EXPONTT.COM – Duka mendalam kembali menggelayuti Indonesia Timur. Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, bumi Flores dirundung nestapa akibat guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang bersumber dari aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). Hanya dalam hitungan hari pascabencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa korban jiwa telah mencapai 68 orang.
Angka ini bukan sekadar statistik kuantitatif; mereka adalah para ibu, ayah, anak, dan saudara kita yang kehilangan masa depannya dalam sekejap akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Dampak kerusakan fisik pun masif. Lebih dari 19.000 unit rumah tinggal serta ratusan fasilitas umum—termasuk 253 bangunan sekolah di Manggarai Raya—mengalami retak berat hingga roboh total.
Tidak berhenti di situ, psikologis puluhan ribu warga di sepanjang pesisir utara Flores, mulai dari Kabupaten Nagekeo, Sikka, Ende, hingga Manggarai terus diuji.
Hingga Selasa, 18 Agustus 2026, BMKG mencatat telah terjadi lebih dari 2.119 gempa susulan.
Ribuan dentuman kecil dan guncangan sekunder yang terus berulang memaksa lebih dari 22.000 warga bertahan di tenda-tenda darurat dan area perbukitan tinggi karena dibayangi rasa trauma yang mendalam.
Melihat nestapa yang dialami saudara-saudara kita di Flores, ungkapan empati belaka tentu tidak lagi mencukupi. Flores saat ini berada dalam fase tanggap darurat yang memerlukan tindakan kolektif nyata.
Di area pengungsian, kebutuhan akan logistik dasar seperti makanan siap saji, pasokan air bersih, obat-obatan, tenda medis, serta matras dan selimut sangat mendesak.
Terputusnya akses jalan akibat tanah longsor di beberapa titik pedalaman Flores juga semakin mempersulit distribusi bantuan, yang menuntut adanya sinergi logistik darurat yang lebih masif dari pemerintah pusat maupun gerakan swadaya masyarakat lintas daerah.
Namun, di atas semua kebutuhan fisik tersebut, hal paling esensial yang harus kita kirimkan ke Flores adalah kepastian bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Luka Flores adalah duka kita bersama sebagai satu bangsa. Ketika fasilitas pendidikan lumpuh dan puluhan ribu anak terpaksa belajar di bawah tenda darurat, moral kemanusiaan kita ditantang untuk ikut mengulurkan tangan.
Gotong royong—jiwa asli bangsa ini—harus didekap erat untuk merajut kembali harapan-harapan warga Flores yang sempat runtuh bersama puing-puing bangunan mereka.
Pemulihan Flores pascagempa dahsyat ini membutuhkan napas panjang, mulai dari rekonstruksi infrastruktur yang aman gempa hingga pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak dan korban selamat.
Oleh karena itu, mari kita konversikan rasa empati di dalam dada menjadi gerakan solidaritas yang konkret. Baik melalui donasi materiil, penyaluran bantuan logistik, maupun gaung doa yang tak putus-putus.
Mari bersama-sama kita temani Flores, kuatkan pundak mereka, hingga senyum dan kedamaian kembali hias tanah tumpah darah yang indah itu. Flores bangkit, kita bersama kalian.
Biodata Penulis:
Aster Bili Bora adalah seorang Sastrawan NTT, saat ini berdomisili di Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.




