Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan Anggota DPD RI Perwakilan NTT, Abraham Lianto. Ia menilai keberhasilan mengubah lahan berbatu menjadi kebun produktif dapat menjadi contoh bagi daerah lain di NTT yang memiliki banyak lahan tidur dengan karakter tanah serupa.
“Saya kira ini bisa menjadi contoh buat NTT, karena daerah kita memiliki banyak lahan tidur dengan kontur tanah berbatu yang hari ini terbukti bisa disulap melalui kolaborasi. Dari kegiatan ini, kita bisa mengambil makna penting di tengah isu El Nino dan situasi geopolitik yang memicu kenaikan harga-harga, di mana jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif saat musim kelaparan,” ungkap Abraham Lianto.
Sementara itu, Direktur Utama PT SMJ, Silvester Sudin, menjelaskan bahwa kerja sama dalam Program SAE ini sejalan dengan prinsip 5P yang menjadi dasar pemberdayaan perusahaan di NTT, yakni pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan, dan profil. Menurutnya, kerja sama dengan Lapas Kupang difokuskan pada pembinaan yang memberikan dampak nyata bagi warga binaan.
“Kerja sama dalam Program SAE ini adalah bukti nyata dari prinsip 5P kami, di mana kami fokus pada pemberdayaan yang saling menguntungkan serta memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar warga binaan memiliki keterampilan yang berdampak nyata,” tutur Silvester Sudin.
Keberhasilan panen raya ini menjadi gambaran bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada keamanan, tetapi juga pada pembangunan kualitas manusia.
Melalui sinergi antara Pemasyarakatan, pemerintah daerah, dan pihak swasta, program ketahanan pangan diharapkan terus berlanjut sekaligus menjadi bekal kehidupan baru bagi warga binaan setelah bebas nantinya.(*)




