Penggarap Yang Tidak Tahu Berterima Kasih

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam hidup ini, terkadang mentalitas kita seperti para penggarap kebun anggur yang tidak tahu berterima kasih atau tidak tahu bersyukur atas apa yang kita terima dalam hidup ini. Pada hari ini, Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Yustinus, Martir.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 12: 1 – 12, yakni perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Para saudaraku, Yesus menceritakan kisah tuan kebun anggur yang penuh KASIH, namun dikhianati oleh para penggarap. Mereka bukan hanya menolak hamba-hamba yang diutus, tetapi bahkan membunuh anak yang dikasihi. Kisah ini bukan sekadar tentang penggarap jahat di masa lalu, tetapi tentang mentalitas manusia yang serakah, tidak tahu berterima kasih, dan merasa berhak atas apa yang bukan miliknya. Mentalitas itu masih hidup hingga kini. Kita melihatnya pada koruptor yang menyalahgunakan amanat rakyat. Namun lebih dekat lagi, mentalitas itu bisa ada dalam diri kita: ketika kesehatan, waktu, talenta, dan kesempatan yang Tuhan percayakan, kita pakai hanya untuk diri kita sendiri. Kita memberi Tuhan sisa-sisa, bukan yang terbaik. Bahkan di era teknologi digital, kita mudah terjebak dalam dunia maya, sibuk dengan layar Android, tetapi lupa bersyukur dan sering menomor-duakan Tuhan.Yesus adalah Anak yang dikasihi, yang ditolak dan dibunuh, tetapi bangkit. Batu yang dibuang justru menjadi batu penjuru. KASIH Allah tetap sabar, tetap memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat. Namun kesempatan itu tidak selamanya terbuka. Kebun anggur tetap milik Tuhan, dan suatu hari Ia akan menuntut pertanggungjawaban.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, mari kita periksa HATI: Apakah kita penggarap yang tahu berterima kasih, atau justru penggarap yang serakah? Jangan biarkan mentalitas koruptor rohani menguasai kita. Gunakan kesehatan, waktu, dan talenta terbaik untuk Tuhan. Jadilah murid Yesus yang bersyukur, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan hidup yang berbuah nyata: KEBAIKAN, KASIH, PENGAMPUNAN dan PERTOBATAN. Karena sesungguhnya, kita tidak memiliki apa pun. Semua hanyalah titipan. Dan titipan itu adalah anugerah luar biasa. Tuhan menanti buah dari kebun anggur hidup kita, bukan karena Ia butuh, tetapi karena Ia ingin melihat HATI yang bersyukur. Jangan menjadi penggarap yang tidak tahu berterima kasih. Jadilah penggarap yang SETIA, BERSYUKUR, dan BERBUAH bagi Tuhan. Amin.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku sudah menggunakan kesehatan, waktu, dan talenta yang Tuhan percayakan untuk kemuliaan-Nya, atau justru lebih banyak untuk kesenangan diri sendiri?
2. Dalam era teknologi digital, apakah aku semakin dekat dengan Tuhan, atau malah sibuk dengan dunia maya hingga menomor-duakan Dia?
3. Apakah aku memberi Tuhan yang terbaik dari hidupku, atau hanya sisa-sisa waktu, tenaga, dan perhatian?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang Mahabaik, Engkau telah mempercayakan kesehatan, waktu, dan talenta dalam hidupku. Ampunilah aku bila sering lalai dan tidak tahu berterima kasih. Ajarlah aku untuk menggunakan setiap anugerah-Mu dengan bijak, bukan demi kesombongan diri, tetapi demi kemuliaan-Mu dan pelayanan bagi sesama. Jadikan aku penggarap yang setia, yang selalu bersyukur, dan berbuah bagi Kerajaan-Mu. Amin.