Menyangkal Tuhan

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menyangkal Tuhan, dengan tidak mengindahkan perintah dan ajaran-Nya pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 12: 8 – 12, yakni pengajaran khusus bagi murid-murid. Para saudaraku, Yesus berkata, “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat – malaikat Allah.” Kalimat ini terdengar keras, tetapi sesungguhnya lahir dari KASIH. Yesus ingin menyadarkan kita bahwa hubungan dengan-Nya bukan hanya soal pengakuan di bibir, melainkan kesetiaan dalam seluruh hidup. Menyangkal Tuhan tidak selalu berarti berkata, “Aku tidak mengenal Yesus.” Dalam kehidupan modern, penyangkalan sering hadir dalam bentuk yang lebih halus. Kita menyangkal Tuhan saat memilih diam terhadap kebenaran karena takut tidak diterima. Kita menyangkal Tuhan saat lebih mengikuti nilai dunia daripada ajaran-Nya. Kita menyangkal Tuhan ketika hidup kita tidak mencerminkan KASIH, kejujuran, kerendahan HATI, dan keadilan yang Dia kehendaki. Petrus pernah menyangkal Yesus karena takut. Namun, ia bertobat dan dipulihkan. Dari Petrus kita belajar bahwa kelemahan manusia masih dapat diampuni ketika ada penyesalan dan kemauan untuk kembali. Sebaliknya, yang berbahaya adalah HATI yang terus-menerus menolak Allah dan menutup diri terhadap karya Roh Kudus. HATI yang demikian tidak lagi mau mendengar, bertobat, ataupun berubah.
Renungan ini mengajak kita untuk melihat diri dengan jujur. Bukankah sering kali kita menyangkal Tuhan melalui cara hidup kita? Ketika demi keuntungan pribadi kita mengabaikan kejujuran. Ketika media sosial dipenuhi kata-kata yang melukai dan menghakimi. Ketika kesibukan membuat kita tidak lagi memiliki waktu untuk berdoa. Ketika kita mudah marah, membenci, dan enggan mengampuni. Ketika iman hanya menjadi identitas, tetapi tidak menjadi pedoman hidup. Semua itu adalah bentuk-bentuk halus penyangkalan terhadap Tuhan. Namun Yesus tidak hanya memberi peringatan. Ia juga memberi harapan. Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan menguatkan, menuntun, dan mengajar kita untuk tetap setia. Kita tidak perlu mengandalkan kekuatan sendiri. Roh Kudus memampukan kita untuk mengaku Tuhan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui hidup yang nyata. Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah cara hidup, sikap, perilaku, tutur kata, dan tindakan saya sungguh mencerminkan Kristus? Ataukah justru ada bagian-bagian hidup yang tanpa sadar telah menyangkal-Nya? Jangan takut untuk kembali kepada Tuhan. Selama HATI masih terbuka untuk bertobat, pintu rahmat-Nya selalu terbuka.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, menyangkal Tuhan sering kali tidak dimulai dari penolakan yang besar, melainkan dari kompromi – kompromi kecil yang terus dibiarkan. Karena itu, jangan hanya mengaku Tuhan dengan bibir, tetapi akuilah Dia melalui cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata, dan cara bertindak setiap hari. Sebab mereka yang setia mengakui Tuhan dalam hidupnya akan mengalami kasih-Nya di dunia ini dan memperoleh keselamatan hidup yang kekal. Jangan pernah menyangkal Tuhan, jika kita ingin menerima keselamatan yang dianugerahkan-Nya. Amin.

Pertanyaan Refleksi

1. Dalam situasi apa saya pernah merasa takut, malu, atau ragu untuk menunjukkan bahwa saya adalah pengikut Kristus?
2. Apakah cara hidup, sikap, tutur kata, dan tindakan saya sehari-hari sudah mencerminkan ajaran Yesus, atau justru tanpa sadar menyangkal-Nya?
3. Langkah konkret apa yang akan saya lakukan minggu ini agar lebih setia mengakui Tuhan melalui perkataan dan perbuatan saya?

Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan๐Ÿ™๐Ÿ™

Doa Singkat

Tuhan Yesus yang baik, ampunilah kami bila dalam hidup sehari-hari kami sering menyangkal Engkau melalui sikap, perkataan, dan tindakan kami. Teguhkanlah iman kami agar berani mengakui Engkau dalam setiap keadaan. Curahkan Roh Kudus-Mu supaya kami setia hidup menurut perintah dan ajaran-Mu, serta menjadi saksi kasih-Mu di tengah dunia. Bimbinglah kami untuk selalu bertobat dan tetap berjalan menuju keselamatan yang Engkau janjikan. Amin.