Pax Vobiscum para saudaraku ytk. Kristus Tuhan. Yesus memiliki kuasa yang membebaskan kita manusia dari berbagai belenggu kehidupan. Sedangkan kuasa manusia, justru sebaliknya, bukan membebaskan tetapi terkadang menindas atau menguasai orang lain.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 4: 38 – 44, yakni Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain.
Para saudaraku, Yesus masuk ke rumah Simon dan mendapati ibu mertuanya terbaring karena demam. Dengan sentuhan KASIH, Ia membebaskan perempuan itu dari sakitnya. Malam itu, orang-orang berdatangan membawa segala macam penderitaan: tubuh yang lemah, jiwa yang resah, HATI yang terikat oleh kuasa jahat. Yesus tidak menolak, Ia menyembuhkan mereka semua. Namun, ketika orang ingin menahan-Nya agar tetap tinggal, Yesus menegaskan bahwa Ia harus pergi ke kota-kota lain untuk memberitakan Kerajaan Allah. Narasi ini memperlihatkan wajah kuasa Yesus: kuasa yang menyembuhkan, kuasa yang melayani tanpa batas, dan kuasa yang berfokus pada misi Kerajaan Allah. Kuasa-Nya bukanlah kuasa yang menindas, melainkan kuasa yang membebaskan. Ia hadir untuk mengangkat manusia dari sakit jasmani maupun rohani, dari belenggu penderitaan, dan dari kuasa jahat yang merampas kebebasan. Dalam kehidupan modern, manusia sering tergoda menggunakan kuasa dengan cara yang berbeda. Kuasa politik, ekonomi, teknologi, bahkan kuasa dalam keluarga atau komunitas, kerap dipakai bukan untuk membebaskan, melainkan untuk menindas. Kuasa dijadikan alat untuk menguasai orang lain, memperkuat kelompok sendiri, atau melanggengkan kepentingan pribadi. Akibatnya, kuasa kehilangan wajah KASIH dan BERUBAH menjadi belenggu baru yang menekan sesama. Yesus mengingatkan kita bahwa kuasa sejati adalah kuasa yang membebaskan. Kuasa yang menyembuhkan luka, menguatkan yang lemah, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna. Kuasa yang membebaskan adalah kuasa KASIH, bukan kuasa dominasi. Maka, mari kita belajar dari Yesus: apa pun bentuk kuasa yang kita miliki: jabatan, ilmu, harta, atau pengaruh, hendaknya dipakai untuk membebaskan, bukan menindas. Kuasa kita seharusnya menjadi saluran KASIH yang menyembuhkan, menguatkan, dan membangun sesama.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, kuasa yang menindas akan runtuh bersama ego manusia, tetapi kuasa yang membebaskan akan kekal, sebab ia bersumber dari KASIH Allah. Kuasa sejati bukanlah kuasa untuk menguasai, melainkan kuasa untuk membebaskan.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah kuasa yang saya miliki, entah berupa jabatan, ilmu, harta, atau pengaruh, sudah saya gunakan untuk membebaskan dan menguatkan orang lain, atau justru untuk menekan dan menguasai?
2. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana saya bisa menghadirkan KASIH yang menyembuhkan luka sesama, baik luka jasmani maupun rohani?
3. Apakah saya sungguh menempatkan pewartaan Kerajaan Allah sebagai tujuan utama hidup, atau lebih sering terjebak dalam kepentingan pribadi dan kelompok?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, Engkau hadir dengan kuasa KASIH yang membebaskan.
Lepaskan kami dari belenggu sakit, ego, dan kuasa yang menindas. Ajarilah kami memakai kuasa hidup kami untuk menguatkan, menyembuhkan, dan membangun sesama. Amin.




