Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Tuhan. Padahal Tuhanlah yang akan mengadili dan menghakimi kita di akhir Zaman. Tetapi, faktanya kita tidak pernah takut kepada-Nya. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu Biasa XII.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 10: 26 – 33, yakni penganiayaan yang akan datang dan pengakuan akan Yesus. Para saudara/i ku, kita manusia pandai sekali takut pada sesama, tetapi lalai takut kepada Allah. Suami takut pada istri, istri takut pada suami. Anak-anak gentar pada orang tua yang galak. Guru takut pada orang tua murid yang bisa melapor ke polisi, sehingga kesalahan murid dibiarkan. Karyawan takut pada bos, bawahan takut pada atasan atau pimpinan. Hidup pun dibangun di atas fondasi ketakutan pada manusia. Akibatnya: kita jadi penakut, mudah kompromi, kehilangan integritas. Namun kepada Tuhan, kita justru tidak takut. Kita santai berbuat dosa, sering meninggalkan doa, ibadah, dan ekaristi, acuh tak acuh pada firman-Nya. Alasannya? Karena Tuhan tidak kelihatan, karena Ia panjang sabar dan penuh kasih. Kita memanfaatkan, karena Ia Maha Pengampun, dan kemurahan-Nya sebagai izin untuk menyimpang dari jalan-Nya, dan lupa bahwa kasih-Nya seharusnya menuntun pada pertobatan. Padahal, suatu saat kita akan berhadapan muka dengan muka dengan Dia. Paulus menulis: “Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal sebagian, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (1 Kor. 13:12). Saat itu, semua topeng akan runtuh, semua dosa akan terbuka di hadapan-Nya. Yesus mengingatkan: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Matius 10: 28).Takut yang benar kepada Tuhan bukanlah ketakutan ngeri, melainkan hormat yang membebaskan. Ketika kita takut kepada Tuhan, kita berani jujur pada atasan, berani membangun rumah tangga dengan integritas, berani mendidik anak dengan KASIH, berani menjadi guru yang mendidik sungguh-sungguh. Karena kita tahu, penghakiman sejati bukan dari manusia, melainkan dari Allah.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, ketakutan pada manusia membuat kita rapuh. Tetapi takut kepada Tuhan membuat kita teguh. Dunia bisa mengguncang, tetapi mereka yang takut kepada Tuhan tidak goyah. Sebab “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmah, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Mari kita bertobat dari ketakutan yang salah. Kembalilah takut hanya kepada Tuhan, takut yang penuh hormat, yang menuntun pada keberanian, kejujuran, dan hidup dalam kekudusan. Amin
Pertanyaan Refleksi
1. Ketakutan pada manusia sering membuat kita kompromi dan kehilangan integritas. Apakah ada pengalaman pribadi di mana kita lebih takut pada manusia daripada pada Tuhan?
2. Ketakutan pada Tuhan seharusnya membebaskan kita dari ketakutan palsu. Bagaimana kita bisa menghidupi rasa takut yang penuh hormat kepada Tuhan dalam keluarga, pekerjaan, atau pelayanan?
3. Pertemuan muka dengan muka kelak akan membuka semua kepura-puraan. Jika Tuhan menanyakan apakah kita mengaku Dia di depan dunia? Apa jawaban jujur yang bisa kita berikan saat ini?
Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan, ampunilah kami yang sering lebih takut pada manusia daripada pada-Mu. Ajarlah kami memiliki takut yang benar, takut yang penuh hormat, yang menuntun pada keberanian, kejujuran, dan kesetiaan kepada-Mu. Sebab, Engkaulah Tuhan kami, sepanjang segala abad. Amin.



