Bukan Roti Biasa, Melainkan Roti Hidup

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Yesus adalah Roti Hidup yang telah turun dari Surga untuk menjadi makanan rohani bagi kehidupan jiwa kita. Sebagai Roti Hidup, Dia rela mengorbankan diri-Nya demi menyelamatkan kita. Sebagai murid-Nya kita pun dipanggil untuk “mengorbankan” diri untuk Tuhan dan sesama sesuai dengan kesanggupan kita. Pada hari ini, Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 6: 51 – 58, yakni Roti Hidup. Para saudaraku, manna di padang gurun memang mengenyangkan, tetapi hanya sementara. Nenek moyang Israel tetap mati. Itu roti biasa, ajaib, tetapi tidak mampu mengalahkan maut.Yesus datang membawa sesuatu yang jauh lebih besar. Ia berkata, “Akulah Roti Hidup yang turun dari surga.” Bukan roti untuk perut, melainkan santapan rohani: diri-Nya sendiri. Makan dan minum dalam arti iman, percaya, mengandalkan, dan hidup di dalam Dia. Bagi yang percaya, janji-Nya jelas: hidup kekal. Bukan sekadar panjang umur, tetapi hidup yang tak binasa, karena Kristus sendiri telah memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai harga keselamatan. Sebagai murid, kita pun dipanggil untuk menjadi roti bagi sesama. Tidak harus menyerahkan nyawa seperti Sang Guru, tetapi cukup mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk melayani, mendengarkan, dan memberi dari kecukupan atau mungkin dari kekurangan. Kita juga dipanggil datang kepada-Nya dalam doa, ibadat, dan ekaristi, menimba kekuatan dari Roti Hidup sejati agar hidup kita semakin serupa dengan Dia. Roti Hidup bukan sekadar ajaran, melainkan pribadi yang sudah memberikan diri-Nya seutuhnya. Kini giliran kita, maukah kita hidup dari-Nya dan menghadirkan-Nya bagi dunia? 

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, jangan habiskan hidup mengejar roti yang cepat basi. Datanglah kepada Roti Hidup yang tidak pernah habis dan tidak akan meninggalkanmu mati. Dan setelah Anda dikuatkan oleh-Nya, jadilah roti kecil bagi sesama, dengan hadirkan KASIH, PENGORBANAN, dan PENGHARAPAN di tengah dunia yang lapar. Sebab hidup kekal bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk dibagikan. Maka, sekali lagi, jadilah roti kecil bagi sesama dengan cara hidup yang bermakna, menyenangkan dan bernas dalam sikap, tutur kata dan bertindak.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku sungguh mengandalkan Yesus sebagai sumber kekuatan rohani, atau masih lebih sibuk mengejar “roti” dunia yang cepat habis?

2. Bagaimana aku dapat menjadi roti kecil bagi orang lain melalui pengorbanan waktu, tenaga, dan perhatian dalam kehidupan sehari-hari?

3. Apakah doa, ibadat, dan ekaristi sudah sungguh aku hayati sebagai kesempatan menimba kekuatan dari Roti Hidup sejati, atau hanya rutinitas yang cepat berlalu?

Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan, Engkau telah memberikan diri-Mu agar kami beroleh hidup kekal. Ajarlah kami untuk selalu datang kepada-Mu dalam doa, ibadat, dan ekaristi, menimba kekuatan dari kasih-Mu yang tak pernah habis. Jadikanlah kami roti kecil bagi sesama, yang rela berbagi waktu, tenaga, dan perhatian, agar dunia yang lapar dapat merasakan kehadiran-Mu. Bentuklah kami semakin serupa dengan-Mu, hingga hidup kami menjadi saluran KASIH dan PENGHARAPAN. Amin.