Rabuni, Aku Ingin Melihat

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. Kristus Tuhan. Setiap kita secara fisik, mata kita normal. Tetapi, bagaimana dengan mata hati dan batin kita, apakah juga normal?

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 10: 46 – 52, yakni Yesus menyembuhkan Bartimeus. Para saudaraku, Bartimeus hidup dalam gelap. Mata jasmaninya buta, tetapi mata hatinya menyala. Ia mendengar kabar: “Yesus dari Nazaret lewat!” Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”  

Orang banyak menegurnya, menyuruh diam. Namun iman sejati tidak pernah bungkam. Semakin ditegur, semakin keras ia berseru. Dan Yesus berhenti. Sang Guru semesta berhenti karena suara seorang pengemis buta. Bartimeus menanggalkan jubah lamanya, identitas dan masa lalu, lalu ia berdiri sebagai manusia baru. Ketika Yesus bertanya, “Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu?” ia menjawab dengan kerinduan sederhana: “Rabuni, aku ingin melihat.”  

Bagaimana dengan kita? Para saudaraku, saya percaya mata jasmani kita normal, tetapi sering HATI dan BATIN kita buta. Kita bisa menatap layar HP berjam-jam, namun enggan menatap wajah Yesus di altar atau tabernakel. Kita rajin membaca notifikasi, tetapi tuli terhadap bisikan Tuhan. Dunia digital membuat mata kita terbuka pada yang fana, tetapi tertutup pada yang kekal. Bartimeus mengajarkan kepada kita bahwa: keterbatasan bukan penghalang iman. Justru di tengah teguran dan halangan, iman sejati lahir dari seruan yang tulus.  

Pesan Untuk Kita

Yesus masih lewat di jalan hidup kita. Apakah kita cukup peka mendengar langkah-Nya? Beranikah kita berseru meski dunia menyuruh diam? Lepaskan jubah lama kita: kemalasan, kesibukan, layar HP yang berjam-jam, dan kebiasaan yang membutakan HATI.  

“Rabuni, aku ingin melihat.” Bukan sekadar melihat cahaya layar, melainkan wajah Yesus dalam doa, ibadat, sabda, dan ekaristi, serta sesama.  

Dialah terang yang tidak pernah padam, yang membuka mata HATI agar kita hidup sebagai murid yang setia. Amin 

Pertanyaan Refleksi

1. Iman Bartimeus membuatnya berani berseru meski ditegur orang banyak. Apakah saya juga berani bersuara dalam iman ketika dunia berusaha membungkam saya?  

2. Mata jasmani saya terbuka, tetapi apakah mata HATI saya tertutup oleh layar HP dan kesibukan dunia digital sehingga kurang peka terhadap wajah Yesus di altar atau tabernakel?  

3. Jubah lama Bartimeus ditanggalkan sebagai tanda hidup baru. Apa “jubah lama” dalam hidup saya yang perlu saya lepaskan agar bisa sungguh melihat Yesus?  

Selamat berefleksi🙏🙏

*Doa Singkat*

Ya Yesus, Rabuni,  

bukalah mata HATI kami yang sering tertutup oleh gemerlap dunia digital. Jauhkan kami dari kebutaan batin yang membuat kami sibuk menatap layar, namun lalai menatap wajah-Mu di altar dan tabernakel.  

Seperti Bartimeus, kami berseru dengan iman:  

“Rabuni, aku ingin melihat.” Bukan sekadar melihat yang fana, melainkan melihat Engkau dalam doa, sabda, sakramen, dan sesama. Amin.