Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Pada hari ini, kita merayakan hari Raya kenaikan Tuhan. Sebelum Yesus terangkat ke Surga, Ia mengutus para rasul-Nya. Ia bersabda: pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Lalu, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada para rasul-Nya. Perintah yang sama ditunjukkan kepada kita semua dewasa ini.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 28: 16 – 20, yakni perintah untuk memberitakan Injil. Para saudaraku, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah…” Pergi bukan sekadar berpindah tempat. Itu adalah panggilan untuk meninggalkan zona nyaman, melepaskan manusia lama, dan lahir sebagai manusia baru. Murid-murid dahulu tidak mengubah dunia lewat mimbar, melainkan lewat hidup yang berbeda: mengasihi musuh, berbagi roti terakhir, tersenyum di tengah penderitaan. KESAKSIAN hidup mereka lebih kuat daripada seribu khotbah. Demikian juga dengan kita dewasa ini. Pergi berarti hidup dengan cara baru: DAMAI di tengah gaduh, JUJUR di tengah kepalsuan, rendah HATI meski punya alasan untuk berbangga. Manusia baru yang BERSAKSI bukan dengan kata-kata, melainkan dengan hidup yang memikat. Dan KESAKSIAN itu lahir dari relasi yang intim dan intens dengan Yesus, dari doa, ibadat, dan ekaristi yang membentuk HATI kita menyerupai-Nya. Sadarilah bahwa
konsekuensi sejati menjadi murid adalah siap untuk diutus. Kita tidak tinggal diam. Kita melangkah keluar, membawa TERANG sebagai manusia BARU: dengan cara hidup, cara bersikap, cara bertutur kata dan cara bertindak yang BARU ke dunia. Dan janji-Nya nyata: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Namun, adakah kita merasakan kehadiran dan penyertaan-Nya?
Pesan Untuk Kita
Lilin yang menyala tidak berteriak, “Aku memberi terang!” Ia hanya diam, namun cahayanya perlahan mengusir gelap, menghangatkan sekitar, dan menuntun langkah orang yang mencari arah. Begitu pula kita. Dekatlah pada Api Kristus. Biarkan Dia menyalakan HATI yang beku, hingga hidup kita memancarkan TERANG tanpa banyak kata. Maka dunia akan bertanya: “Apa yang membuat hidupmu berbeda?” Jawabannya sederhana: Kita pergi, karena kita telah dijumpai. Kita menjadi baru, karena bersama Dia yang bangkit.
Dan terang hidup baru itulah Injil yang kita wartakan. Mulailah hari ini. Dunia tidak menunggu suara lantang, melainkan CAHAYA nyata dari hidup yang dibaharui.
Pertanyaan Refleksi
1. Zona nyaman: Apakah saya berani meninggalkan kenyamanan lama untuk sungguh menjadi murid Yesus yang baru?
2. Kesaksian hidup: Bagaimana sikap dan perilaku saya sehari-hari dapat menjadi pewartaan Injil tanpa banyak kata?
3. Relasi dengan Yesus: Apakah doa, ibadat dan ekaristi saya, sungguh membentuk HATI agar serupa dengan Kristus yang bangkit?
Selamat berefleksi…& Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang bangkit, ajarilah aku untuk berani pergi meninggalkan zona nyaman, agar lahir sebagai manusia baru yang layak BERSAKSI tentang-Mu. Biarlah hidupku menjadi Injil yang terbaca, KESAKSIAN yang memikat HATI banyak orang, hingga mereka pun rindu menjadi murid-Mu. Sertailah setiap langkahku, supaya dalam DAMAI, KEJUJURAN, dan kerendahan HATI, aku memancarkan terang-Mu di dunia ini. Amin.




