Jangan Suka Pamer

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita suka sekali pamer kehebatan, kekayaan, kebaikan, kecantikan, kegantengan, kepintaran, postingan , status, profil, dan pamer-pamer yang lainnya. Yesus tidak suka dengan orang yang suka pamer, karena biasanya menunjukkan orang yang sombong. Yesus suka orang yang rendah hati, yang low profile, yang tidak suka pamer. 

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 6: 1 – 6. 16 – 18, yakni hal memberi sedekah, hal berdoa dan hal berpuasa. Para saudaraku, kita hidup di era tontonan. Segalanya ingin dilihat, dinilai, divalidasi, diakui atau diapresiasi, oleh orang lain. Bahkan urusan rohani pun sering berubah menjadi panggung untuk meraih pengakuan. Yesus dalam bacaan Injil hari ini, menegaskan: “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka; jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.” Tuhan tidak suka dengan orang yang pamer. Ia melihat di kedalaman HATI, bukan penampilan luar. Kita sering kali pamer sedekah, doa, atau puasa. Semua berujung pada pujian manusia, yang nilainya hanya sementara. Yesus justru mengajarkan: memberi dengan tulus tanpa haus pengakuan, berdoa dalam hening, berpuasa tanpa wajah muram. Ibadah sejati lahir dari HATI yang rendah, bukan dari pertunjukan yang riak. Awas singa berbulu domba: orang yang tampak saleh di luar, namun di dalam penuh kesombongan. Kesombongan rohani adalah awal kehancuran. Sebaliknya, kerendahan HATI mengundang Tuhan tinggal. Orang yang rendah HATI tidak suka pamer, sebab ia tahu: pujian manusia tak sebanding dengan senyum Tuhan dalam diam. 

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, mungkin tak ada yang melihat air matamu saat berdoa, tak ada yang tahu lelahmu saat berpuasa, tak ada yang mengapresiasi pemberianmu yang diam-diam. Tetapi percayalah: Bapa di surga mencatat semuanya. Saat dunia memberi tepuk tangan dan pujian yang akan cepat berlalu, Dia memberi upah yang kekal. Biarlah ibadahmu jadi rahasia antara engkau dan Dia. Karena dalam hening itulah, kemuliaan Tuhan nyata.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah selama ini saya beribadah demi Tuhan atau demi pengakuan manusia?

2. Pernahkah saya merasa lebih saleh dari orang lain hanya karena tampilan luar ibadah saya?

3. Bagaimana saya bisa menjaga agar doa, sedekah, dan puasa tetap lahir dari hati yang tulus, bukan dari keinginan untuk dipuji?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang melihat hati, ajarilah aku beribadah dengan tulus, tanpa haus pengakuan manusia. Jauhkanlah aku dari kesombongan rohani, dan tanamkan kerendahan HATI agar setiap doa, sedekah, dan puasa menjadi persembahan murni hanya bagi-Mu. Amin.