Opini  

Deru Terakhir di Hutan Jati

Karya Cerpen: Aster Bili Bora

Karya Cerpen: Aster Bili Bora 

Aroma kopi Sumba dan asap tembakau mengepung ruang tamu rumah panggung itu. Di sudut ruangan, Ance, gadis rupawan usia 22 tahun, duduk menunduk dengan jemari gemetar. Di tengah ruangan, kedua keluarga besar sedang bertaruh strategi. Ambo, sang kekasih, datang membawa satu ekor kuda dan sebatang parang sebagai tanda ketulusan dalam ritual ketuk pintu. Namun, adat memiliki timbangannya sendiri. Ketika jubir keluarga perempuan menggelegar, keputusan telah dikunci: sepuluh ekor hewan untuk masuk minta, dan dua puluh ekor untuk pindah adat.

Keesokan harinya, kepala Ambo serasa pecah. Ia termenung di balai-balai, menatap padang sabana yang gersang. Keluarganya bukan siapa-siapa. Satu ekor kuda pun tak punya, apalagi tiga puluh. Paksa orang tua berutang ke sana kemari? Ambo tidak tega. Gara-gara belis, orang tua bisa mati konyol!
Malamnya, di bawah kesaksian bintang-bintang, Ambo menggenggam jemari Ance.

“Kita harus pergi merantau. Setelah sukses di sana, kita pulang selesaikan adat,” bisik Ambo tegas. Dengan izin bersyarat dari keluarga perempuan yang berhati longgar, sepasang kekasih itu membalikkan badan dari tanah leluhur, melangkah menuju Batam.

Batam adalah dunia asing—penuh beton, debu pabrik, dan deru mesin yang bising. Namun, nasib baik masih berpihak. Setelah beberapa hari luntang-lantung mencari kerja, mereka diterima. Ance pembantu rumah tangga dengan gaji dua juta rupiah per bulan. Ambo memeras keringat menjadi peladen buruh kasar di proyek infrastruktur dengan gaji tiga juta rupiah. Dua tahun lamanya mereka hidup super hemat. Setiap rupiah dikunci rapat di dalam tabungan, hingga angka lima puluh juta berhasil digenggam.

Pihak keluarga di Sumba mulai mendesak. Urusan adat harus segera diselesaikan. Atas kesepakatan bersama, Ance diizinkan pulang lebih dahulu membawa uang lima puluh juta , sementara Ambo tetap tinggal di Batam untuk menjaga arus penghasilan.
Kembali ke kampung halaman, euforia sempat membuncah. Beberapa hari kemudian, Ance pergi ke kota mengendarai sepeda motor tetangga untuk mencairkan uang di bank, dan berniat langsung melanjutkan perjalanan ke pasar hewan untuk membeli kerbau dan kuda.
Nahas tidak sempat cek tangki motor. Di sebuah jalur sepi yang membelah kawasan hutan jati, jauh dari pemukiman warga, motor yang membawa Ance tersentak-sentak lalu mati total.. Bensin kosong! Dalam posisi bingung dan ketakutan di tengah sunyinya hutan, terdengar suara mesin lain mendekat dari belakang. Seorang laki-laki dewasa menghentikan motornya.
“Ou, kenapa?”.
“Motor mati. Di mana yang jual bensin?” tanya Feli, pemilik motor yang bonceng Ance sambil menyeka keringat di dahinya.
“Ou, di depan sana, dekat,” jawab laki-laki itu.
“Bisa tolongkah?” Tanya Ance dengan nada setengah manja.
“ Mari!”

Tanpa curiga, Ance naik boncengan. Lelaki itu memacu motornya melaju menembus rimbunnya hutan. Sementara itu, Feli yang menemani Ance di lokasi awal dengan sabar menunggu. Satu jam berlalu Ance belum kunjung tiba. Feli penasaran dan mulai pikir yang aneh-aneh, padahal katanya penjual eceran tidak jauh.

Hampir sore, sesosok tubuh berjalan sempoyongan dari tikungan jalan. Langkahnya lunglai, pakaiannya kotor, rambutnya kusut masai, dan napasnya terengah-engah seperti orang yang jiwanya baru saja dicabut paksa.
“Kau kenapa, Ance?!” teriak Feli panik.
Tangis Ance pecah, suaranya parau dan bergetar hebat.
“Kena rampok… uang ludes… diperkosa!”
Kabar kelam itu menjalar cepat, menyeberangi lautan hingga mendobrak pintu kos Ambo di Batam melalui sambungan telepon. Dunia Ambo runtuh seketika. Uang lima puluh juta hasil tebusan darah dan keringatnya hilang, dan yang paling menghancurkan hatinya: tubuh wanita yang paling dihormatinya telah dinodai. Marah, dendam, dan air mata bercampur menjadi satu. Ambo ingin langsung pulang.

Namun, di tengah badai amarah, logika cintanya tegak berdiri. Jika ia pulang sekarang tanpa uang, urusan adat akan mati total, dan ia hanya akan membawa ratapan. Ambo menarik napas dalam-dalam, menggenggam teleponnya erat-erat.

“Ance,” ucapnya dengan suara bergetar namun sekeras batu karang. “Saya tidak akan pulang sekarang. Saya tetap di Batam. Saya akan bertarung lebih gila lagi di sini untuk cari kembali lima puluh juta itu dalam waktu singkat! Jaga dirimu di kampung, pegang cinta kita!”
Sejak hari itu, Ambo berubah menjadi mesin yang menolak lelah. Siang hari ia membanting tulang di proyek hingga batas waktu lembur habis. Malamnya, tanpa istirat, ia menyambung hidup menjadi buruh angkut barang di pelabuhan.. Cara kerja Ambo yang lurus dan rajin ini membuahkan banyak pujian dari mandor dan sang bos proyek.
Namun, kilau prestasi Ambo justru menyulut api cemburu. Di mess proyek yang sama, ada sekelompok pemuda sesama perantau dari Sumba yang bermental malas dan tahu enaknya saja. Mereka ingin cepat kaya, tetapi enggan memeras keringat. Melihat Ambo yang terus disayang bos, hati mereka panas oleh dengki. Ambo yang jujur akhirnya dijadikan tumbal fitnah.

Suatu malam, salah seorang kawan Sumba yang malas itu mengarang cerita bohong. “Uang saya dua juta hilang! Pasti Ambo ambil di dompet. Bergaya kerja siang malam macam sangat rajin hanya untuk menutupi kelakuannya.”

Teman-teman lain pikirnya benar, langsung menelan mentah-mentah cerita itu. Tanpa pikir panjang empat pemuda Sumba langsung keroyok Ambo suatu malam. Ambo dihajar habis-habisan tanpa ampun hingga tubuhnya bersimbah darah dan mengalami luka parah. Beruntung, sang bos proyek segera mengetahui kejadian itu. Dengan amarah besar, bos melarikan Ambo ke rumah sakit, sementara keempat pemuda pengeroyok langsung diamankan pihak kepolisian.

Setelah beberapa hari Ambo dirawat dan berangsur sembuh, kasus penganiayaan berat atas dirinya mulai diproses hukum. Dalam penyelidikan intensif di kantor polisi, seluruh kebohongan itu akhirnya terbongkar. Tidak ada satu pun bukti kuat yang mengarah pada tuduhan pencurian oleh Ambo. Tersudut oleh kebenaran, terakhir keempat pelaku itu tertunduk lesu dan mengakui di depan penyidik bahwa perbuatan keji mereka murni atas dasar curiga dan dengki. Ambo sesungguhnya tidak mencuri.
Berdasarkan pengakuan itulah, polisi berniat melanjutkan proses hukum tindak penganiayaan bersama pasal fitnah untuk menjebloskan keempatnya ke dalam penjara. Namun, di sinilah keluhuran budi Ambo diuji. Di dada pemuda Sumba itu, mengalir sifat iba dan cepat kasihan yang mendalam. Alih-alih menaruh dendam atas tulang-tulangnya yang sempat remuk, Ambo justru minta polisi menghentikan pemeriksaan dan diakhiri dengan mediasi perdamaian.

“Kita ini bersaudara dari satu tanah, satu rahim Sumba. Biarlah luka saya sembuh, asalkan pikiran kalian juga ikut sembuh,” ujar Ambo lirih di depan keempat temannya yang menangis sujud memohon ampun. Kebesaran hati Ambo justru menjadi tamparan batin yang paling keras bagi mereka. Sang bos yang melihat hal itu makin kagum dan memberikan bonus tambahan atas kejujuran serta loyalitas Ambo. Rasa iba Ambo berbuah berkah yang mempercepat tabungannya terisi kembali.

Di Sumba, Ance bergulat hebat dengan hantu traumanya. Setiap kali mendengar deru mesin motor, tubuhnya gemetar hebat. Deru terakhir di hutan jati itu terus terngiang sebagai kutukan yang mengunci dirinya di dalam kamar. Namun, keteguhan Ambo di Batam menjadi obat. Ambo tidak mencelanya, bahkan Ambo baru saja melewati badai fitnah dan darah di tanah rantau demi menjaga kesetiaan mereka. Ance tahu, ia tidak boleh menyerah pada ketakutan.
Kebetulan, rumah orang tua Ance terletak sangat strategis, tepat di dekat lokasi sekolah. Melihat peluang itu, didampingi ibunya, Ance perlahan bangkit mencari kesibukan. Ia memilih mengalihkan seluruh luka batin dan energinya untuk membuat dan berjualan kue.

Setiap subuh, aroma adonan kue yang digoreng mulai memenuhi dapur rumahnya. Saat bel sekolah berbunyi dan ratusan anak sekolah mengerumuni lapak dagangannya, Ance dipaksa untuk kembali berinteraksi dengan dunia luar. Tawa riang anak-anak, riuh celoteh mereka yang berebut kue, dan kesibukan menghitung uang receh kembalian perlahan-lahan mengikis rasa sunyi dan takut yang ditinggalkan hutan jati. Jualan kue itu bukan sekadar urusan mencari uang, melainkan menjadi terapi jiwa bagi Ance untuk merajut kembali senyum dan rasa percaya dirinya yang sempat robek. Dagangannya laris manis, memberikan tabungan tambahan bagi masa depan mereka.

Satu tahun berlalu dari tragedi berdarah dan kelam itu. Keajaiban dari kerja keras ekstrem di Batam dan ketulusan usaha jualan kue di Sumba berbuah nyata. Angka di buku tabungan Ambo kembali menyentuh nominal yang hilang, bahkan lebih. Fisiknya kurus kering, kepalan tangannya penuh luka, namun matanya menyala penuh kemenangan saat ia akhirnya melangkah turun di pelabuhan Waikelo dengan ransel kumalnya.
Mendengar kabar kepulangan Ambo dan rentetan kemalangan bertubi-tubi yang menimpa kedua anak muda itu—mulai dari perampokan uang lima puluh juta dan pemerkosaan keji yang menimpa Ance oleh lelaki biadab, hingga penganiayaan berdarah yang dialami Ambo di tanah rantau—hati orang tua Ance luluh sepenuhnya. Rasa kasihan dan cinta seorang ayah mengalahkan segala batas dinding kokoh bernama adat.

Malam itu, di dalam rumah panggung, dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya yang berkerut, ayah Ance mengungkapkan rasa pilu dan sayangnya yang mendalam. Sebuah pernyataan mutlak yang mengunci mulut juru bicara adat dan tidak boleh dibantah oleh keluarga besar.
Di depan Ance dan Ambo yang duduk bersimpuh, ayah Ance menatap menantunya dengan pandangan teduh, lalu menyatakan dengan tegas:
“Ambo, belis itu masih berapa?”
“Tiga puluh, Bapak. Sepuluh kerbau dan dua puluh kuda,” jawab Ambo pelan, kepalanya tertunduk.

Ayah Ance mengusap air matanya, lalu berkata dengan suara bergetar namun penuh wibawa seorang kepala keluarga, “Begini, anak! Cukup sudah satu kerbau dan dua kuda. Lunas sudah!”

Ambo tersentak, dadanya bergemuruh. Ia menatap bapak mantunya dengan tatapan tidak percaya sekaligus cemas. “Aduh, Bapak! Nanti kita kena marah !”
“Siapa yang marah?” tukas ayah Ance dengan sorot mata tajam yang melindungi. “Saya yang punya anak. Susah-senangnya saya yang rasa, dan kamu yang pikul!”

Mendengar keputusan mutlak itu, tangis Ance dan Ambo pecah. Mereka bersujud di kaki sang ayah yang berhati mulia. Beban berat puluhan ekor hewan yang selama bertahun-tahun meremukkan pundak mereka, malam itu luruh total digantikan oleh air mata keharuan dan kelegaan.

Di batas kampung, di bawah langit sabana yang mulai meredup, esok harinya mereka berdiri tegak. Tidak ada lagi gurat trauma atau ratapan sedih di wajah rupawan Ance. Deru terakhir di hutan jati tidak lagi menjadi suara kutukan yang menakutkan, melainkan genderang penutup dari sebuah badai yang berhasil mereka lewati bersama. Kini, dengan tabungan yang utuh, cinta yang teruji darah dan air mata, serta restu tulus orang tua, mereka siap melangkah maju menantang masa depan dengan kepala tegak.

Tambolaka, 26 Agustus 2026