Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap orang yang percaya dan beriman kepada Yesus disebut sebagai murid dan pengikut Yesus. Namun, pertanyaannya adalah apakah kita sungguh sebagai murid dan pengikut Yesus? Untuk itu, ada ukuran kelayakan sebagai seorang murid Yesus. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Karolus Borromeus, Uskup.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 14: 25 – 33, yakni segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut Yesus. Para saudaraku, mengikuti Yesus bukanlah keputusan yang diambil karena emosi sesaat, kebiasaan religius, atau sekadar ingin memperoleh berkat. Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak setiap orang untuk melihat dengan jujur apa arti menjadi murid-Nya. Ia tidak menawarkan jalan yang mudah, melainkan jalan KASIH yang menuntut komitmen penuh.
Ketika Yesus berkata bahwa seorang murid harus “membenci” ayah, ibu, keluarga, bahkan dirinya sendiri, Ia tidak mengajarkan kebencian. Yesus sedang berbicara tentang prioritas. Tidak boleh ada seorang pun atau apa pun yang menempati tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Tuhan. KASIH kepada keluarga tetap penting, tetapi KASIH kepada Kristus harus menjadi dasar dan arah dari semua KASIH yang lain. Jika Yesus menjadi yang utama, kita akan mengasihi keluarga bukan dengan sikap memiliki, melainkan dengan KASIH yang lebih tulus dan membebaskan.
Yesus kemudian berbicara tentang memikul salib. Di zaman sekarang, manusia cenderung mengejar kenyamanan, menghindari pengorbanan, dan mencari jalan yang paling mudah. Budaya instan membuat banyak orang ingin memperoleh hasil tanpa perjuangan, penghargaan tanpa pengabdian, dan kebahagiaan tanpa tanggung jawab. Karena itu, salib sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Padahal salib yang dimaksud Yesus adalah kesetiaan untuk tetap memilih yang benar meskipun sulit, tetap mengasihi ketika disakiti, tetap melayani ketika tidak dihargai, dan tetap jujur ketika kebanyakan orang memilih jalan pintas.
Melalui perumpamaan tentang orang yang membangun menara dan raja yang hendak berperang, Yesus mengingatkan bahwa menjadi murid membutuhkan kesadaran dan kesiapan. Banyak orang antusias memulai, tetapi sedikit yang bertahan sampai akhir. Murid sejati bukanlah mereka yang hanya kagum kepada Yesus, melainkan mereka yang berani menata hidupnya sesuai kehendak-Nya.
Tantangan itu terasa semakin nyata dalam kehidupan modern. Individualisme membuat orang lebih sibuk dengan diri sendiri daripada dengan sesama. Narsisme membuat banyak orang haus pengakuan dan pujian. Hedonisme menjadikan kenyamanan dan kesenangan sebagai tujuan hidup. Akibatnya, HATI mudah melekat pada popularitas, harta, karier, teknologi, atau citra diri. Tanpa sadar, Tuhan tidak lagi menjadi pusat hidup, melainkan hanya pelengkap di sela-sela kesibukan. Karena itu, ketika Yesus meminta kita melepaskan diri dari segala milik, Ia tidak terutama berbicara tentang harta benda, melainkan tentang kebebasan HATI. Seorang murid tidak boleh diperbudak oleh apa pun selain Tuhan. Ia boleh memiliki banyak hal, tetapi tidak boleh dimiliki oleh hal-hal itu.
Menjadi murid Yesus bukan berarti menjadi sempurna. Menjadi murid berarti terus-menerus belajar menempatkan Kristus di atas segala-galanya, memanggul salib setiap hari, dan berani melepaskan segala kelekatan yang menghalangi langkah kita mengikuti-Nya. Murid yang layak bukanlah yang tidak pernah jatuh, melainkan yang selalu bangkit dan kembali menjadikan Kristus sebagai pusat hidupnya.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, Injil hari ini mengajak kita bukan untuk bertanya, “Apakah aku masih mengikuti Yesus?”, melainkan, “Siapakah yang sebenarnya sedang kuikuti?”
Di tengah dunia yang mengajarkan “utamakan dirimu sendiri”, Yesus mengajarkan “serahkan dirimu.” Di tengah budaya yang mengejar kenyamanan, Yesus menawarkan salib. Di tengah masyarakat yang mengukur nilai seseorang dari kesuksesan, kekayaan, dan popularitas, Yesus mengukur seorang murid dari kesetiaan dan kasihnya. Maka marilah kita memeriksa HATI kita dengan jujur. Apa yang paling menguasai pikiran kita? Apa yang paling kita takutkan kehilangan? Apa yang paling sulit kita lepaskan? Jawaban atas pertanyaan – pertanyaan itu sering kali menunjukkan siapa yang sebenarnya bertakhta dalam hidup kita.
Hari ini Yesus tidak meminta kita menjadi hebat. Ia hanya meminta agar Ia menjadi yang pertama. Sebab ketika Kristus sungguh berada di pusat hidup kita, segala sesuatu yang lain akan menemukan tempatnya yang benar. Kiranya kita memiliki keberanian untuk melepaskan apa yang mengikat, kesetiaan untuk memikul salib dengan sukacita, dan kerendahan HATI untuk selalu mengikuti Kristus ke mana pun Ia menuntun. Sebab ukuran seorang murid bukanlah seberapa banyak ia tahu tentang Yesus, melainkan seberapa jauh ia bersedia menyerahkan hidupnya kepada Yesus. Amin.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah Yesus sungguh menjadi yang utama dalam hidup saya saat ini?
2. Salib apa yang sedang saya pikul dengan setia demi mengikuti Tuhan?
3. Kelekatan apa yang masih sulit saya lepaskan sehingga menghalangi saya mengikuti Yesus dengan lebih sungguh?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang baik, ajarlah kami untuk menempatkan Engkau sebagai pusat hidup kami. Berilah kami HATI yang rela melepaskan segala kelekatan yang menjauhkan kami dari-Mu dan kekuatan untuk memikul salib kami setiap hari dengan setia. Semoga kami semakin menjadi murid-Mu yang setia dalam kasih dan pengabdian. Amin.




