Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kali ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, kita mengharapkan bahwa orang lain akan membalasnya juga, setidaknya ucapan terima kasih, pujian atau apresiasi terhadap kita. Namun, Yesus bersabda: kamu telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu berilah dengan cuma-cuma pula. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Barnabas, Rasul.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 10: 7 – 13, yakni Yesus mengutus kedua belas rasul. Para saudaraku, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk menyembuhkan, membangkitkan, mentahirkan, dan mengusir setan. Lalu Ia menegaskan: kamu telah menerima dengan cuma-cuma, maka berilah dengan cuma-cuma.Mengapa perlu diucapkan? Karena manusia memiliki kecenderungan jatuh pada logika do ut des , aku memberi supaya engkau memberi. Tradisi balas budi ini menyusup halus dalam hidup: hadiah demi hadiah balik, bantuan demi pertolongan kelak, bahkan pelayanan rohani demi pujian. Sabda Yesus menghantam logika itu. Semua yang kita miliki , hidup, talenta, kesehatan, rezeki, adalah pemberian cuma-cuma dari Allah. Kita bukan pemilik, melainkan penggarap. Injil tentang penggarap kebun anggur yang jahat (Matius 21) mengingatkan kepada kita: ketika merasa berhak atas titipan Tuhan, kita berubah menjadi pencuri yang menolak memberi hasil kepada Sang Pemilik. Memberi dengan perhitungan berarti menutup aliran KASIH. Sebaliknya, memberi dengan cuma-cuma berarti membiarkan KASIH Tuhan mengalir bebas melalui kita, tanpa catatan, tanpa tagihan, tanpa pamrih, tanpa perhitungan.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, hari ini ketika engkau memberi senyum, waktu, atau tenaga, ingatlah: itu bukan transaksi, melainkan aliran KASIH. Jangan menjepitnya dengan “balas budi.” Biarlah pemberianmu melayang bebas, seperti burung yang terbang tanpa menagih angin. Sebab semua adalah titipan, dan tanda penggarap setia adalah memberi dengan tangan terbuka, mengembalikan kemuliaan kepada Sang Pemilik melalui KASIH yang cuma-cuma.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah aku memberi dengan hati tulus, atau masih terikat pada logika do ut des — memberi supaya diberi kembali?
2. Apakah aku sadar bahwa semua talenta, waktu, dan rezeki hanyalah titipan Tuhan, bukan milikku sendiri?
3. Apakah aku rela membiarkan KASIH Tuhan mengalir bebas melalui diriku tanpa menghitung balas budi atau imbalan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan, Sang Pemilik segala sesuatu, ajarilah aku untuk memberi tanpa pamrih, tanpa terikat pada do ut des atau balas budi. Ingatkan aku bahwa hidup, waktu, dan talenta hanyalah titipan-Mu. Biarlah kasih-Mu mengalir bebas melalui diriku, agar setiap pemberian menjadi tanda syukur dan kemuliaan kembali kepada-Mu. Amin.




