Menunggu Bukan Berarti Pasif

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Hidup kita di dunia ini adalah sebuah penantian. Penantian akan kedatangan Tuhan. Dan dalam penantian itu, berarti kita menunggu. Terkadang kita merasa bosan, atau malas-malasan. Itulah menunggu yang pasif. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XXXII.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 25: 1 – 13, yakni gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Para saudaraku, kita hidup di zaman yang penuh kesibukan. Hari-hari kita dipenuhi jadwal, pekerjaan, notifikasi, dan berbagai tuntutan yang seolah tidak pernah berhenti. Kita terbiasa menunggu banyak hal: menunggu kabar baik, menunggu kesempatan, menunggu keberhasilan, bahkan menunggu pengakuan dari orang lain. Namun di tengah semua penantian itu, sering kali kita lupa mempersiapkan diri untuk penantian yang paling penting, yaitu menyambut kedatangan Tuhan dalam hidup kita.

Melalui perumpamaan tentang sepuluh gadis, Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang yang menunggu sungguh-sungguh siap. Semua gadis membawa pelita. Semua menantikan pengantin. Bahkan semuanya sempat tertidur. Namun ketika pengantin datang, hanya lima gadis yang dapat masuk ke pesta. Perbedaannya bukan pada pelitanya, melainkan pada minyak yang mereka miliki. Lima gadis bodoh menggambarkan banyak orang modern dewasa ini. Mereka tidak menolak Tuhan, tetapi sering menempatkan Tuhan di urutan terakhir. Mereka begitu sibuk mengurus hal-hal yang tampak penting hingga melupakan yang paling penting. Mereka rajin mengisi daya telepon genggam, tetapi lupa mengisi HATI dengan doa, ibadat dan ekaristi. Mereka selalu terhubung dengan dunia digital, tetapi semakin jauh dari relasi yang intim dengan Tuhan. Mereka memiliki pelita, tetapi tidak memiliki persediaan minyak yang cukup untuk bertahan dalam penantian. Sebaliknya, lima gadis bijaksana melambangkan mereka yang menyadari bahwa iman harus dirawat setiap hari. Mereka tidak hanya percaya, tetapi juga memelihara hubungannya dengan Tuhan melalui doa, ibadat dan ekaristi, pertobatan, kesetiaan, dan KASIH kepada sesama. Mereka memahami bahwa menunggu bukan berarti pasif, melainkan tetap berjaga, tetap setia, dan tetap melakukan kebaikan meskipun waktu terasa panjang.

Minyak dalam perumpamaan ini melambangkan kehidupan rohani yang hidup dan terpelihara. Minyak itu tidak dapat dipinjamkan karena relasi dengan Tuhan tidak dapat diwakilkan oleh siapa pun. Setiap orang harus membangun kedekatan pribadinya sendiri dengan Tuhan. Tanpa minyak, pelita akan padam. Demikian pula tanpa doa, ibadat, ekaristi firman, dan pertobatan yang terus diperbarui, iman perlahan akan kehilangan cahayanya. Kita semua dipanggil menjadi pelita yang menyala di tengah dunia yang semakin gelap oleh egoisme, kesibukan, dan pencarian diri. Namun terang pelita itu bukan berasal dari kemampuan atau kebaikan kita sendiri. Pelita hanya dapat terus menyala jika minyaknya berasal dari Tuhan, Sang Sumber Terang. Semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin terang pula hidup kita bagi sesama. Karena itu, selama masih ada waktu, marilah kita terus mengisi pelita kehidupan kita dengan minyak KASIH, doa, ibadat, ekaristi, dan kesetiaan, agar ketika Tuhan datang, Ia mendapati kita siap menyambut-Nya dengan HATI yang penuh terang.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, di tengah dunia yang sibuk mengejar banyak hal, jangan sampai kita kehilangan hal yang paling utama. Jangan sampai kita memiliki pelita yang indah, tetapi kehabisan minyak. Jangan sampai kita tampak berhasil di hadapan manusia, tetapi tidak siap ketika berjumpa dengan Tuhan. Ingatlah, kita adalah pelita-pelita Tuhan di tengah dunia. Namun pelita tidak dapat menyala dengan sendirinya. Ia membutuhkan minyak. Begitu pula hidup kita. Terang yang memancar dari perkataan, pelayanan, KASIH, dan kesaksian hidup kita hanya akan bertahan jika terus mendapat minyak dari Tuhan, Sang Sumber Terang. Karena itu, jangan hanya berusaha menjadi terang, tetapi tinggallah dekat dengan Dia yang memberi terang. Sebab ketika Sang Pengantin datang, yang terpenting bukanlah seberapa sibuk atau hebat kita, melainkan apakah pelita iman kita masih menyala oleh minyak rahmat-Nya. Menunggu bukan berarti pasif, melainkan SETIA menjaga agar pelita tetap bernyala sampai saat Tuhan datang.

Pertanyaan Refleksi

1. Apa yang lebih banyak saya kejar saat ini: kesibukan dunia atau kedekatan dengan Tuhan?

2. Apakah pelita iman saya masih menyala karena doa dan relasi pribadi dengan Tuhan?

3. Langkah konkret apa yang akan saya lakukan hari ini untuk menambah “minyak” dalam kehidupan rohani saya?

Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan, Sang Sumber Terang, penuhilah hidup kami dengan minyak kasih, doa, dan kesetiaan. Jangan biarkan pelita iman kami padam karena kesibukan dunia. Bantulah kami untuk selalu berjaga dan setia, sehingga ketika Engkau datang, kami didapati siap menyambut-Mu dengan hati yang penuh terang. Amin.