Malam itu, Pelabuhan Waikelo perlahan menyusut menjadi segaris lampu redup di balik jendela kapal feri yang bergetar.
Kalis merapatkan jaket jeansnya yang mulai lembap oleh uap laut, mencoba mengusir dingin yang sebenarnya bukan berasal dari angin malam, melainkan dari dadanya sendiri.
Di dalam tas ransel usangnya, selembar ijazah sarjana dengan predikat cum laude terlipat paksa bersama pakaian seadanya. Ijazah yang dahulu ia sangka akan menjadi tiket menuju kehormatan, kini tidak lebih dari selembar kertas yang menertawakan nasibnya.
Bau solar kapal dan aroma laut malam itu mendadak memicu ingatan kelam di kepala Kalis. Semua bermula dua bulan lalu ketika ia membersihkan kamar mendiang ayahnya.
Di bawah kolong tempat tidur yang berdebu tebal, ujung rotan sapunya menyenggol sebuah kotak kaleng usang. Di dalamnya ada sepucuk surat lusuh bertuliskan tangan sang ayah yang gemetar:
“Kalis, anakku yang pintar… Maafkan bapak yang tidak pernah bisa jujur padamu. Semua biaya kuliah dan pakaian bagusmu berasal dari tali kekang kerbau dan kuda yang bapak bawa lari dari kandang-kandang warga di malam buta. Bapak adalah pencuri sapurata yang dibenci tanah ini. Tapi bapak mohon, Kalis, jangan jadi pencuri seperti bapak. Jadilah orang yang berbeda dari bapak agar kau disenangi dan disayang banyak orang.”
Surat nasihat itu ditulis dengan cinta seorang ayah, namun bagi Kalis, itu adalah awal dari kejatuhannya. Statusnya sebagai anak seorang pencuri sapurata—pembegal kelas berat yang menghabiskan hewan ternak warga tanpa sisa—menyebar secepat api di sabana kering.
Sore itu di sebuah kedai kopi di depan alun-alun kota Tambolaka, lingkaran teman-teman sarjananya yang biasanya memuji Kalis sebagai mercusuar masa depan kampung, tiba-tiba berubah. Begitu Kalis berbalik ke toilet, Gerson, sahabat kentalnya yang datang dari keluarga terpandang dan baik-baik, berbisik tajam penuh racun kejijikan.
“Bagaimana bisa kita terus memakai namanya di proposal? Dia itu keturunan bangkai. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah penjahat biadab. Sekali keturunan pencuri sapurata, sampai mati wataknya akan menjadi penyakit sosial yang tidak akan sembuh-sembuh.”
Kalis yang mendengar itu dari balik pilar memilih pergi lewat pintu belakang tanpa pamit. Malu..! Malamnya, di dalam kamar sepi, Kalis mendapati nomor ponselnya telah diblokir secara massal dan diam-diam oleh seluruh teman perjuangannya. Kehadirannya dihapus dari memori kolektif mereka seolah-olah ia adalah sampah busuk yang menular. Sepeninggal kedua orang tuanya, Kalis memantapkan hati menaiki kapal feri menuju daerah baru yang belum mengenal latar belakang garis keturunannya.
Feri malam itu mengantarkan Kalis ke bumi Manggarai, sebuah daerah nansubur dengan sawah yang membentang luas sewarna zamrud. Di tanah baru ini, Kalis terlahir kembali dengan menampilkan karakter terbaiknya sebagai pemuda santun dan pekerja keras. Kecerdasannya yang di atas rata-rata membawanya lulus murni dalam seleksi tes PNS.
Di sana pula, ia menemukan pasangan hidupnya, seorang enu Manggarai bernama Elis, yang lulus tes P3K dan mengajar sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu SMA di kabuapen itu. Kehidupan mereka melesat mapan dan lumayan kaya. Kalis bahkan berhasil membeli lahan seluas 1000 meter persegi dan membangun rumah idaman yang sangat menyenangkan hati Elis.
Namun, langit tidak selamanya biru.
Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, bumi Flores mengamuk. Gempa tektonik berkekuatan dahsyat meluluhlantakkan fondasi kehidupan mereka. Dalam hitungan detik, rumah idaman mereka retak dan rata dengan tanah. Kehidupan mapan itu berpindah total ke tenda-tenda darurat yang dilingkupi duka yang makin dalam. Di bawah temaram lampu teplok pengungsian, Kalis sempat merenung secara rahasia agar tidak terbongkar di mata istrinya.
Ia didera ketakutan luar biasa, apakah bencana jahanam ini adalah upah murni dari dosa kejahatan sapurata ayahnya di masa silam.
Di tengah kecemasan itu, ujian takdir kembali mendatangi Kalis. Saat berjalan di dekat area sanitasi terpal yang kumal, ia menemukan sebuah dompet kulit cokelat terjatuh. Setelah dibuka, di dalamnya berjejer rapi lembaran uang merah total dua juta rupiah. Bertekad membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang berbeda dari ayahnya, Kalis bergerak cepat.
Ia membuat pengumuman secara langsung di posko dan mengunggahnya ke grup Facebook komunitas Manggarai. Ia sengaja tidak menyebutkan keberadaan uang apalagi jumlahnya, demi menyaring pemilik yang sebenarnya.
Satu hari kemudian, seorang ibu paruh baya dengan kain sarung lusuh datang tertatih-tatih mendekati posko darurat.
“Karaeng Tua, saya dengar ada yang temukan dompet kulit cokelat di dekat tangki air?” Tanya ibu itu dengan suara parau menahan tangis.
Kalis menyambutnya dengan senyum santun. “Betul, Ibu. Tapi untuk memastikan, bisa sebutkan apa ciri khusus dan apa isi di dalamnya?”
“Dompet itu jahitannya sudah lepas di sudut kanan, Pak. Di dalamnya tidak ada identitas, tapi ada uang dua juta rupiah, lembaran seratus ribu semua diikat karet gelang kuning. Itu uang bantuan untuk beli obat anak saya yang asmanya kambuh karena debu runtuhan rumah…” Ibu itu menangis sesenggukan.
Kalis merogoh saku jaketnya dan menyerahkan dompet itu utuh. “Ini milik Ibu. Silakan diperiksa kembali, tidak berkurang satu rupiah pun.”
Melihat karet kuning dan lembaran uang itu masih utuh, sang ibu langsung bersujud di tanah kering bersimbah air mata haru. Beberapa pengungsi dan kepala desa yang menyaksikan kejadian itu langsung mendekat. Kepala desa menepuk bahu Kalis dengan rasa takzim yang amat dalam.
“Orang Sumba memang luar biasa! Karaeng Tua ini buktinya! Dia adalah orang Sumba yang paling baik dan takut berdosa, sama seperti watak orang Sumba pada umumnya yang memegang teguh kejujuran.”
Kalis tersenyum getir, namun dadanya terasa plong luar biasa. Orang-orang di tanah rantau ini memujinya sebagai manusia Sumba paling baik. Mereka sama sekali tidak tahu—dan tidak perlu tahu—bahwa lelaki jujur itu memiliki aliran darah seorang pencuri sapurata.
Di dalam tenda darurat itu pula, sebuah kabar dari tanah Sumba mampir ke gawai Kalis melalui seorang kerabat jauh yang masih tersisa. Penyesalan mendalam kini berbalik menghantam teman-teman lamanya yang dahulu menyudutkan Kalis.
Gerson dan kawan-kawannya, yang dahulu membanggakan diri lahir dari keluarga baik-baik dan terpandang, kini mendapati kenyataan hidup yang berbanding terbalik. Alam dan takdir berkata lain. Hingga detik ini, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menjadi apa-apa. Ijazah mereka menganggur. Bahkan, beberapa di antara mereka terjerembab ke dalam pusaran stres berat akibat ketiadaan kerja, beralih menjadi para pengacau dan pemabuk tak keruan yang menghabiskan malam dengan memeluk botol moke di pinggir jalan.
Mereka yang dahulu mengusir sang “anak pencuri”, kini justru meratapi nasib di atas tanah sabana, sementara Kalis yang mereka cap sebagai sampah busuk, telah memutus kutukan darahnya dan tegak berdiri sebagai manusia terhormat.
Manusia memang tidak pernah bisa memilih dari rahim mana ia dilahirkan, dan dosa masa lalu orang tua bukanlah penyakit genetis yang harus diwariskan.
Watak dan kehormatan seorang manusia tidak ditentukan oleh darah yang mengalir di tubuhnya, melainkan oleh keputusan-keputusan moral yang ia ambil saat hidup mengujinya di titik terendah. Keberanian untuk jujur di tengah kehancuran adalah pembuktian tertinggi bahwa kita adalah tuan atas takdir kita sendiri, sementara kemunafikan yang dibungkus latar belakang keluarga baik-baik kelak akan ditelanjangi oleh waktu.
Tambolaka, 21 Agustus 2026
BIODATA PENULIS
Aster Bili Bora lahir di Sumba Barat, 28 Oktober 1958. Tamatan SDK Pasono Bendu 1971, SMPK Kalembu Weri 1974, SMAK Anda Luri 1977, Pendidikan S1 Bahasa dan Seni FKIP Undana Kupang 1983. Guru SNAKMA Negeri Kupang 1982-1986, SMA Negeri 1 Waikabubak 1986-2000, Kepala SMA Negeri 1 Loura 2000-2007, Koordinator Pengawas 2007-2013. Pensiun dini dari PNS dan terjun dalam politik sebagai calon DPRD Provinsi 2013.
Penulis yang berbakat organisasi ini terpilih sebagai ketua PGRI Kabupaten Sumba Barat Daya dua periode (2008-2020), Wakil Ketua PGRI Sumba Barat Daya 2020-2025, Pembina Yayasan Pendidikan PGRI 2008-2025. Pendiri SMA PGRI Tambolaka 2013, SMP PGRI Mandungo 2016, dan pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat PRIMA BUDI 2016, Penasihat dan penggagas Asosiasi Peternak Unggas Sumba Barat Daya 2022
Dalam kegiatan menulis, awalnya sebagai jurnalis 1979-1986. Setelah diangkat jadi PNS, ia menghabiskan waktu luangnya dengan menulis. Karya-karyanya berupa Opini, Esai, puisi, dan cerpen dimuat di surat kabar dan majalah, antara lain: Harian: Tegas Ujung Pandang, Suara Karya Jakarta, Pos Kupang, Timor Expres Kupang, Victorynews Kupang, majalah: Fakta Jakarta, Femina Jakarta, Hidup Jakarta, expontt.com, dan satusumba.com
Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), dan Bilang saja saya sudah mati ( 2022). Antologi cerpennya yang juga segera akan terbit berjudul: Laki yang terbuang dan Lahore. Lima karya puisi dari penulis ini juga dimuat dalam Antologi bersama 51 penyair NTT pada tahun 2018 dengan judul: Seruling Perdamaian Dari Bumi Flobamora, dua cerpen dalam antologi bersama dengan judul Tanah Langit NTT tahun 2021, dan antologi esai bersama 32 pengarang dengan judul: Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Gairah Literasi Mencerahkan Hati tahun 2022, Cambuk Kehidupan tahun 2023, Peribahasa 2 (tahun 2025), Antologi cerpen bersama 20 pengarang lain dalam buku: Senandung Kata, Merangkai Cerita (tahun 2025), Antologi Puisi bersama 13 pengarang lain dalam buku: Jejak Rindu di Ujung Kata (tahun 2025). Karya novel yang sedang dalam persiapan berjudul: Laki yang kesekian-sekian




