespons undangan Tuhan setiap hari — apakah dengan alasan sibuk dan menolak, atau dengan kerelaan hati untuk berubah dan berbuah?

Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Engkau selalu mengundang kami ke perjamuan kasih-Mu. Ampunilah bila kami sering menolak dengan berbagai alasan, atau hadir tanpa HATI yang siap.
Kenakanlah kami dengan pakaian pesta pertobatan, agar kami sungguh hadir dengan hati yang baru, bukan sekadar tubuh yang duduk di bangku gereja. Jadikanlah hidup kami manusia baru yang berbuah dalam kasih, sehingga layak duduk di meja perjamuan-Mu dan masuk ke dalam sukacita-Mu. Amin.