Opini  

Saat Nagekeo “Berharga” di Mata Prabowo, Bupati Choang Tunjukkan Kecerdasan Komunikasi Politik

Oleh: Bambang Nurdiansyah / Wartawan ExpoNTT

Bambang Nurdiansyah / foto: istimewa

Persoalan gempa bumi dan dampaknya di Flores tentu bukan lagi sesuatu yang asing bagi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Laporan mengenai kondisi masyarakat terdampak, kerusakan infrastruktur, kebutuhan bantuan, hingga langkah-langkah penanganan pascabencana telah masuk dalam perhatian pemerintah pusat.

Karena itu, kehadiran Presiden Prabowo di Kabupaten Nagekeo pada Rabu, 26 Agustus 2026 sejatinya harus dibaca dalam konteks yang lebih luas.

Presiden datang ke Bumi Flores karena bencana gempa bumi.

Penanganan teknis pascabencana selanjutnya tentu akan melibatkan kementerian dan lembaga terkait. Presiden tidak mungkin menangani seluruh persoalan secara langsung. Namun, sebagai kepala negara, Prabowo memiliki kepentingan untuk melihat sendiri kondisi di lapangan dan memastikan apakah laporan yang diterimanya dari pemerintah daerah benar-benar sesuai dengan kenyataan.

Di titik inilah pertemuan Presiden dengan Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menjadi menarik.

Ketika seorang kepala daerah mendapat kesempatan berkomunikasi langsung dengan Presiden, yang dibutuhkan bukan sekadar menyampaikan keluhan. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca momentum, memahami agenda besar pemerintah pusat, kemudian menghubungkannya dengan kebutuhan konkret masyarakat di daerah.

Bupati Nagekeo tampaknya mampu memainkan ruang komunikasi tersebut.

Dalam kesempatan itu, persoalan Makanan Bergizi Gratis (MBG) tidak sekadar disampaikan sebagai program pemerintah pusat. Bupati mengaitkannya dengan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat Nagekeo.

Cara seperti ini merupakan komunikasi politik yang cerdas.

Bupati tidak datang dengan posisi sekadar meminta. Ia menyampaikan kebutuhan daerah dalam kerangka program unggulan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dengan begitu, pesan yang sampai kepada Presiden bukan hanya, “Nagekeo membutuhkan bantuan.”

Tetapi lebih jauh, “Program pemerintah Bapak sudah memiliki ruang untuk bekerja di Nagekeo, dan daerah ini siap menjadi bagian dari keberhasilan program tersebut.”

Ini adalah cara seorang kepala daerah menjual potensi daerah kepada pemerintah pusat tanpa kehilangan substansi kepentingan masyarakat.

Presiden pun memperoleh kesempatan untuk mencocokkan informasi yang selama ini diterimanya melalui laporan dengan fakta yang dilihat dan didengarnya secara langsung.

Bagi seorang presiden, hal tersebut sangat penting.

Sebab, pemerintahan tidak hanya bekerja berdasarkan laporan tertulis. Presiden membutuhkan validasi dari lapangan. Ia perlu mengetahui apakah program pemerintah benar-benar menyentuh masyarakat, apa yang menjadi kendala, serta apa yang sebenarnya dibutuhkan daerah.

Di sinilah komunikasi antara Presiden dan Bupati Nagekeo menjadi memiliki nilai strategis.

Ketika seorang presiden memberikan perhatian dan merespons kebutuhan yang disampaikan kepala daerah, hal itu menunjukkan bahwa komunikasi tersebut berhasil menemukan titik temu.

Bahkan secara politik, dapat dibaca sebagai bentuk respect Presiden terhadap kepala daerah yang mampu menyampaikan persoalan secara tepat, singkat, dan sesuai dengan arah kebijakan pemerintah pusat.

Seolah ada pesan sederhana, “Saya senang dengan kepala daerah seperti Anda.”

Jika pembacaan ini benar, maka Nagekeo sedang berada pada posisi yang cukup menguntungkan.

Daerah ini bukan hanya dikenal Presiden karena bencana gempa. Nagekeo juga berhasil masuk ke dalam radar pemerintah pusat melalui kebutuhan pembangunan dan program strategis nasional yang dikomunikasikan langsung oleh kepala daerahnya.

Dalam konteks inilah Bupati Simplisius Donatus atau yang akrab disapa Bupati Choang dapat disebut berhasil menjalankan fungsi lain seorang kepala daerah: menjadi marketer bagi daerahnya sendiri.

Seorang bupati memang bukan hanya administrator pemerintahan.

Ia harus mampu menjadi negosiator, komunikator, sekaligus marketer yang menjual potensi dan kebutuhan daerah kepada pemerintah pusat.

Dan kesempatan bertemu langsung dengan Presiden merupakan panggung yang tidak datang setiap hari.

Bupati Choang tampaknya memahami hal tersebut.

Ketika Presiden hadir karena bencana, ia tidak berhenti pada cerita tentang bencana. Momentum itu dimanfaatkan untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan dan mengaitkannya dengan agenda besar Presiden.

Inilah yang membuat komunikasi politik tersebut terasa berbeda.

Bukan sekadar meminta, tetapi menawarkan solusi.

Bukan sekadar menyampaikan keluhan, tetapi menghubungkan kebutuhan daerah dengan program pemerintah pusat.

Bukan sekadar berbicara tentang Nagekeo, tetapi membuat pemerintah pusat melihat bahwa Nagekeo memiliki posisi strategis dalam menjalankan program nasional.

Jika kemudian respons Presiden terhadap apa yang disampaikan Bupati cukup cepat dan positif, maka pesan politiknya menjadi jelas:

Nagekeo sedang “Berharga” di mata pemerintah pusat.

Dan dalam politik pemerintahan, daerah yang mampu dikomunikasikan dengan baik akan lebih mudah mendapatkan perhatian.

Di sinilah ukuran seorang bupati tidak hanya dilihat dari bagaimana ia mengurus pemerintahan di dalam daerah, tetapi juga dari bagaimana ia membawa kepentingan daerah ketika berhadapan dengan pemerintah pusat.

Bupati Choang setidaknya telah menunjukkan satu hal, ketika pintu Istana terbuka melalui kunjungan Presiden ke daerah, ia tahu apa yang harus dibawa masuk ke dalam percakapan. Itulah komunikasi politik.

Dan jika komunikasi tersebut berujung pada perhatian serta respons pemerintah pusat terhadap kebutuhan Nagekeo, maka masyarakat tentu berharap momentum itu tidak berhenti sebagai percakapan politik.

Harapannya sederhana: apa yang disampaikan di hadapan Presiden benar-benar turun menjadi kebijakan, program, dan manfaat nyata bagi masyarakat Nagekeo.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang bupati bukan hanya ketika ia mampu membuat Presiden mendengar. Tetapi ketika apa yang didengar Presiden benar-benar kembali ke rakyat dalam bentuk tindakan nyata.